Jumat, 28 November 2014

For A Better Women’s Future


I am so saddened and grossed out by young women who look like creepy, old aliens because of their new Barbie noses and lips. Is that a smile or a grimace?

Why this campaign?
            
           Sering kita jumpai iklan – iklan yang menunjukkan perempuan cantik itu berciri – ciri bertubuh langsing semampai, berkulit putih, dan berambut panjang. Hal – hal seperti ini membuat banyak perempuan merasa tidak percaya diri terhadap bentuk tubuhnya sendiri. Perempuan berlomba – lomba untuk mendapatkan tubuh sempurna seperti yang dimiliki para model. Dengan kata lain, perempuan tidak menghargai tubuhnya sendiri. Padahal dengan stereotipe yang menganggap perempuan yang cantik adalah langsing ataupun putih, tidak membuat segalanya menjadi lebih baik.

Banyak perempuan yang rela mengubah tubuhnya sendiri melalui operasi demi kesempurnaan, ataupun mengalami anoreksia (gangguan makan yang ditandai dengan penolakan untuk mempertahankan berat badan yang sehat dan rasa takut yang berlebihan terhadap peningkatan berat badan akibat pencitraan diri yang menyimpang) yang menyebabkan kesehatan terganggu. Bukan hanya hal – hal diatas yang membuat campaign ini dibuat, tetapi kurangnya kesadaran perempuan mengenai anggapan bahwa perempuan hanya pemuas nafsu belaka, membuat kami sadar bahwa perempuan harus lebih mencintai dan menghargai dirinya sendiri.



Gambar – gambar yang terkandung didalam games online sering kali juga mengandung pornografi. Bagian penting dari perempuan yang seharusnya tak terekspos, menjadi tontonan bagi pemain games yang didominasi oleh pria. Hal – hal inilah yang membuat campaign ini dilakukan, agar perempuan dimanapun mereka berada, sadar kalau harga diri mereka harus dijaga dan cantik itu tidak harus selalu seksi, langsing, putih, berambut panjang, atau bertubuh tinggi. Perempuan harus mampu mencintai diri mereka apa adanya.

The Ugly Truth


4 dari 5 anak berusia 10 tahun mengatakan bahwa mereka takut menjadi gemuk

42% dari perempuan yang duduk di kelas 1-3 SD berharap mereka memiliki tubuh yang lebih kurus dari apa yang dimilikinya sekarang

50% dari perempuan berusia 9-10 tahun mengakui mereka merasa lebih baik ketika mereka melakukan diet

47% perempuan berusia 5-12 tahun ingin mengurangi berat badan mereka setelah melihat gambar-gambar di majalah.

69% perempuan berusia 5-12 tahun mengakui bahwa gambar-gambar di majalah mempengaruhi mereka tentang gambaran tubuh ideal.

91% perempuan yang sedang menempuh pendidikan S1 menjalankan diet untuk mengontrol berat mereka

1.000 wanita di AS meninggal setiap tahunnya karena anoreksia

Wanita berusia 15-24 tahun memiliki angka kemaktian anoreksia yang 12 kali lebih tinggi dibandingkan penyebab lain dari kematian

90% penderita bulimia adalah perempuan  
 
90% dari penderita gangguan makan adalah perempuan berusia 12-25 tahun



What’s Going On?

Mengerikan rasanya saat mengetahui fakta-fakta tersebut. Ternyata ada banyak perempuan yang masih belum menyadari betapa pentingnya mencintai tubuh sendiri dan menyiksa dirinya untuk mengubah bentuk tubuhnya menjadi sesuatu yang bukan dirinya.

Melalui kampanye ini, kami ingin membangun kesadaran sekaligus mengajak semua perempuan (terutama perempuan remaja berusia 15-24 tahun) untuk semakin mencintai dirinya sendiri. Setelah memiliki kesadaran untuk mencintai dirinya sendiri, perempuan dapat bergerak untuk berfokus pada potensinya dan mengabaikan stereotipe tentang perempuan cantik.

Mencintai diri sendiri dapat dilakukan dengan banyak cara. Cara yang paling sederhana adalah berhenti berusaha mengejar standar kecantikan yang ditampilkan media massa. Perempuan yang cantik bukanlah perempuan bertubuh langsing nan semampai atau berkulit putih. Perempuan yang cantik adalah perempuan yang mencintai dirinya sendiri dan melakukan hal-hal positif untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.

What’s Next?
Tentunya mencintai diri sendiri tidak boleh hanya diwujudkan dalam bentuk wacana semata. Harus ada sebuah tindakan nyata yang mendorong lebih banyak lagi perempuan untuk mencintai dirinya sendiri.

Yuk, kita bergerak bersama untuk menggugah perempuan-perempuan di luar sana untuk semakin mencintai dirinya sendiri.



Here are some things to DO :
Post link blog plus video (link :  https://www.youtube.com/watch?v=LbMsepib8IU&feature=youtu.be) ini di semua media sosialmu (twitter, facebook, path, instagram). Pastikan bahwa lebih banyak perempuan membaca kampanye positif ini. :D

Upload foto tiga teman perempuanmu dan sertakan tiga hal positif (yang paling menonjol) mengenai dirinya di instagram. Jangan lupa tantang dia untuk mengikuti jejakmu. :D

Sebarkan quotes dan gambar positif mengenai perempuan dan citra dirinya agar semakin banyak perempuan yang terbuka matanya dan berhenti menyiksa dirinya sendiri. :)


Big things start from small things
Kalau kamu percaya bahwa hal-hal besar dimulai dari hal-hal kecil nan sederhana (yang sering kali luput dari pandangan), ayo lakukan hal-hal sederhana di atas untuk masa depan perempuan yang lebih baik.





