Sabtu, 02 Februari 2019

5 Ketidakadilan Sosial yang (Mungkin) Dilakukan Adik Cowok terhadap Kakak Cewek


Kelakuan si adek cowok ketika kakak ceweknya kedinginan : pura-pura ga tau sampe lo narik syalnya

Bandingkan sikapnya ketika pacar kesayangannya yang kedinginan

Berantakan, cuek, ngeselin. Mungkin tiga kata sifat itulah yang muncul di benakmu ketika orang lain menanyakan sifat adik cowokmu. Sebagai kakak cewek yang sangat mengenal seluk beluk kelakuan asli adik cowokmu, ga heran kamu merasa kaget ketika dia sudah tampil rapi di Minggu pagi. Lah, biasanya aja masih ileran dengan muka polos di pulau kapuk.

Belum lagi ketika adik cowokmu rajin bertanya-tanya soal skincare favoritmu padahal sebelumnya ia selalu meledekmu dengan kalimat “kok lo ga ada bedanya sih pake skincare atau engga?”.  Dalam hati kamu pun bertanya-tanya, “ini orang kesambet apaan ya?”

Sebagai kakak cewek yang baik nan suportif, kamu pun turut bergembira ketika adikmu tak lagi menyandang status jomblo

Ketika adik cowokmu yang unik bin ajaib itu mendadak rajin menghilang saat malam minggu tiba, terjawablah sudah segala pertanyaan di benakmu soal perubahan 180 derajatnya selama ini. Ya, apalagi kalau bukan karena punya pacar.

Diam-diam kamu pun mulai memperhatikan gerak-gerik adik cowokmu dan menyadari terjadinya ketimpangan antara kelakuan adik cowokmu di depan pacar yang baru dikenalnya setahun terakhir vs di depan sang kakak cewek yang sudah dikenalnya sepanjang segala hayat.

Ini dia 5 ketidakadilan sosial yang dilakukan adik cowok kepadamu ketika ia punya pacar.




Buset deh, gini doang minta dibantuin. Manja amat sih.

Kalau di FTV yang sukanya menampilkan keluarga bahagia nan sempurna, ada aja scene dimana kakak cewek belanja di mall dan adik cowoknya dengan senyum bahagia membawakan barang belanjaan. Percayalah teman-teman, itu hanya ada di dalam dunia khayalan.

Ekspresimu ketika adek cowokmu ga mau membantu mengangkat galon aqua

Jangankan membawakan barang belanjaan yang ringan, siapa yang seharusnya mengangkat dan mengisi galon aqua saja menjadi hal patut diperdebatkan. Bayangkan, galon aqua yang terisi 19 liter itu loh.

Bertahun-tahun hidup serumah, belum pernah sekalipun adik cowokmu langsung mengisi galon aqua yang kosong tanpa mengucapkan “Sabar dikit kenapa sih. Ini gua main dota ga bisa di-pause” (Lah, emang rasa haus ini bisa di-pause juga?!)

Ekspresimu ketika adik cowokmu mulai bersikap sok gentle di depan pacarnya

Sementara itu, buat pacarnya, kantong belanjaan yang seringan bulu ayam saja menjadi objek yang tak boleh luput dari perhatian adikmu. Belum lagi hobi adikmu membukakan pintu mobil buat pacar biar kesannya perhatian ya kan. Diam-diam, kamu mulai berencana untuk mencekik adikmu ketika ia tidur di malam hari.



Rempong amat sih minta dijemput segala. Jaraknya kan cuman selemparan batu.

“Ya elah, dari stasiun ke rumah aja pakai minta dijemput. Lo tau kan ada aplikasi yang namanya Gojek?”. Kalimat itulah yang langsung meluncur dari bibir adikmu ketika kamu memintanya untuk menjemputmu pada pukul sembilan malam yang dilengkapi dengan gerimis malu-malu-manja. Mentang-mentang punya kakak yang tangguh nan pemberani, adik cowokmu percaya bahwa kamu pasti bisa pulang sendiri darimana saja dan kapan saja.

