Jumat, 18 Januari 2019

Satu Purnama yang Lalu


Sumber : pexels

Membunuh waktu di perjalanan dengan menatap layar smartphone bukan hal yang asing bagiku. Walaupun sudah bertekad untuk membaca buku yang rutin kubeli di Gramedia tapi tak rutin kubaca :”), toh ujung-ujungnya jemariku refleks membuka aplikasi media sosial berlogo kamera.

Rupanya malam ini adalah malam keberuntunganku. Insta story yang muncul di home profile-ku tak sekadar menampilkan gambar makanan di berbagai restoran yang seringkali membuatku lapar padahal perutku sudah diisi berulangkali atau kemacetan ibu kota yang membuat hidup terasa lebih menantang.

Sumber : memedad

Hashtag #10yearschallenge menjadi konten utama yang diunggah nyaris semua orang yang ku-follow. Pengguna Instagram seolah berlomba menampilkan foto dirinya yang sekarang sambil disandingkan dengan gambaran dirinya 10 tahun yang lalu.

Buatku, menyaksikan konten semacam ini menjadi teman perjalanan yang menyenangkan. Sementara mobil yang kutumpangi melaju di jalan tol yang tak bebas hambatan, mataku terhibur dengan foto teman-temanku yang diambil 10 tahun silam.

Ikutan upload ahh. Hehehe
Percayalah, aku juga ga ngerti apa faedahnya foto pake buku kimia setelah belajar kelompok. 

Rasanya semacam nostalgia. Melihat rekan kerjaku dengan seragam SMA tentu hal yang tak akan terjadi seandainya tak ada challenge semacam ini. Menyaksikan bagaimana Youtuber favoritku berwajah lugu serta mengenakan kaos dan jeans yang kusam menjadi hal yang langka.

Belum lagi mengingat kembali berbagai tren yang pernah populer pada masanya. Poni lempar yang menjadi pilihan gaya rambut banyak perempuan 10 tahun silam tak lagi dianggap menarik sekarang. Wajah teman-teman perempuanku yang tadinya polos tanpa riasan make up digantikan dengan bentuk alis yang lebih sempurna, bibir yang dipulas dengan lipstick, dan pipi bersemburat merah cerah berkat sapuan blush on. Bahkan hal sederhana macam gaya berfoto pun berubah dari waktu ke waktu (walaupun gaya fotoku ga pernah berubah sih. Hehehehe).

Satu purnama yang lalu

Malamnya, sebelum terlelap, aku jadi sedikit merenung tentang hidup yang terus berjalan dan bagaimana setiap orang berubah. Entah disadari maupun tidak. Entah disengaja maupun tidak. Entah ke arah yang lebih baik maupun jalan di tempat.

Berkaca pada diriku sendiri, sulit rasanya mengukur seberapa jauh diriku yang sekarang melangkah dari bayanganku pada 10 tahun yang lalu.

Masih dalam edisi satu purnama yang lalu

Poni tetap menghiasi wajahku yang sekarang maupun 10 tahun silam. Kemampuanku berdandan tetap sebatas mengulaskan BB cream, menaburkan bedak, dan menambahkan lipstick. Hobiku tetap membaca buku dan menulis blog. Mengajar anak kecil masih menjadi kegiatan yang rela kulakukan tanpa dibayar sama sekali. Menyaksikan pertandingan bola dan memperdebatkan siapa pemenangnya dengan adik laki-lakiku masih kulakukan hingga sekarang. Menangkis kok dan berkeringat di lapangan bulutangkis masih menjadi olahraga andalanku. Menertawakan candaan yang receh (maklum, standar lucuku belum juga meningkat. Hehehehe) tetap mengisi hari-hariku. Dan yang paling terlihat, gaya berfoto dengan mengangkat dua jari membentu tanda peace masih menjadi pose favoritku sepanjang segala abad.