With love for a better women’s future,

Novilia Kharisma    2013 022 016

Bella Bernadette    2013 022 017


Related Post :

http://jaringnews.com/kbr/asia-calling/49861/di-india-ada-kampanye-bangga-berkulit-gelap

http://www.kumpulancerita.net/dari-mencukur-bulu-ketiak-hingga-kampanye-kembali-natural.html

http://female.kompas.com/read/2012/02/02/21542587/Anda.Bisa.Mencegah.dan.Stop.Kekerasan

http://wolipop.detik.com/read/2012/03/01/143424/1855528/234/riset-44-wanita-tidak-bahagia-tanpa-make-up

Rabu, 12 November 2014

Ketika Tuhan Berbeda Makna

“Manusia tidak hidup sendirian di dunia ini tapi di jalan setapaknya masing – masing. Semua jalan setapak itu berbeda – beda namun menuju ke arah yang sama, mencari satu hal yang sama, dengan satu tujuan yang sama yaitu Tuhan.”
-Rika-
Munculnya sekumpulan tanda tanya di benak penikmat film mungkin adalah benang merah paling esensial yang berkaitan dengan judul film. Pertanyaan klise seperti “Masih pentingkah kita berbeda?” dan “Masih pentingkah kita mempermasalahkan perbedaan tersebut?” merupakan tanda tanya yang terus digali sepanjang film berdurasi 100 menit ini.

Alunan cerita dimulai dengan lagu merdu khas gereja berjudul Gita Sorga Bergema. Masjid, gereja, dan vihara ditampilkan secara bergantian sementara musik yang sama masih terus mengalun. Permulaan film yang menceritakan tiga kisah berbeda ini dimulai dengan peristiwa penusukan Pastur Albertus oleh orang yang tak dikenal di depan gereja. Seperti fakta yang kerap kali muncul ke permukaan, pemerintah (melalui wali kota Semarang) mengklarifikasi kejadian tersebut sebagai murni kriminalitas walaupun muncul spekulasi bahwa peristiwa tersebut terjadi atas nama perbedaan.


Selanjutnya, barulah Hanung Bramantyo dengan gamblang mengantarkan penonton ke alur cerita yang sesungguhnya. Ada Tan Kat Sun (Hengky Solaiman), pemilik restoran Chinese Food dan Hendra (Rio Dewanto), anak pemilik restoran yang mengutamakan egonya. Ada pula Menuk, pegawai restorann chinese food yang selalu berhijab dan menjalani hidupnya dengan benar. Ditampilkan pula kedekatan antara Rika (Endhita), yang baru saja bercerai dan berubah haluan menjadi kristiani, yang terlibat hubungan akrab dengan Surya (Agus Kuncoro), aktor figuran yang belum juga meniti tangga karirnya menjadi pemeran utama.

Penonton boleh jadi kagum dengan kecermatan Hanung Bramantyo dalam mengangkat fakta-fakta yang lebih baik dihindari oleh sebagian besar orang. Keterkejutan awam dimulai saat Hendra yang bertengkar mulut dengan sekelompok pria berpeci yang tengah berjalan menuju masjid. Stereotipe yang mengkaitkan terorisme dengan agama tertentu muncul dalam caci maki yang saling dilontarkan. Belum lagi kata “sipit” yang memekakkan telinga etnis Tinghoa, yang dihadirkan untuk menggambar realitas sosial yang sesungguhnya.

Perbedaan menjadi semakin nyata (jika belum layak disebut runcing) tatkala seorang ibu berhijab yang membatalkan niatnya untuk makan di restoran chinese food yang menjual makanan yang kerap disingkat menjadi B2. Walaupun pemilik restoran sudah memisahkan semua peralatan masak (dari panci hingga sendok garpu), tergambar jelas adanya ketidakpercayaan antara ibu berhijab dengan pemilik restoran yang bermata sipit.

Kabar burung yang seringkali menyebar di kalangan masyarakat ternyata juga menganggu pikiran Abi, bocah kecil yang merupakan buah hati Rika. Abi merasa segan karena banyak tetangganya yang mengatakan bahwa ibunya kini tak akan mengijinkannya lagi untuk menginjakkan kaki ke masjid. Secara sederhana, Rika (dibantu oleh Menuk) menjelaskan bahwa Abi tidak perlu khawatir karena Rika akan selalu siap untuk mengantar Abi ke masjid.

Tak hanya dianggap sebagai kafir karena berpindah agama, Rika juga harus menghadapi gosip miring yang kerap menerpa wanita yang baru saja bercerai. Berbagai spekulasi dari orang yang sebenarnya tak berkepentingan dalam hidup Rika memunculkan konflik yang semakin panas antara Rika dengan Abi. Hal ini jelas menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi di kalangan masyarakat yang masih menganggap perceraian sebagai hal yang tabu dan menghakimi orang yang bercerai (apalagi pindah agama) sebagai orang yang paling bersalah di dunia, seolah dirinya sendiri adalah malaikat yang tak punya dosa.

Selain masalah perbedaan agama, perbedaan kedudukan antara laki-laki dan perempuan juga ditampilkan dengan lugas (namun tetap indah) melalui pasangan suami istri Menuk  dan Soleh. Stereotipe bahwa perempuan tidak berhak memiliki pekerjaan yang lebih mapan ditunjukkan saat Soleh meminta Menuk untuk menceraikannya.
Alasannya sederhana, Soleh merasa tak percaya diri tatkala Menuk memiliki penghasilan yang tetap sekaligus tampil sebagai istri yang soleha, ibu yang penuh cinta kasih, dan pekerja yang tekun. Sementara itu, Soleh tak kunjung memperoleh pekerjaan yang dapat menghasilan lembaran uang.

Walaupun perbedaan tersebut kerap memancing konflik, Hanung tetap berupaya memberikan gambaran ideal mengenai relasi yang seharusnya terbentuk antara pihak yang berbeda agama dan ras. Hal ini ditunjukkan dengan rutinitas istri Tan Kat Sun sembahyang menggunakan hio sementara Menuk bersujud di atas sajadah, tepat di samping tempat istri Tan Kat Sun menancapkan hio pada wadah abu.