 
Hal yang ingin kamu lakukan ketika adik cowokmu langsung menjemput pacarnya tanpa banyak cingcong

Uniknya, respon yang berbeda 180 derajat langsung diberikan adik cowokmu ketika pacarnya minta dijemput di siang bolong. Boro-boro mengeluh, tak sampai sepuluh menit, adik cowokmu sudah berpakaian rapi plus wangi sambil menenteng kunci motor di genggamannya. Tak heran, kamu berencana untuk mengempeskan ban motornya ketika ada kesempatan.



Ini makan siapa yang bayar ya? Lo apa gue ya?

Tak ada hujan angin puting beliung perayaan apa-apa, setiap kali usai bersantap di restoran, adik cowokmu dengan muka tak bersalah akan bertanya “ini bayar masing-masing atau lo yang bayarin?”. Kamu pun berusaha mengingat-ingat kejadian penting apa yang terjadi hari ini sehingga kamu punya kewajiban untuk mentraktirnya.

Seperti biasa, adik cowokmu mulai mengemukakan alasan klise yang sudah digunakannya ratusan kali. Apalagi kalau bukan statusmu yang sudah bekerja sementara ia cuman mengandalkan uang saku yang menurutnya tak seberapa.

Tepuk tangan meriah ketika adik cowokmu ga minta dibayarin di depan pacarnya

Kamu pun refleks mendelik kaget ketika adik cowokmu langsung bangkit berdiri dan berjalan ke kasir untuk membayar ketika kamu makan bertiga dengan pacarnya. Ga cuman makan siang, jajan chatime pun menjadi tanggungan adik cowokmu yang dompetnya tak pernah kelihatan selama ini. Ingin rasanya kamu berteriak “ajaib juga duit lo ya. Munculnya di saat tertentu doang”.



Bagus kok. Yang ini bagus. Yang itu juga bagus. Btw, lo masih lama ga sih?

Memutuskan baju mana yang oke untuk hangout bisa jadi kegiatan yang banyak memakan waktumu. Demi menghemat waktu, kamu pun menanyakan pendapat adik cowokmu soal pilihan bajumu.

Hebatnya, tanpa perlu menoleh dari layar smartphone-nya, adikmu dengan santainya bisa mengamini baju yang kamu pakai saat itu sebagai pilihan terbaik. Walaupun dongkol, kamu berusaha memaklumi sikapnya yang super duper cuek.

Cuman bisa gigit jari ketika adikmu menunjukkan sikap yang berbalik 180 derajat di depan pacarnya

Yang bikin sebel, ketika pacarnya bertanya “ada yang beda ga dari aku hari ini ini?”. Adik cowokmu langsung meluangkan waktu untuk mengamati penampilan pacarnya dari atas ke bawah dan berusaha menebaknya dengan sungguh-sungguh nan serius bahkan mungkin lebih serius daripada ketika ia mengerjakan ulangan. Diam-diam kamu berdoa supaya kamu ga melaksanakan rencana jahatmu untuk membongkar kelakuan asli adikmu.



Buset, lo banyak mau banget dah. Capek nih gue.

Di benakmu, membawa adik cowokmu berjalan-jalan berarti memiliki forografer pribadi gratis yang siap memotretmu dimana saja dan kapan saja. Sayangnya, kenyataan memang tak pernah seindah imajinasi yang berputar di otakmu.


Sambil memotretmu dari berbagai angle sesuai dengan request-mu, adik cowokmu pasti akan mengomel “Perasaan dari tadi lo foto melulu dah. Ga capek apa?” atau pura-pura berjalan terus ketika kamu menemukan spot foto yang bagus.
Ekspresimu ketika adik cowokmu mau aja nemenin ceweknya nonton film romance

Yang bikin kamu manyun adalah ketika adik cowokmu bersiap pergi ke pameran lukisan saat weekend. Ga cuman itu, adik cowokmu bahkan tak menggerutu sama sekali ketika pacarnya mengajak dirinya menonton film romance yang menye-menye-nan-menguras-airmata. Kamu pun keheranan dan bertanya-tanya sejak kapan ia menjadi penyuka lukisan dan film romance?