Cuman tak mungkin rasanya jika sepuluh tahun tidak membawa perubahan sama sekali bukan? J

Ada perubahan status yang drastis dari mahasiswa yang bisa pergi ke Plaza Semanggi kapan saja menjadi pekerja kantoran yang menetap di depan layar laptop minimal delapan jam sehari. Bertemu dengan teman dekat yang tadinya semudah melangkah ke kampus kini diwarnai dengan drama janjian berbulan-bulan sebelumnya yang seringkali berakhir dengan status batal karena prioritas lain yang menuntut.

Belum lagi orang yang dulu punya tempat spesial dalam hidup (bahkan menentukan kemana kaki melangkah) berubah menjadi orang asing yang sekadar mengucapkan salam basa-basi ketika berpapasan. #aseeek #mulaicurhat #abaikan

I wish I still have more free time to teach you, kids. LLL


Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat. Ada banyak cerita yang bisa ditulis di setiap lembarnya. Ada suka duka yang membentuk sikap dan preferensi setiap orang. Ada keputusan atas setiap pilihan yang toh akhirnya mengukir jalan hidup yang dijalani.

Kurasa, challenge #10yearsago ini tak cuman sekadar tren sesaat yang muncul lalu silih berganti.

Namun, cukup membuatku berpikir, merenung, dan tergerak untuk “menghidupi” hidup. Cukup membuatku berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan mulai memprioritaskan hal-hal penting yang seringkali terabaikan atas nama tuntutan rutinitas. Cukup memaksaku berimajinasi tentang gambaran diri dan pencapaikan apa saja yang ingin kuukir 10 tahun ke depan. Cukup menodongku untuk mulai mengekspresikan perasaan sayang kepada orang yang selalu berdiri di sampingku seberapa kacaupun situasi yang terjadi (ahh, jadi kebayang si papa yang selalu nganterin aku setiap pagi. Mana kadang aku suka ketiduran di jalan sementara dia capek-capek nyetirin aku #brbmewek).

Di tengah rutinitas yang berebut menuntut perhatianku, #10yearschallenge ini seolah menjadi momen sakral yang mengingatkanku tentang pentingnya “hidup yang benar-benar dihidupi”. J



With love,
Bells


Senin, 23 Juli 2018

5 Tingkah Atasan yang Bikin Kamu Ingin Mendekatkan Diri dengan Yang Maha Esa

Setelah menganggur sekian lama…

Bekerja di perusahaan mapan dengan gaji yang mendukung untuk menikmati secangkir starbucks setiap hari bisa jadi permintaan yang didoakan secara khusuk oleh para penyandang gelar sarjana. Maklumlah, IG stories teman sepergaulan yang menampilkan desain kantor yang instagramable menjadi kiblat kesuksesan. Belum lagi foto demi foto di kafe gaul terkini yang cuman akan jadi angan jika gaji sekadar numpang lewat di ATM.

Eits, saking fokusnya dengan hal tadi, kamu jadi lupa mendoakan hal lain yang tak kalah penting untuk menjamin kebahagiaanmu di masa depan. Apalagi kalo bukan atasan yang suportif nan pengertian.

Sadar atau engga, gaji hanya menemuimu sebulan sekali. Rekan kerja yang seru cuman nongol pas jam istirahat. Tapi kamu menghirup udara yang sama dengan atasanmu minimal 8 jam per hari (alias 1/3 hari). UPS! Jadi kebayang dong seberapa banyak bagian hidupmu yang akan kamu lalui bersamanya. :”)

Jadi tipe atasan seperti apa sih yang bakal bikin hidupmu jungkir balik? Ini dia 5 tingkah atasan yang Bikin Kamu Ingin Mendekatkan Diri dengan Yang Maha Esa.