Film menjadi semakin nyata karena Hanung menampilkan perayaan besar beberapa agama di Indonesia. Waktu yang terus bergulir menjadi indah dengan adanya berbagai perayaan tersebut.

Tentunya film ini masih meninggalkan sejumlah tanda tanya besar. Apakah mungkin seorang pemeluk kristiani yang masuk kategori kelas menengah “rela” menghabiskan sisa hidupnya bersama aktor figuran beragama Islam yang tak jelas masa depannya? Masih adakah Ustad sebijaksana Ustad Wahyu, yang tak melarang pemeluknya untuk menginjakkan kaki di tempat ibadah lain? Apakah mungkin seorang yang tak mempercayai Yesus sebagai juru selamatnya diperbolehkan memerankan karakter Yesus yang merupakan pusat perayaan keagamaan?

Biarlah tanda tanya tersebut tersimpan dalam masing-masing benak karena toh Hanung tak berusaha menggurui dengan memberikan solusi yang terbaik. Pertanyaan yang penting untuk direnungi sekarang mungkin adalah

Masih pentingkah kita berbeda?

Masih pentingkah kita mempermasalahkan perbedaan tersebut?



Cheers,
Bella (2013 022 017)




Selasa, 23 September 2014

Are you afraid of being incontestably?

No one has ever become poor by giving 
                                                          – Anne Frank

               
Nowadays, small and middle businesses (which famous as UKM) has become popular among people. Most of youngster don’t imagine themselves as someone who will go to the office from 8 am to 5 pm after they finish college. Youngster start to think how to create and expand their own business.

Unfortunately, this positive trend doesn’t followed by continous training or good seminar which help people to start their own business. And here is Puguh Priyo Sudibyo. He is an ordinary man with big passion of small and middle business (UKM). Fod god sake, he never thought that he will go this far in giving training and seminar for other people.

It started when the man who became a master of biology in Airlangga University led a talkshow about UKM in Probolinggo at 2006. He didn’t only asking a questions to the speakers, but he also tried hard to understand the dialogue. After the talkshow finished, he concluded that UKM has a big chance to be developed. Unfortunately, there was no feasible medium to learn and expand. He looked around and found that most of training was given only at the beginning of UKM establishment. There was no mechanism that could help the UKM so that they would survive and expand. The man who was born at December 10th 1965 was puzzled because the government only trying to make the new UKM without a sufficient training to explain how the UKM should be going on.

At that time, Puguh was working as a musical instrument seller in Probolinggo. He also had 13 branch of water filter service in East Java. At the same year (2006), he started to collect people who attend UKM talkshow because he believe that they had the same insterest with him. They gathered as a small business group name Le Ollena. Le Ollena means souvenir (oleh-oleh) in Madura language. Le Ollena then created many products that comes from fish. He chose fish as a staple of his product because Probolinggo is placed near to the north coast of East Java. Together with this group, Le Ollena has many products started from kerupuk ikan, abon, and ikan krispi. Then the products develop into manggo syrup and oyster chips. Finally, their revenue reach a fantastic number which is one hundred millions every month.

Unfortunately, Puguh was not 100% satisfied with his UKM achievement. Why? Because he could see that there are still many UKM who don’t know how to maintain a sustainable business. He started to give a seminar and training for other people. Not only that, Probolinggo City Government also invited him to give a training for many UKM. In his training, he doesn’t only tell people what to do at the early stages, but he also gives a clue how to maintain and develop the business. He doesn’t want to tell people what kinds on product to be imitated whereas he give people a knowledge to create and modified the product. He also attend many UKM training given by successful business owner in order to develop himself more. He always update his training material after he follow a good seminar. He has a big heart to share a knowledge with other people.

He saw that many UKM don’t pay enough attention for product packaging. Usually UKM only focus on product development such as the taste and the quality. Unfortunately, in this modern world, people pay so much attention to the packaging. The price of product has a big corellation with the packaging. Because of this problem, Puguh give a training about the product packaging so that the price of the product will be increase.


Besides the formal training, he accepted many people who want to start their own business. Even some people stay some nights in his house to learn the way he run his UKM. Those people not only come from Probolinggo, they also come from other cities. They come “only” to meet him and listen to Puguh’s words.  For those services, Puguh never take any payment. He do that things only to help other people.

Puguh has an interesting principle. He believe that if we facilitate other’s need, we will find an easier way to finish our problems. He is not afraid that his “student” will expand their business better than him. For him, everyone has their own path. He stated that many small success stories will give a significant impact to Indonesia’s economic growth.


As personal, I really impressed with Puguh’s believe and action. Not to say, many people are afraid to share their “secret” in creating a good business. They are worried that other people will do better than themselve. Puguh is an exception for that case. He share his knowledge to other people for free. He has a big heart to contribute something positive for this nation. He doesn’t wait other people to do something instead he pushes himself to create a better business environment for everyone else.



Big things start from small things.
And it all starts from us.


With love,
Bella Bernadette
2013 022 017




Selasa, 09 September 2014

Ketika Florence Mengguncang ISIS


Apa sih yang terpikirkan di benak kita tatkala mendengar kata media sosial? Sebagian besar dari kita mungkin mulai mebayangkan ikon dari twitter, facebook, path, instagram, dan masih banyak lagi. Namun, jika ditanya mengenai kasus terkini yang berkaitan dengan media sosial, ingatan kita pun melayang pada sosok Florence Sihombing. Namanya yang tak pernah terdengar sebelumnya, kini diperbincangkan oleh khalayak luas. Sosoknya yang tak pernah menarik perhatian, kini ramai disorot media massa. Identitasnya yang tak pernah mencuat, kini diserbu oleh keingintahuan masyarakat mengenai dirinya.