Yang makin gregetan sama adik cowoknya mana suaranya? :P Nah, kalo buat kamu cewek-cewek yang memiliki pacar dengan status adik cowok, coba tuh ditanyakan dulu kelakuan aslinya yang sanggup bikin ilfil ke kakak ceweknya. ;)  Hehehe.

Bodo amat. Bodo amat.


Buat kamu yang punya saudara cowok, mana sih ketidakadilan yang sering kamu alamin? Coba dong share di kolom komentar. Siapa tau masih ada kelakuan lainnya yang terlewat untuk dibahas. ;)



With love,
Bells

Jumat, 18 Januari 2019

Satu Purnama yang Lalu


Sumber : pexels

Membunuh waktu di perjalanan dengan menatap layar smartphone bukan hal yang asing bagiku. Walaupun sudah bertekad untuk membaca buku yang rutin kubeli di Gramedia tapi tak rutin kubaca :”), toh ujung-ujungnya jemariku refleks membuka aplikasi media sosial berlogo kamera.

Rupanya malam ini adalah malam keberuntunganku. Insta story yang muncul di home profile-ku tak sekadar menampilkan gambar makanan di berbagai restoran yang seringkali membuatku lapar padahal perutku sudah diisi berulangkali atau kemacetan ibu kota yang membuat hidup terasa lebih menantang.

Sumber : memedad

Hashtag #10yearschallenge menjadi konten utama yang diunggah nyaris semua orang yang ku-follow. Pengguna Instagram seolah berlomba menampilkan foto dirinya yang sekarang sambil disandingkan dengan gambaran dirinya 10 tahun yang lalu.

Buatku, menyaksikan konten semacam ini menjadi teman perjalanan yang menyenangkan. Sementara mobil yang kutumpangi melaju di jalan tol yang tak bebas hambatan, mataku terhibur dengan foto teman-temanku yang diambil 10 tahun silam.

Ikutan upload ahh. Hehehe
Percayalah, aku juga ga ngerti apa faedahnya foto pake buku kimia setelah belajar kelompok. 

Rasanya semacam nostalgia. Melihat rekan kerjaku dengan seragam SMA tentu hal yang tak akan terjadi seandainya tak ada challenge semacam ini. Menyaksikan bagaimana Youtuber favoritku berwajah lugu serta mengenakan kaos dan jeans yang kusam menjadi hal yang langka.

Belum lagi mengingat kembali berbagai tren yang pernah populer pada masanya. Poni lempar yang menjadi pilihan gaya rambut banyak perempuan 10 tahun silam tak lagi dianggap menarik sekarang. Wajah teman-teman perempuanku yang tadinya polos tanpa riasan make up digantikan dengan bentuk alis yang lebih sempurna, bibir yang dipulas dengan lipstick, dan pipi bersemburat merah cerah berkat sapuan blush on. Bahkan hal sederhana macam gaya berfoto pun berubah dari waktu ke waktu (walaupun gaya fotoku ga pernah berubah sih. Hehehehe).

Satu purnama yang lalu

Malamnya, sebelum terlelap, aku jadi sedikit merenung tentang hidup yang terus berjalan dan bagaimana setiap orang berubah. Entah disadari maupun tidak. Entah disengaja maupun tidak. Entah ke arah yang lebih baik maupun jalan di tempat.

Berkaca pada diriku sendiri, sulit rasanya mengukur seberapa jauh diriku yang sekarang melangkah dari bayanganku pada 10 tahun yang lalu.