Segini doang?
Sayang ekspresi ini cuman bisa ditunjukkan di dalam hati

Waktu belum juga menunjukkan pukul 9 pagi, tapi matamu sudah mengerjap-ngerjap karena menahan kantuk. Apalagi kalau bukan karena begadang semalam suntuk demi mengerjakan tugas yang baru diberikan lima menit sebelum jam kantor usai.

Capek? Iya. Kesal? Apalagi. Namun semua kerja kerasmu seperti tak ada artinya ketika atasanmu dengan santainya bertanya “segini doang”? *brb nangis darah*.

Padahal, pekerjaan “segini doang” itu bisa selesai tepat waktu karena kamu mengerjakannya secepat pelari maraton. Ingin rasanya mulutmu berkicau, tapi kemudian kamu teringat rengekan saldo di ATM. Ya ampun Tuhan, dosa apa yang kamu perbuat sehingga pantas menerima kalimat macam itu? Diam-diam, kamu mulai rajin berdoa supaya tak perlu menghadapi cobaan macam ini setiap hari.


Respon unik bin ajaib
Jauhkanlah hambamu ini dari cobaan

Punya atasan yang “kreatif” dalam berkomunikasi memang sukses membuat duniamu jungkir balik. Baru saja kamu merespon ucapan si atasan yang mahatahu ini, eh, kamu sudah diserang dengan respon tak terduga *bayangkan adegan dimana dragonball diserang oleh musuhnya lalu jatuh terkapar di tanah*

Kira-kira begini format percakapan kalian sehari-hari.
Atasan          : Tolong kerjakan tugas A ya. 
Bawahan        : Iya, Pak.
Atasan        : Jangan iya-in saya, … (masukkan namamu di sini)
Bawahan      : *melongo bingung* *berusaha mencari respon yang tepat*

Dari sudut pandang si bos, mungkin maksudnya ialah mewanti-wanti supaya kamu mengerjakan tugas itu dengan sepenuh hati plus segenap jiwa dan bukan sekadar mengiyakan. Tapi dari sudut pandangmu, YA GUE HARUS RESPON APALAGI KALAU BUKAN DENGAN KATA IYA?!?! Masa kamu cuman diam dengan pandangan lurus yang tak lepas dari layar laptop.

Aneh kan kalau percakapan yang terjadi seperti ini :
Atasan        : Tolong kerjakan tugas A ya. 
Bawahan       : *diam* *malas bilang iya*
Atasan           : *diam* *menunggu bawahan merespon*
Bawahan       : *kekeuh untuk tetap diam daripada disahutin “jangan iya-in saya doang”.

Semakin sering hal ini terjadi, semakin meningkat pula intensitasmu untuk berdoa supaya diberi kemampuan lebih untuk menghadapi respon si bos yang unik bin ajaib.


Bahasa kalbu yang belum sempat kamu pelajari
Ketika kamu bingung dengan si atasan yang tak kunjung merespon

Sebagai lulusan sarjana dari salah satu universitas di bumi, kamu tak pernah mengikuti mata kuliah bahasa kalbu. Layaknya manusia pada umumnya, bahasa Indonesia menjadi modal percakapanmu sehari-hari.

Tak heran, kamu menjadi bingung ketika atasanmu cuman diam saat kamu berbicara dengannya. Kira-kira begini percakapan yang terjadi.

Bawahan       : Pak, saya sudah kirim email yang Bapak minta ya.
Atasan           : *diam* *tak bergeming*
Bawahan       : Saya barusan kirim ya, Pak *masih mencoba berbahasa manusia*
Atasan           : *khusuk memandang laptop*
Bawahan       : *mulai berniat untuk berjoget-joget di depan mukanya*

Ingin rasanya kamu melambai-lambaikan tangan di depan mukanya sambil berteriak “Pak, ini aku ngomong loh!”. Sayangnya, hal itu cuman angan-angan semata. Yang bisa kamu lakukan cuman berdoa sambil bertekad untuk lebih banyak berbuat baik supaya tak perlu menghabiskan hidup lebih lama dengannya.  