Florence Sihombing tentu tak pernah bermimpi (bahkan membayangkan pun tidak) bahwa sosoknya akan menjadi trending topic di media sosial berlambang burung berkicau. Tepatnya pada Kamis, 28 Agustus 2014, hashtag #usirflorencedarijogja menempati urutan teratas trending topic dunia. Peristiwa ini tentu menjadi saksi bisu bahwa kasus mahasiswa S2 fakultas hukum UGM ini tak hanya menjadi magnet bagi masyarakat Yogyakarta, melainkan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Kisah di balik kasus Florence

Kasus ini bermula saat mahasiswi UGM tersebut tengah mengantri BBM di salah satu SPBU di Yogyakarta. Melihat panjangnya antrean motor,Florence mengarahkan motornya ke antrean mobil untuk membeli Pertamax. Sayangnya, Florence tak dilayani oleh petugas SPBU. Tak hanya itu, ia juga mendapatkan teguran dari aparat keamanan yang sedang berjaga di SPBU. Untuk meluapkan kekesalan yang menumpuk, Florence pun melontarkan sejumlah makian terhadap kota Yogyakarta melalui akun pathnya.

Efek bola salju ternyata berlaku pula untuk makian yang dilontarkannya. Entah bagaimana, makian tersebut menyebar dari satu akun ke akun lainnya. Padahal, media sosial path memiliki tingkat privasi yang lebih baik dibandingkan media sosial lainnya. Akibat efek bola salju tersebut, Florence pun harus menjalani proses hukum dan menghadapi sidang komite etik fakultas hukum UGM. Tragisnya, ia juga sempat ditahan dan diancam hukuman 6 tahun penjara.

Apa pendapatmu?

Peristiwa ini tentu saja memancing beragam reaksi dari berbagai lapisan masyarakat. Ada yang mendukung hukuman penjara bagi Florence. Namun ada juga yang mengutuk keputusan tersebut. Kubu yang mendukung hukuman penjara bagi Florence umumnya menyatakan bahwa ucapan Florence di media sosial adalah hinaan pahit bagi kota yang dikenal sebagai tempat berkumpulnya pelajar dari seluruh Indonesia. Lebih jauh lagi, ucapan Florence dianggap mampu memecah rasa persaudaraan dan menimbulkan kecemasan di kalangan masyarakat Yogyakarta.

Semua orang tentu berhak menyatakan opininya mengenai sebuah kasus. Lebih jauh lagi, semua orang juga berhak (dan bertanggungjawab) untuk menggunakan akal sehatnya dalam menilai suatu permasalahan sosial.

Tentu tak ada yang bisa mengelak bahwa Florence terbukti secara sah melontarkan ucapan bernada hinaan kepada Kota Yogyakarta. Namun, hinaan yang dilontarkan oleh masyarakat terhadap sebuah kota tentu bukanlah hal baru. Coba saja tengok timeline twitter di hari Senin. Pasti kita akan menemui tweet yang mengeluhkan segudang permasalahan di Jakarta. Mulai dari kemacetan di jalan raya, rendahnya mutu pelayanan transportasi hingga betapa tidak layaknya kota ini disebut sebagai Ibu Kota Indonesia (apakah hal ini bukan merupakan hinaan sekaligus tamparan untuk Kota Jakarta?)
Selanjutnya, Florence dianggap memecah rasa persaudaraan dan menimbulkan kecemasan di kalangan masyarakat Yogyakarta. Di sinilah mungkin letak “kehebatan” seorang Florence Sihombing. Kasusnya yang tak dapat dikategorikan sebagai tindakan kriminal mampu mengusir permasalahan lain (yang lebih penting) dari tangga popularitas. Rasanya, ISIS pun patut melakukan “protes” kepada masyarakat luas karena masyarakat tampaknya lebih mengkhawatirkan ucapan Florence (yang sebenarnya tidak memprovokasi siapa pun untuk menentang kedaulatan NKRI) dibandingkan ISIS yang jelas-jelas merangkul masyarakat untuk membuat Negara Islam sendiri.

Aneh rasanya jika sejumlah orang rela berdiri di jalan untuk mendukung penangkapan Florence Sihombing, sementara hanya segelintir orang yang menaruh perhatian pada bahayanya pergerakan ISIS di bumi pertiwi. Aneh rasanya jika polisi lebih rela mengeluarkan keringatnya untuk menangkap Florence (yang tidak menunjukkan tanda perlawanan sama sekali) dibandingkan mengejar keberadaan ISIS yang menggeliat lincah tanpa disadari. Aneh rasanya jika kita (sebagai mahasiswa) mengetahui setiap detail kasus Florence Sihombing, tetapi tidak menaruh minat terhadap pergerakan ISIS yang diam-diam merajalela.

Tentu tidak seorang pun mengatakan bahwa perbuatan yang dilakukan mahasiswi UGM tersebut adalah tindakan yang tepat dan bijaksana. Namun, semua tentu menyadari bahwa masih ada begitu banyak permasalahan sosial lain (yang tentunya lebih penting karena menyangkut denyut nadi kehidupan masyarakat) yang harus diselesaikan. Sayang rasanya jika kita, pemerintah, dan masyarakat hanya membuang-buang energi untuk sebuah kasus “sepele” namun membiarkan kasus kelas kakap menggantung tanpa ada penyelesaian.