Masih dalam edisi satu purnama yang lalu

Poni tetap menghiasi wajahku yang sekarang maupun 10 tahun silam. Kemampuanku berdandan tetap sebatas mengulaskan BB cream, menaburkan bedak, dan menambahkan lipstick. Hobiku tetap membaca buku dan menulis blog. Mengajar anak kecil masih menjadi kegiatan yang rela kulakukan tanpa dibayar sama sekali. Menyaksikan pertandingan bola dan memperdebatkan siapa pemenangnya dengan adik laki-lakiku masih kulakukan hingga sekarang. Menangkis kok dan berkeringat di lapangan bulutangkis masih menjadi olahraga andalanku. Menertawakan candaan yang receh (maklum, standar lucuku belum juga meningkat. Hehehehe) tetap mengisi hari-hariku. Dan yang paling terlihat, gaya berfoto dengan mengangkat dua jari membentu tanda peace masih menjadi pose favoritku sepanjang segala abad.

Cuman tak mungkin rasanya jika sepuluh tahun tidak membawa perubahan sama sekali bukan? J

Ada perubahan status yang drastis dari mahasiswa yang bisa pergi ke Plaza Semanggi kapan saja menjadi pekerja kantoran yang menetap di depan layar laptop minimal delapan jam sehari. Bertemu dengan teman dekat yang tadinya semudah melangkah ke kampus kini diwarnai dengan drama janjian berbulan-bulan sebelumnya yang seringkali berakhir dengan status batal karena prioritas lain yang menuntut.

Belum lagi orang yang dulu punya tempat spesial dalam hidup (bahkan menentukan kemana kaki melangkah) berubah menjadi orang asing yang sekadar mengucapkan salam basa-basi ketika berpapasan. #aseeek #mulaicurhat #abaikan

I wish I still have more free time to teach you, kids. LLL


Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat. Ada banyak cerita yang bisa ditulis di setiap lembarnya. Ada suka duka yang membentuk sikap dan preferensi setiap orang. Ada keputusan atas setiap pilihan yang toh akhirnya mengukir jalan hidup yang dijalani.

Kurasa, challenge #10yearsago ini tak cuman sekadar tren sesaat yang muncul lalu silih berganti.

Namun, cukup membuatku berpikir, merenung, dan tergerak untuk “menghidupi” hidup. Cukup membuatku berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan mulai memprioritaskan hal-hal penting yang seringkali terabaikan atas nama tuntutan rutinitas. Cukup memaksaku berimajinasi tentang gambaran diri dan pencapaikan apa saja yang ingin kuukir 10 tahun ke depan. Cukup menodongku untuk mulai mengekspresikan perasaan sayang kepada orang yang selalu berdiri di sampingku seberapa kacaupun situasi yang terjadi (ahh, jadi kebayang si papa yang selalu nganterin aku setiap pagi. Mana kadang aku suka ketiduran di jalan sementara dia capek-capek nyetirin aku #brbmewek).

Di tengah rutinitas yang berebut menuntut perhatianku, #10yearschallenge ini seolah menjadi momen sakral yang mengingatkanku tentang pentingnya “hidup yang benar-benar dihidupi”. J



With love,
Bells


Senin, 23 Juli 2018

5 Tingkah Atasan yang Bikin Kamu Ingin Mendekatkan Diri dengan Yang Maha Esa

Setelah menganggur sekian lama…

Bekerja di perusahaan mapan dengan gaji yang mendukung untuk menikmati secangkir starbucks setiap hari bisa jadi permintaan yang didoakan secara khusuk oleh para penyandang gelar sarjana. Maklumlah, IG stories teman sepergaulan yang menampilkan desain kantor yang instagramable menjadi kiblat kesuksesan. Belum lagi foto demi foto di kafe gaul terkini yang cuman akan jadi angan jika gaji sekadar numpang lewat di ATM.

Eits, saking fokusnya dengan hal tadi, kamu jadi lupa mendoakan hal lain yang tak kalah penting untuk menjamin kebahagiaanmu di masa depan. Apalagi kalo bukan atasan yang suportif nan pengertian.

Sadar atau engga, gaji hanya menemuimu sebulan sekali. Rekan kerja yang seru cuman nongol pas jam istirahat. Tapi kamu menghirup udara yang sama dengan atasanmu minimal 8 jam per hari (alias 1/3 hari). UPS! Jadi kebayang dong seberapa banyak bagian hidupmu yang akan kamu lalui bersamanya. :”)

Jadi tipe atasan seperti apa sih yang bakal bikin hidupmu jungkir balik? Ini dia 5 tingkah atasan yang Bikin Kamu Ingin Mendekatkan Diri dengan Yang Maha Esa.