Aturan nomor satu, bos tak pernah salah.
Ketika si bos mulai menceramahimu dengan panjang kali lebar

Memeriksa pekerjaan sebelum diberikan kepada atasan adalah undang-undang yang wajib ditaati.  Masalahnya, si bos yang mahabenar selalu bisa mencari-cari menemukan hal-hal yang kurang sempurna di matanya.

Mulai deh, nasihat seperti “makanya cek dulu sebelum email-nya dikirim” atau “seharusnya kamu sudah mengerti ini dong” mulai meluncur dari bibirnya. Padahal kamu sudah meminta maaf atas pekerjaanmu yang tak memenuhi “standar” si bos.

Salah itu wajaaaar keles

Namanya juga manusia, pasti ada kalanya jatuh dalam kesalahan dong. Ketika atasanmu melakukan kesalahan yang sama denganmu, mulai deh ia bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Boro-boro mengakui kesalahannya, si atasan perlahan-lahan mengalihan topik dengan cara memberimu setumpuk pekerjaan supaya kamu segera amnesia terhadap kesalahan yang dibuatnya.

Jujur saja, kalimat “makanya cek dulu sebelum email-nya dikirim” sudah berada di ujung lidahmu kan. Ingin rasanya kamu menasihati atasanmu persis seperti cara ia menyalahkanmu memberimu wejangan.

Untungnya, kamu segera mengingat kastamu di perusahaan sebelum kalimat-kalimat tak sedap meluncur dari bibirmu. Ya apalagi yang bisa kamu lakukan selain mendoakan supaya gengsi atasanmu dikurangi atau kesabaranmu ditambahkan. *sujud sembah*


Tak ada kosakata “tolong dan terimakasih” dalam kamus si bos
Rupanya kata tolong itu mahal harganya

Namanya saja menjadi bawahan, kamu pasti sadar betul bahwa perintah si bos adalah makanan sehari-hari. Disuruh menyiapkan data A-Z, mencatat hasil rapat, dan menyelesaikan berbagai perintilan lainnya merupakan hal yang biasa.

Masalahnya nih, cara ngomong si bos yang sengak nan sok tahu selalu bikin kamu mengidap darah tinggi mendadak. Boro-boro menggunakan kata tolong di awal kalimat, cara si bos memberi perintah selalu membuatmu merasa menjadi manusia dengan kasta paling rendah di bumi *lebay*. Ga heran kamu mulai berpikir, perasaan gue minta tolong kepada si bibik di rumah aja lebih sopan dibandingkan cara si bos ngomong. 


Yaps, ini hanya imajinasi semata

Ga cuman itu, kata terima kasih seolah menjadi kosakata langka yang tak ada dalam kamus si bos. Mau tugas itu sudah kamu kerjakan sampai mendaki gunung melewati lembah weekend berlalu begitu saja, wajah atasanmu tetap datar. Tak ada sedikitpun mimik ataupun gestur tubuhnya yang menunjukkan gejala bahwa ia menghargai pekerjaan tersebut.

Dalam hati, kamu pun bertanya-tanya, kesalahan apa yang kamu lakukan dalam hidupmu sampai harus bertemu dengan atasanmu. Diam-diam, kamu bertekad untuk lebih rajin berdoa dan beramal kepada mereka yang membutuhkan supaya hidupmu segera dijauhkan dengan atasan macam itu.



Jadi, ada ga sih tingkah unik atasanmu yang bikin hidupmu terasa lebih “berwarna” dan “meriah”? Komen dong di kolom bawah. Siapa tau bisa jadi penyemangat teman-teman sekasta bahwa ia tak sendirian menghadapi hal unik bin ajaib. :P







With love,
Bells

Selasa, 17 Juli 2018

Mencintaimu Sekali Lagi


My favourite quote since college

Kesel ga sih kalo punya gebetan yang bilangnya kangen, tapi nyamperin ke rumah aja cuman hitungan jari? Bilangnya seneng ngobrol bareng kamu, tapi ga ada inisiatif buat nge-chat duluan? Atau bilangnya sayang, tapi ga ada usaha untuk menunjukkan perasaan itu sendiri?