Gambar diambil dari


With love, 
Bella Bernadette
2013 022 017










Minggu, 20 Oktober 2013

It Hurts But …

Notes : Heii, people! Long time no see! Duh, maafkan sikapku yang tidak konsisten dalam menghasilkan tulisan. *sujud mohon maaf*. Btw, tulisan ini terinspirasi dari novel Refrain dan Remember When karya Winna Efendi. The novel is definitely perfect ! Maka, jadilah tulisan ini sebagai bentuk kekagumanku kepada untaian kata ala Winna Efendi *walaupun kadar kesempurnaan tulisan ini masih jauh dari karya Winna Efendi*.. Pssst, tulisan ini dibuat BUKAN berdasarkan pengalaman pribadi penulis yah. *mengkonfirmasi sebelum ada yang bertanya. hehehe*



“You know you're in love when you can't fall asleep because reality is finally better than your dreams.” –Dr. Seuss
Siapa sih yang ga pernah falling in love with someone? Semua orang pasti pernah jatuh cinta. Entah itu dengan seseorang yang baru saja dikenal, teman yang tidak pernah kita duga sebelumnya, kakak kelas yang kita kagumi semenjak dulu, atau *ups!* sahabat yang selalu ada buat kita. Memang sih, jatuh cinta adalah perasaan yang sangat istimewa karena terjadi melalui mekanisme yang sulit dijelaskan secara logika. Namun, jangan salah, jatuh cinta juga bisa membuat perasaan kita terjun bebas layaknya roller coaster. Apalagi kalau kita jatuh cinta pada seseorang yang sudah menganggap kita sebagai sahabat atau (lebih parahnya lagi) kakak-adik-tak-sedarah. *ouch*

Tak heran, perasaan serba salah menghantui hari-hari kita. Perasaan kita pun terbang layaknya balon udara tak bertuan *hehehe. Agak lebay yah bahasanya*. Saat mentari masih malu-malu menampakkan sinarnya, senyum kita sanggup mengalahkan cerahnya mentari. Apalagi kalau bukan hanya karena ucapan “good morning” (plus emoticon smile) super standar yang diucapkan oleh sahabat yang kita taksir. Sementara  guru masih sibuk mengoceh tentang rumus trigonometri, otak kita sudah sibuk menyusun rencana akhir pekan bersama dia. Saat bel istirahat berbunyi, langkah kita langsung bergegas. Kemana lagi kalau bukan ke tempat favorit kita dan dia.

Jangankan orang lain, kadang aja kita merasa heran. Kok bisa sih kita naksir dengan sahabat kita sendiri? Padahal, kita hafal betul semua sifat “malaikat” dan “iblis”nya. Namun, kalau dipikir-pikir, ga aneh juga sih kalau kita jatuh cinta sama sahabat yang satu ini. Bagaimana ga jatuh cinta kalau sahabat adalah orang yang rajin “absen” melalui ucapan good morning dan good night? Apalagi, karena sudah mengenal satu sama lain, kita bisa bebas menceritakan apa pun padanya, mulai dari hal yang super ga penting hingga hal-hal yang menguras pikiran kita. Belum lagi, sms darinya yang sanggup membuat kita tersipu-sipu malu. Pokoknya, dia selalu menciptakan hujan perhatian yang sukses menumbuhkan bibit-bibit cinta di hati kita *hehehe. Kalimatnya cieee bgt*.

Pertanyaannya sekarang, apakah sahabat juga merasakan perasaan yang sama dengan kita?

Awalnya sih kita benar-benar clueless untuk menjawab pertanyaan tersebut. Ada kalanya, sikap protektif sahabat yang selalu ingin melindungi kita membuat kita berpikir bahwa ia pun memiliki perasaan yang sama. Namun, tak jarang, ejek-ejekan seperti “mana mungkin sih gue naksir sama lo?!” atau pertanyaan seperti “kita akan selalu jadi sahabat untuk selamanya kan?” membuat jawabannya menjadi ambigu. Situasi seperti ini tentu membuat perasaan kita jadi ikut tak menentu. Senang sih rasanya kalau dia selalu meluangkan waktunya untuk kita, tapi kita tentu bertanya-tanya. Apakah ia selalu meluangkan waktunya karena punya perasaan lebih atau memang karena dia menghargai kita sebagai sahabat? *ups*

Kalau sudah begini, tak ada cara lain selain membiarkan waktu yang menjawabnya. *tsaah*

Anehnya, akhir-akhir ini, sahabat sering menghilang bagaikan ditelan bumi. Sosoknya lenyap dari peredaran tanpa alasan yang jelas. Tanda tanya pun memenuhi sel-sel otak kita. Kemunculan sahabat setelah sekian lama menghilang tak lantas mengentaskan pertanyaan yang memenuhi benak kita. Alasan seperti padatnya kegiatan di luar sekolah, banyaknya tugas yang harus dikerjakan, ulangan yang menumpuk, hingga kesibukannya berlatih basket tak memuaskan keingintahuan kita. Sebenarnya, tak ada yang salah dengan alasan tersebut, tapi … Alasan itu tak pernah menjadi “alasan” sebelumnya. Maksudnya, kalaupun dulu ia punya banyak janji hang out dengan teman segengnya, ia selalu punya waktu untuk mengabari kita. Kalaupun dulu ia sibuk mengerjakan soal-soal stoikiometri, ia masih bisa mengirimkan pesan singkat, sekadar untuk mengatakan “aku belajar dulu yah.”

Perasaan kita pun menjadi bercampur aduk. Sedih karena perubahan terjadi ke arah yang tidak kita inginkan. Kecewa karna waktunya berubah menjadi komoditas yang mahal dan langka. Marah karena tidak tahu harus berbuat apa. Sebagai sahabat, seolah ada peraturan tertulis bahwa ia tak punya kewajiban untuk selalu mengabari kita *benar juga sih! Hehehe*. Yaps, kita adalah orang yang selalu ada untuknya, orang yang selalu siap mendengarkan ceritanya, orang yang mau memahami kesulitannya, tetapi tidak punya “hak” untuk mengerti isi hatinya. *jleb banget yah. Hehehe*


Sampai suatu hari, sahabat meminta pendapat kita mengenai … *jreng jreng jreng* *suasana misterius* ORANG YANG DITAKSIRNYA. *dibaca sekali lagi, ORANG YANG DITAKSIRNYA* Duh, rasanya kita ingin (gantian) menghilang ditelan bumi. Apalagi saat sahabat meminta kita untuk menemaninya mencari kado spesial untuk orang yang mengisi relung hatinya. Ingin rasanya kita marah *tapi marah sama siapa?!* dan mengacuhkan pertanyaan sahabat, tapi … Kalau kita bersikap begitu, sahabat pasti akan heran dan bertanya-tanya tentang sikap kita yang berubah 180 derajat.