Segini doang?
Sayang ekspresi ini cuman bisa ditunjukkan di dalam hati

Waktu belum juga menunjukkan pukul 9 pagi, tapi matamu sudah mengerjap-ngerjap karena menahan kantuk. Apalagi kalau bukan karena begadang semalam suntuk demi mengerjakan tugas yang baru diberikan lima menit sebelum jam kantor usai.

Capek? Iya. Kesal? Apalagi. Namun semua kerja kerasmu seperti tak ada artinya ketika atasanmu dengan santainya bertanya “segini doang”? *brb nangis darah*.

Padahal, pekerjaan “segini doang” itu bisa selesai tepat waktu karena kamu mengerjakannya secepat pelari maraton. Ingin rasanya mulutmu berkicau, tapi kemudian kamu teringat rengekan saldo di ATM. Ya ampun Tuhan, dosa apa yang kamu perbuat sehingga pantas menerima kalimat macam itu? Diam-diam, kamu mulai rajin berdoa supaya tak perlu menghadapi cobaan macam ini setiap hari.


Respon unik bin ajaib
Jauhkanlah hambamu ini dari cobaan

Punya atasan yang “kreatif” dalam berkomunikasi memang sukses membuat duniamu jungkir balik. Baru saja kamu merespon ucapan si atasan yang mahatahu ini, eh, kamu sudah diserang dengan respon tak terduga *bayangkan adegan dimana dragonball diserang oleh musuhnya lalu jatuh terkapar di tanah*

Kira-kira begini format percakapan kalian sehari-hari.
Atasan          : Tolong kerjakan tugas A ya. 
Bawahan        : Iya, Pak.
Atasan        : Jangan iya-in saya, … (masukkan namamu di sini)
Bawahan      : *melongo bingung* *berusaha mencari respon yang tepat*

Dari sudut pandang si bos, mungkin maksudnya ialah mewanti-wanti supaya kamu mengerjakan tugas itu dengan sepenuh hati plus segenap jiwa dan bukan sekadar mengiyakan. Tapi dari sudut pandangmu, YA GUE HARUS RESPON APALAGI KALAU BUKAN DENGAN KATA IYA?!?! Masa kamu cuman diam dengan pandangan lurus yang tak lepas dari layar laptop.

Aneh kan kalau percakapan yang terjadi seperti ini :
Atasan        : Tolong kerjakan tugas A ya. 
Bawahan       : *diam* *malas bilang iya*
Atasan           : *diam* *menunggu bawahan merespon*
Bawahan       : *kekeuh untuk tetap diam daripada disahutin “jangan iya-in saya doang”.

Semakin sering hal ini terjadi, semakin meningkat pula intensitasmu untuk berdoa supaya diberi kemampuan lebih untuk menghadapi respon si bos yang unik bin ajaib.


Bahasa kalbu yang belum sempat kamu pelajari
Ketika kamu bingung dengan si atasan yang tak kunjung merespon

Sebagai lulusan sarjana dari salah satu universitas di bumi, kamu tak pernah mengikuti mata kuliah bahasa kalbu. Layaknya manusia pada umumnya, bahasa Indonesia menjadi modal percakapanmu sehari-hari.

Tak heran, kamu menjadi bingung ketika atasanmu cuman diam saat kamu berbicara dengannya. Kira-kira begini percakapan yang terjadi.

Bawahan       : Pak, saya sudah kirim email yang Bapak minta ya.
Atasan           : *diam* *tak bergeming*
Bawahan       : Saya barusan kirim ya, Pak *masih mencoba berbahasa manusia*
Atasan           : *khusuk memandang laptop*
Bawahan       : *mulai berniat untuk berjoget-joget di depan mukanya*

Ingin rasanya kamu melambai-lambaikan tangan di depan mukanya sambil berteriak “Pak, ini aku ngomong loh!”. Sayangnya, hal itu cuman angan-angan semata. Yang bisa kamu lakukan cuman berdoa sambil bertekad untuk lebih banyak berbuat baik supaya tak perlu menghabiskan hidup lebih lama dengannya.  