Duh, siapa yang ga kesel coba kalo punya gebetan kayak gitu. L

Ga cuman untuk gebetan, pertanyaan di atas juga menohokku untuk mempertanyakan relasiku dengan … … … *drumroll* kegiatan yang selalu kudaulat sebagai hobiku, tapi jarang kusentuh akhir-akhir ini. Yaps, apalagi kalau bukan menulis. J


Kalau kuanalogikan menulis sebagai gebetan, mungkin begini kira-kira bunyi pertanyaannya :
Kesel ga sih kalo bilangnya kangen nulis, tapi jumlah tulisannya tak sampai hitungan jari dalam setahun? Bilangnya jatuh cinta dengan menulis, tapi ga ada inisiatif untuk meluangkan waktu? Atau bilangnya sayang, tapi ga ada usaha untuk menunjukkan dan mengembangkan kemampuan menulis itu sendiri? 

Nah, (kembali lagi) kalau dianalogikan sebagai gebetan, mungkin begini curahan hati “si menulis”.

Elo ya, seenaknya ngeklaim gue sebagai gebetan hobi lo, tapi ga mau ngasih usaha lebih ke hubungan ini. Boro-boro usaha, ngeluangin waktu aja bagai mencari jarum dalam jerami alias susah banget.

Jejak terakhir di blog atas nama www.mylifeasahappycreature.blogspot.com

Kegelisahan di atas muncul usai keisenganku menyambangi blog ini. Desember 2016 menjadi saksi terakhir munculnya tulisanku yang berjudul “5 Hal Horor yang Ga Mungkin Terjadi Ketika Adikmu Berjenis Kelamin Laki-Laki”.

Kemana perginya 1 tahun 7 bulan ini tanpa sedikit jejakpun di blog ini? Entahlah! Jawaban klise seperti “ga punya waktu untuk ngetik di laptop” atau “ga ada ide yang butuh untuk dituangkan” terdengar salah dan mengada-ada.

Sebagai penganut prinsip “Nobody is too busy. It’s just a matter of priorities”, alasan tidak punya waktu menjadi omong kosong semata. Soal tak punya ide menjadi tidak realistis mengingat ide dapat muncul dimana saja dan kapan saja. Lagipula 1 tahun 7 bulan adalah periode yang terlalu lama untuk absen dari hal yang disukai. :”)


So here I am. Mencoba menyusun kata dan merangkainya menjadi paragraf. Menyulam paragraf yang patah menjadi seulas cerita pengisi hari.

1 tahun 7 bulan telah berlalu tanpa kontak yang berarti dengan kegiatan menulis. Membuat hubunganku dengan menulis menjadi kaku dan butuh lebih banyak usaha untuk memulainya kembali. Tapi toh seperti cinta sejati lainnya #asek, aku kembali berkutat di depan layar laptop.

Mencoba memahami sekali lagi makna yang hadir dalam hidupku dengan menyusun tulisan ini. Mencoba merasakan apakah ini cuman perasaan rindu sesaat atau memang inilah perasaan lega yang ingin kutuju selama ini.

Kalau menulis dianalogikan sebagai gebetan, mungkin aku akan meminta ijin padanya untuk mencintainya sekali lagi. J Memperbaiki hubungan yang berdebu karena terlalu lama dilupakan dan diabaikan. Kembali pada perasaan yang kurindukan ketika ide mulai berloncatan di benakku dan jemariku berlomba dengan waktu untuk menuangkannya.