Akibatnya, kita pun terpaksa mendengarkan cerita sahabat mengenai cewek yang sedang ditaksirnya. Perasaan kesal pun berlipat ganda karena sahabat menceritakan semua perasaannya secara blak-blakan tanpa sensor. Semua detail dari mulai pandangan pertamanya hingga akhirnya ia ingin menyatakan perasaan pada cewek itu diceritakan non stop. Keki sih, tapi kita sendiri tak tahu apa yang bisa (dan harus) dilakukan.

Penyesalan pun memenuhi benak kita. Kenapa sih kita harus berkenalan dengannya dan ditempatkan pada posisi sahabat? Masalahnya, kalau kita ga pernah menjadi sahabat dia, mungkin kita juga ga akan pernah jatuh cinta sama dia. Kenapa sih hubungan kita dan dia stuck pada tingkat sahabat? Kenapa sih kita (seolah) tidak bisa mengungkapkan perasaan karena takut ia menjauh dari kehidupan kita? Pokoknya, ada banyak sekali pertanyaan “kenapa” yang rasanya tidak cukup dituliskan dalam selembar kertas folio *hehehe*.

So, the question is what’s next? Kita punya seribu alasan atas kekecewaan yang melingkupi hati kita, tapi kita juga seharusnya bersyukur. Mengapa? Karena kita diberi kesempatan untuk mendapatkan jawaban yang selama ini kita cari. Mungkin jawabannya bukan jawaban yang kita inginkan, tetapi jawaban itu mendorong kita untuk membuka mata. Kita tak perlu lagi menghabiskan waktu untuk menunggunya membalas sms kita. Tak ada lagi momen yang terbuang untuk sekadar menunggu ucapan good morning yang super standar darinya. Enaknya lagi, perasaan kita tak akan meluncur bebas layaknya roller coaster hanya karena sikapnya yang “hot and cold” seperti lirik lagu Katy Perry.

Bohong jika kita mengatakan bahwa kita baik-baik saja saat mendengar berita “bahagia” untuk sahabat kita. It hurts, but … Seperti yang sudah diungkapkan di atas, kita punya kesempatan untuk menyelamatkan waktu kita dari perasaan galau, ambigu, dan tak menentu. Tak ada lagi detik yang terbuang sia-sia untuk memikirkan orang yang bisa lenyap ditelan bumi tanpa kabar yang jelas. Tak ada lagi menit yang terpakai sia-sia untuk menduga-duga apa yang sedang mengisi pikiran orang itu. Tak ada lagi jam yang berlalu sia-sia untuk menunggu kabar darinya. Tak ada lagi hari-hari yang dilewati dengan penuh kebingungan mengenai perasaan kita.

So, what are we waiting for? Let’s get up and open your eyes widely ! :D


With love,

Bella




Sabtu, 07 September 2013

(Benarkah) Tidak Ada Pilihan yang Salah


Tanpa kita sadari, setiap detik kehidupan dimulai dengan pilihan yang diikuti proses seleksi dan menjatuhkan pilihan. Ada kalanya pilihan itu terasa mudah dan tak banyak menuntut pertimbangan. Namun, tak sedikit pilihan yang sanggup membuat kening kita berkerut dan bertanya-tanya “benarkah pilihan yang saya ambil?”

Walaupun sudah mendengar banyak sekali petuah, memilih kuliah beserta jurusannya tak pernah menjadi hal yang mudah (terutama bagiku. ;D). Pertanyaan yang memenuhi benak tak sekadar “mau kuliah dimana?” atau “mau mengambil jurusan apa?”. Lebih dari itu, prospek kerja di masa depan dan relevansi jurusan yang diambil dengan profesi impian turut menjadi pertanyaan yang tak mudah untuk dijawab.

Masa SMA, yang digadang-gadang sebagai  momen pencarian jati diri, menyadarkanku akan beberapa hal. Setelah sekian lama mendeklarasikan matematika sebagai pelajaran favorit (semenjak SD sampai SMP), aku berbalik arah untuk menjauhinya. Rumus trigonometri dan soal peluang tak lagi menarik minatku. Anehnya, berita politik di media massa sanggup membuatku bangun lebih pagi untuk sekadar melahap tulisan di koran. Tak hanya membaca, menulis turut menjadi aktivitas yang tak pernah lepas dariku. Padahal selama ini, tak pernah terpikir dalam benakku untuk belajar menulis dari novel karya Winna Effendi yang sering menemani hari-hariku.

Hal-hal “ajaib” yang selama ini terpendam dan akhirnya kutemukan tentu saja membawa perubahan terhadap orientasi masa depanku. Dulu, saat temanku bertanya mengenai jurusan kuliah yang menarik hatiku, dengan tegas aku akan menjawab “FMIPA”. (hehehe. Kok bisa yah dulu berpikir untuk ambil jurusan ini?! :P). Sekarang, tak sedikit pun kakiku melangkah menuju ke sana. Ada pun jurusan yang ingin kutekuni adalah Ilmu Komunikasi, Kriminologi, dan Hukum.  Hal-hal “ajaib” itu rupanya sukses mengubah caraku menapaki masa depan.

Pertanyaan selanjutnya terasa lebih berat untukku, yaitu “mau kuliah dimana?” Sejak awal, aku bertekad untuk memasuki gerbang kuliah tanpa perlu mengikuti tes formal. Aku pun mencari informasi mengenai universitas yang membuka jalur undangan tanpa tes dan ke sanalah kakiku melangkah. Mengirimkan rapor, menunggu pengumuman, dan akhirnya diterima merupakan proses yang berakhir menyenangkan untukku. Kupikir, sudah tak ada lagi waktu yang tersita untuk melamun dan bertanya-tanya mengenai masa depan.