Aturan nomor satu, bos tak pernah salah.
Ketika si bos mulai menceramahimu dengan panjang kali lebar

Memeriksa pekerjaan sebelum diberikan kepada atasan adalah undang-undang yang wajib ditaati.  Masalahnya, si bos yang mahabenar selalu bisa mencari-cari menemukan hal-hal yang kurang sempurna di matanya.

Mulai deh, nasihat seperti “makanya cek dulu sebelum email-nya dikirim” atau “seharusnya kamu sudah mengerti ini dong” mulai meluncur dari bibirnya. Padahal kamu sudah meminta maaf atas pekerjaanmu yang tak memenuhi “standar” si bos.

Salah itu wajaaaar keles

Namanya juga manusia, pasti ada kalanya jatuh dalam kesalahan dong. Ketika atasanmu melakukan kesalahan yang sama denganmu, mulai deh ia bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Boro-boro mengakui kesalahannya, si atasan perlahan-lahan mengalihan topik dengan cara memberimu setumpuk pekerjaan supaya kamu segera amnesia terhadap kesalahan yang dibuatnya.

Jujur saja, kalimat “makanya cek dulu sebelum email-nya dikirim” sudah berada di ujung lidahmu kan. Ingin rasanya kamu menasihati atasanmu persis seperti cara ia menyalahkanmu memberimu wejangan.

Untungnya, kamu segera mengingat kastamu di perusahaan sebelum kalimat-kalimat tak sedap meluncur dari bibirmu. Ya apalagi yang bisa kamu lakukan selain mendoakan supaya gengsi atasanmu dikurangi atau kesabaranmu ditambahkan. *sujud sembah*


Tak ada kosakata “tolong dan terimakasih” dalam kamus si bos
Rupanya kata tolong itu mahal harganya

Namanya saja menjadi bawahan, kamu pasti sadar betul bahwa perintah si bos adalah makanan sehari-hari. Disuruh menyiapkan data A-Z, mencatat hasil rapat, dan menyelesaikan berbagai perintilan lainnya merupakan hal yang biasa.

Masalahnya nih, cara ngomong si bos yang sengak nan sok tahu selalu bikin kamu mengidap darah tinggi mendadak. Boro-boro menggunakan kata tolong di awal kalimat, cara si bos memberi perintah selalu membuatmu merasa menjadi manusia dengan kasta paling rendah di bumi *lebay*. Ga heran kamu mulai berpikir, perasaan gue minta tolong kepada si bibik di rumah aja lebih sopan dibandingkan cara si bos ngomong. 


Yaps, ini hanya imajinasi semata

Ga cuman itu, kata terima kasih seolah menjadi kosakata langka yang tak ada dalam kamus si bos. Mau tugas itu sudah kamu kerjakan sampai mendaki gunung melewati lembah weekend berlalu begitu saja, wajah atasanmu tetap datar. Tak ada sedikitpun mimik ataupun gestur tubuhnya yang menunjukkan gejala bahwa ia menghargai pekerjaan tersebut.

Dalam hati, kamu pun bertanya-tanya, kesalahan apa yang kamu lakukan dalam hidupmu sampai harus bertemu dengan atasanmu. Diam-diam, kamu bertekad untuk lebih rajin berdoa dan beramal kepada mereka yang membutuhkan supaya hidupmu segera dijauhkan dengan atasan macam itu.