Jadi, mulai hari ini, aku ingin mengijinkan diriku sendiri untuk jatuh cinta sekali lagi pada menulis. Ya, aku cuman ingin mencintainya sekali lagi. J




With love,

Bells




ote : Hei, guys! Long time no see! Please enjoy my writing above. Hopefully, one new post will appear at this blog weekly. #amen *insert swear emoji here* ;)




Kamis, 01 Desember 2016

5 Hal Horor yang Ga Mungkin Terjadi Ketika Adikmu Berjenis Kelamin Laki-Laki

Sebagai kakak perempuan, kamu seringkali merasa gemas melihat tingkah laku adik laki-lakimu. Bagaimana tidak, setiap kepulangannya selalu menghadiahkan ceceran sepatu, kaos kaki, tas, kotak bekal, dan buku pelajaran di sepanjang tempat yang dilaluinya. Jangan kaget pula melihat tumpukan kertas di sudut-sudut kamarnya. Seolah belum lengkap, adik cowokmu itu justru tak ambil pusing dengan segala “kegaduhan” yang dibuatnya.

Ekspresi adikmu ketika diminta membereskan barang-barangnya
via google.com

Ga heran, kamu pun mulai membayangkan betapa asiknya jika kamu memiliki adik perempuan. Apalagi, banyak orang yang bilang bahwa memiliki adik yang berjenis kelamin sama merupakan anugerah terindah.

Eits, jangan salah, memiliki adik cowok itu ga kalah menyenangkan dengan kehadiran adik cewek kok. Malahan ada sejumlah hal horor yang tak mungkin melanda hidupmu ketika kamu memiliki adik cowok. Ini dia 5 hal horor yang tak mungkin terjadi ketika adikmu berjenis kelamin laki-laki.


Ini orang mandi atau ngeramin telur ya? Kok ga kelar-kelar?!
Ekspresimu ketika adik cewekmu tak kunjung menyelesaikan ritual mandinya (via quickmeme.com)

Membuka mata di pagi hari bisa jadi merupakan salah satu tantangan terberat dalam hidupmu. Ga heran, kamu sering mengalami panic attack di pagi hari karena terlambat bangun. Niatnya sih mau buru-buru mandi, eh malah keduluan dengan adik cewekmu. Horornya, setelah 15 menit penantian panjang, adikmu tak kunjung menunjukkan tanda-tanda bahwa ritual mandinya akan segera selesai. Ups, pasti kamu ingin berteriak “Woy, berapa lama lagi nih ngeramin telurnya?”

Nah, kalau kamu punya adik cowok, kamu tak perlu khawatir dengan hal horor macam itu. Paling kamu hanya perlu menunggu 5-10 menit sebelum adikmu menyelesaikan ritual mandinya yang super singkat.


Kamu masih laper ga? Aku udah kenyang nih.
Ekspresimu ketika adik cewekmu ogah menghabiskan makanan yang dipesannya (via quickmeme.com)

Menikmati kuliner merupakan kegiatan seru yang selalu kamu lakoni setiap weekend. Niatnya sih mau have fun bareng sama adik cewekmu sambil kulineran santai. Eh, tapi siapa juga yang ga gregetan kalau adikmu selalu “menyerahkan” sisa makanannya kepadamu. Ada aja deh alesannya untuk ga ngabisin makanan yang udah dipesan. Mulai dari porsinya yang terlalu besar hingga diet ala-ala artis Hollywood yang sedang dijalaninya. Ih, bikin sebel aja!

Pastinya, kamu lebih senang jika makan dengan partner yang porsinya (nyaris) sama besarnya denganmu. Dijamin deh, hal horor ini ga akan terjadi jika kamu punya partner adik cowok. Boro-boro menyisakan makanannya, bisa-bisa kamu yang keheranan karna dia ga kunjung merasa kenyang. Efeknya, kamu pun jadi lebih semangat menyantap makanan yang dihidangkan di meja.