Tiba-tiba saja, papa memintaku untuk mengikuti tes masuk Perguruan Tinggi Negeri. Tak pernah terbayang dalam anganku untuk ikut bergabung bersama ratusan pelajar lainnya guna memperebutkan kursi yang terbatas. Rencana liburan panjang seusai Ujian Nasional yang sudah kurencanakan matang-matang berubah drastis. Tak ada waktu seharian penuh untuk berbagi kisah dengan novel Gagas Media kesukaanku.  Kurva supply dan demand, lapisan batuan, dan jenis agen sosialisasi mengisi waktu pagiku. Materi baru dalam jumlah banyak dan harus diselesaikan dalam waktu singkat meningkatkan pesimismeku. Ada banyak sekali pelajar yang sudah mengincar PTN dan mempersiapkan diri jauh-jauh hari. Sementara aku hanyalah anak IPA yang belum pernah berkenalan sedikit pun dengan kurva ekonomi.

Pada hari pengumuman, jantungku berdetak lebih cepat walaupun otakku sudah berulangkali memperingatkanku untuk bersikap realistis. Aku pun melonjak kegirangan tatkala aku dinyatakan lolos ke sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung dengan jurusan pilihan Ilmu Komunikasi. Kupikir, masa depan kuliahku sudah terpeta dengan jelas. Pergi ke Bandung dan memulai kehidupan sebagai mahasiswa.

Faktanya, menentukan pilihan yang menyangkut masa depan memang tak pernah mudah. Aku lupa memikirkan sebagian lain dari hidupku (selain kehidupan perkuliahan). Jika aku pergi ke Bandung, ada beberapa hal yang (mau tak mau) harus kulepaskan. Tak ada hari Jumat yang terasa menyenangkan karena ada les piano. Kesempatanku untuk mengajar di sebuah sekolah gratis pun mungkin akan lenyap. Belum lagi kegembiraan saat mengajar sekolah minggu yang tak akan kujumpai lagi. Sementara di satu sisi, (menurut banyak orang) prospek kerja mahasiswa lulusan PTN lebih luas dibandingkan mahasiswa non PTN.



Di tengah kebingungan, ada satu kalimat sederhana yang dilontarkan salah seorang temanku tatkala aku menceritakan permasalahanku. “Tak ada pilihan yang salah, yang penting, jangan menjadikan pilihan itu menjadi salah”. Ia tidak memberikan opini yang bersifat menghakimi, seperti pendapat bahwa lulusan PTN memiliki prospek kerja yang lebih luas dibandingkan mahasiswa non PTN. Ia hanya memintaku untuk membuat daftar peluang yang kudapatkan dan kesempatan yang kulepaskan sebagai konsekuensi dari masing-masing pilihan.

Tentu saja masalahku tidak langsung terpecahkan seusai pertemuan singkat itu. Eksekusi pilihan tetap berada di genggamanku. Begitu juga tanggungjawab yang harus dijalankan sebagai konsekuensi dari keputusanku. Namun, setidaknya, aku menjadi lebih percaya diri dengan pertimbangan yang sudah kupikirkan masak-masak.

Selama ini, banyak orang mengatakan bahwa tak ada pilihan yang salah dalam roda kehidupan. Jujur saja, aku tak begitu mempercayainya. Logikaku mengatakan, jika tak ada pilihan yang salah, mengapa tak sedikit orang yang tidak bisa berada dalam puncak kesuksesannya? Jika tak ada pilihan yang salah, mengapa banyak mahasiswa yang menyesali jurusan yang dipilihnya semenjak awal? Jika tak ada pilihan yang salah, mengapa banyak orang yang ingin memutar waktu dan mengganti pilihannya di masa lampau? Jika tak ada pilihan yang salah, mengapa kita bertemu dengan seseorang, jatuh cinta, dan akhirnya memutuskan untuk berpisah? *curcol. Hehehe.*

Rupanya, ada sepenggal kalimat yang terputus dari petuah tersebut. Memang tak ada pilihan yang salah karena yang penting, kita tidak menjadikan pilihan itu menjadi salah. Aku belum memahami makna pernyataan ini sepenuhnya, tapi kira-kira begini caraku menafsirkannya dalam persoalan yang sedang kuhadapi.

Bukan merupakan sebuah kesalahan jika aku memutuskan untuk tetap tinggal di Jakarta dan melangkah menuju kampus yang semenjak awal kutuju. Namun, pergi ke Bandung dan belajar hidup mandiri tanpa orangtua juga bukan merupakan pilihan yang salah. Loh, kok begitu? Jadi mana yang harus dipilih?

Jika aku memilih untuk pergi ke Bandung, aku harus belajar mandiri seutuhnya, belajar dengan kesungguhan, dan memanfaatkan peluang yang ada di kampus dengan cara terlibat aktif dalam kegiatan kemahasiswaan. Jika aku memilih tinggal di Jakarta, aku harus belajar dengan tekun di kampus sambil memaksimalkan waktu dan peluang yang ada di sini. Karena di sekitar tempat tinggalku terdapat berbagai kursus bahasa, aku tak boleh menyia-nyiakan kesempatan untuk mempelajarinya. Karena aku sudah dipercaya menjadi pengajar di sekolah minggu, aku tak boleh malas menyiapkan materi dan terus berlatih mengorganisir setiap kegiatan. Karena aku punya fasilitas internet, laptop, dan waktu luang di hari Sabtu, aku wajib menulis blog agar kemampuanku terasah.

Intinya, sebanyak apa pun peluang dari sebuah pilihan, peluang itu akan menjadi sia-sia jika kita tidak cekatan dalam memanfaatkannya. Tidak ada pilihan yang salah, yang penting, jangan menjadikan pilihan itu menjadi salah. Bersungguh-sungguh dalam mengambil keputusan dan memperjuangkan apa yang sudah kita yakini sebagai pilihan merupakan langkah nyata dalam rangka menjadikan pilihan itu menjadi pilihan terbaik. Tak ada pilihan yang paling benar atau pun pilihan yang sangat buruk. Tepat atau tidaknya keputusan yang kita ambil, sangat bergantung pada peran kita untuk menjadikan pilihan itu menjadi tepat adanya.

Have a nice day, people ! :D

N.B. : thanks, Kak Gideon for the advice. Btw, kalimat itu jadi motto hidupku loh! ;D

Picture taken from shutterstock.com


Rabu, 07 Agustus 2013

Yes, WE ( YOU and I)  can !

Jalanan yang disesaki kendaraan bermotor, kepadatan penumpang di stasiun bus, dan berdesak-berdesakkan di kereta sukses membuat kita manyun. Siapa juga sih yang ga keburu bete melihat semrawutnya lalu lintas di ibu kota? Kalau sudah begitu, kita cuman bisa mengurut dada dan menjadikan twitter sebagai tempat menampung keluhan yang sudah berada di ujung bibir.
Eits, siapa bilang kita CUMAN BISA bersikap pasif dan mengeluh di media sosial? Emang sih, kita ga mungkin mengurangi volume kendaraan bermotor. Lebih ga mungkin lagi kalau kita mengatur semua calon penumpang di stasiun untuk mau antri dan tertib. Tenang, kita masih bisa kok berbuat sesuatu daripada sekadar mengeluh di media sosial.

It started from small things. It started from ourshelves.

Nebeng yuk !
Rasanya emang ga mungkin mengurai kemacetan yang dapat dikategorikan lumayan parah di ibu kota, tapi kita bisa kok mengurangi frekuensi penggunaan kendaraan pribadi. Kabar baiknya, kita bisa memulai hal tersebut dari diri kita sendiri. Gampangnya nih, kita bisa nebeng teman yang pergi ke tujuan yang searah atau mengajak teman pergi bareng dengan kendaraan kita. Selain menghemat bensin dan mengurangi polusi udara, hitung-hitung, kita jadi punya teman ngobrol sepanjang perjalanan. Dijamin, rasa sebal akibat macet dapat berkurang drastis.


Stop pada tempatnya !
Niatnya sih kita mau “bersikap ramah” terhadap kemacetan dengan cara naik angkot. Eh, kita malah menyetop angkot seenaknya. Jangan heran, supir angkot itu pasti akan “mengabulkan permintaan” kita karena membutuhkan penumpang. Udah tau angkotnya sedang melaju kencang di tengah-tengah jalan. Karena kita melambaikan tangan, supir angkot pun nekat mengerem kendaraannya dan memaksakan diri untuk berpindah ke jalur paling kiri.
Bayangkan kalau kita jadi pengendara di belakang angkot tersebut. Pasti kita juga jadi ikutan ngerem tiba-tiba. Hal ini tentu saja berbahaya bagi keselamatan pengemudi lainnya. Oleh karena itu, pastikan kita sudah memberi tanda pada angkot tersebut jauh-jauh atau menyetop angkot yang sedang melaju dalam kecepatan normal.

Berebutan itu bukan gaya gue.
Penumpang yang berjejalan di stasiun kereta atau halte bus pasti bukan hal baru bagi pengguna kendaraan umum. Jumlah penumpang yang tidak sebanding dengan jumlah armada yang tersedia membuat kita (terpaksa) berebutan tempat. Abis, gimana lagi dong, kalau kita ga ikut berjejalan dan melakukan aksi dorong-dorongan, pasti ga kebagian tempat.
Pemikiran di atas memang tidak sepenuhnya salah, tapi ingat, kita juga punya kewajiban untuk menghormati penumpang lain. Seringkali terjadi, belum juga penumpang dari dalam kereta menjejakkan kakinya ke atas peron, calon penumpang di stasiun memaksa masuk ke dalam kereta dengan alasan khawatir tidak mendapatkan tempat. Semua orang memang harus bergegas karena dikejar waktu, tapi kita tetap harus menjaga hak orang lain. Ga ada salahnya kan kita menunggu sebentar di tepi pintu masuk dan mempersilahkan penumpang dari dalam untuk menghirup udara stasiun dengan aman dan nyaman.

Ada jembatan penyeberangan tuh !
Mau menyeberang jalan aja, kita harus menaiki anak tangga yang jumlahnya tidak sedikit. Uh, kayaknya, lebih enak kalau kaki kita langsung melangkah melewati jalan raya. Memang sih, naik jembatan penyeberangan memerlukan pengorbanan waktu dan tenaga. Jarak yang bisa ditempuh dalam tempo waktu kurang dari satu menit berubah menjadi lebih dari tiga menit. Belum lagi peluh yang menetes karena kondisi udara yang panas.
Semua itu memang terasa berat kalau kita mengindahkan keselamatan di jalan raya. Tidak dipungkiri, kendaraan di jalan-jalan besar melaju dengan kecepatan tinggi. Jarang sekali ada pengemudi yang mau mengurangi kecepatannya dan mempersilahkan pejalan kaki menyeberang. Daripada harus menghadapi resiko yang lebih besar, ga ada salahnya kan kita menyeberang pada tempatnya, misalnya jembatan penyeberangan dan zebra cross.

Silahkan lewat.
Kalau berperan menjadi pejalan kaki, pasti kita geram melihat kendaraan yang ogah memelankan lajunya pada saat kita ingin menyeberang. Nah, bagaimana kalau posisinya dibalik? Kita menjadi pengendara dan ada pejalan kaki yang ingin menyeberang. Sebagai orang yang sering harap-harap cemas saat ingin menyeberang, boleh dong kita mengurangi laju kendaraan dan memberi kesempatan bagi orang lain untuk menyeberang jalan dengan aman.



Big things started from small things 


Picture taken from gettyimages.com dan google.com