Duh, kok dress-ku hilang ya? Ini bedakku ditaro dimana coba?
Ekspresimu ketika barang-barang kesayanganmu lenyap dalam sekejap (via quickmeme.com)

Banyak orang bilang kalau berbagi itu indah. Iya sih, kamu juga setuju bahwa berbagi itu indah. Tapi, siapa juga yang ga sebel kalo barang yang mau digunakannya lenyap-entah-kemana karena dipinjam sama adik cewekmu sendiri? Mulai dari lipgloss sampai dress lucu selalu raib dari tempatnya. Diam-diam, kamu mulai berimajinasi untuk memasang finger code di setiap barang yang kami miliki.

Tenang saja, adik cowokmu dijamin ga bakal membuatmu naik darah karna pinjem-pinjeman barang kesukaanmu. Justru, kalian ga bakal saling jeles karna punya kesukaan yang berbeda. Adikmu ga bakal jeles karna cushion lucu yang dibelikan mama untukmu. Sebaliknya, kamu ga bakal iri cuman karna PS4 terbaru yang bertengger manis di kamar adikmu.


Perasaan adikmu keliatan lebih manis dari kamu ya.
Ekspresimu ketika dibanding-bandingin sama saudara kandung sendiri (via quickmeme.com)

Karena sama-sama berjenis kelamin perempuan, kamu dan adik cewekmu seringkali menjadi santapan empuk untuk dibanding-bandingkan. Setiap kali diajak mama ke kondangan, kamu pun menyiapkan mental untuk mendengarkan pendapat dari sejumlah komentator (baca : mulai dari tante A yang jadi teman arisan mama, tante B yang sudah bertahun-tahun ga pernah ketemu, hingga tante Z yang bahkan belum pernah kamu temui). Ada kalanya kamu dipuji lebih cantik dari adikmu. Namun, ada saatnya juga adikmu yang dibilang lebih manis. Ups, percaya deh, yang namanya dibanding-bandingin itu bener-bener horor dan ga menyenangkan.

Hal horor tersebut tentunya tak akan terjadi jika kamu memiliki adik laki-laki. Tenang aja, kalian memiliki perbedaan yang signifikan sehingga sulit dibandingin. Jadi, ga ada lagi tuh momen-momen nyebelin pas dibandingin sama saudara kandung sendiri.


Duh, pergi ke jalan-jalan sama siapa ya?
Ekspresimu ketika adik cowokmu berbaik hati nemenin kamu ke suatu acara (via quickmeme.com)

Siapa sih yang ga suka mendatangi berbagai event seru di weekend? Niatnya sih mau jalan-jalan sambil menikmati weekend. Namun, kamu suka bingung harus pergi sama siapa sejak putus dengan doi. Belum lagi kalau kamu diundang ke nikahan teman. Pasti garing banget deh kalau pergi sendirian.   

Ups, tenang saja, ada satu orang yang paling tepat buat diajak nemenin ke kondangan. Siapa lagi kalau bukan adik cowokmu? Kalau pergi bareng dia, kamu ga perlu menunggu lama sampe lumutan karna dia cuman butuh 5 menit untuk siap-siap. Lumayan deh bisa bawa gandengan kece ke kondangan. *biar jomblo, tetep bisa bawa gandengan yang keren*


Nah, setelah membaca hal-hal di atas, kira-kira masih nyesel ga nih karna harus menghabiskan sisa hidupmu bersama adik cowokmu? Coba dong ceritain di kolom komentar mengenai hal-hal horor lainnya yang ga mungkin terjadi kalau kamu punya adik cowok. :*




Note : Awalnya, tulisan ini dibuat dalam rangka memperingati hari ulang tahun adek cowokku tersayang a.k.a @nicode1997 yang jatuh pada 10 November. *ups, udah lama lewat ya. Hehehe*

Btw, although we have lots of fights through this 19 years, I want you to know that I love you to the moon and back. Thank you for the time that we’ve spent together. Looking forward for another journey with you. J