Jadi, ada ga sih tingkah unik atasanmu yang bikin hidupmu terasa lebih “berwarna” dan “meriah”? Komen dong di kolom bawah. Siapa tau bisa jadi penyemangat teman-teman sekasta bahwa ia tak sendirian menghadapi hal unik bin ajaib. :P







With love,
Bells

Selasa, 17 Juli 2018

Mencintaimu Sekali Lagi


My favourite quote since college

Kesel ga sih kalo punya gebetan yang bilangnya kangen, tapi nyamperin ke rumah aja cuman hitungan jari? Bilangnya seneng ngobrol bareng kamu, tapi ga ada inisiatif buat nge-chat duluan? Atau bilangnya sayang, tapi ga ada usaha untuk menunjukkan perasaan itu sendiri?

Duh, siapa yang ga kesel coba kalo punya gebetan kayak gitu. L

Ga cuman untuk gebetan, pertanyaan di atas juga menohokku untuk mempertanyakan relasiku dengan … … … *drumroll* kegiatan yang selalu kudaulat sebagai hobiku, tapi jarang kusentuh akhir-akhir ini. Yaps, apalagi kalau bukan menulis. J


Kalau kuanalogikan menulis sebagai gebetan, mungkin begini kira-kira bunyi pertanyaannya :
Kesel ga sih kalo bilangnya kangen nulis, tapi jumlah tulisannya tak sampai hitungan jari dalam setahun? Bilangnya jatuh cinta dengan menulis, tapi ga ada inisiatif untuk meluangkan waktu? Atau bilangnya sayang, tapi ga ada usaha untuk menunjukkan dan mengembangkan kemampuan menulis itu sendiri? 

Nah, (kembali lagi) kalau dianalogikan sebagai gebetan, mungkin begini curahan hati “si menulis”.

Elo ya, seenaknya ngeklaim gue sebagai gebetan hobi lo, tapi ga mau ngasih usaha lebih ke hubungan ini. Boro-boro usaha, ngeluangin waktu aja bagai mencari jarum dalam jerami alias susah banget.

Jejak terakhir di blog atas nama www.mylifeasahappycreature.blogspot.com

Kegelisahan di atas muncul usai keisenganku menyambangi blog ini. Desember 2016 menjadi saksi terakhir munculnya tulisanku yang berjudul “5 Hal Horor yang Ga Mungkin Terjadi Ketika Adikmu Berjenis Kelamin Laki-Laki”.

Kemana perginya 1 tahun 7 bulan ini tanpa sedikit jejakpun di blog ini? Entahlah! Jawaban klise seperti “ga punya waktu untuk ngetik di laptop” atau “ga ada ide yang butuh untuk dituangkan” terdengar salah dan mengada-ada.

Sebagai penganut prinsip “Nobody is too busy. It’s just a matter of priorities”, alasan tidak punya waktu menjadi omong kosong semata. Soal tak punya ide menjadi tidak realistis mengingat ide dapat muncul dimana saja dan kapan saja. Lagipula 1 tahun 7 bulan adalah periode yang terlalu lama untuk absen dari hal yang disukai. :”)


So here I am. Mencoba menyusun kata dan merangkainya menjadi paragraf. Menyulam paragraf yang patah menjadi seulas cerita pengisi hari.

1 tahun 7 bulan telah berlalu tanpa kontak yang berarti dengan kegiatan menulis. Membuat hubunganku dengan menulis menjadi kaku dan butuh lebih banyak usaha untuk memulainya kembali. Tapi toh seperti cinta sejati lainnya #asek, aku kembali berkutat di depan layar laptop.

Mencoba memahami sekali lagi makna yang hadir dalam hidupku dengan menyusun tulisan ini. Mencoba merasakan apakah ini cuman perasaan rindu sesaat atau memang inilah perasaan lega yang ingin kutuju selama ini.

Kalau menulis dianalogikan sebagai gebetan, mungkin aku akan meminta ijin padanya untuk mencintainya sekali lagi. J Memperbaiki hubungan yang berdebu karena terlalu lama dilupakan dan diabaikan. Kembali pada perasaan yang kurindukan ketika ide mulai berloncatan di benakku dan jemariku berlomba dengan waktu untuk menuangkannya.

Jadi, mulai hari ini, aku ingin mengijinkan diriku sendiri untuk jatuh cinta sekali lagi pada menulis. Ya, aku cuman ingin mencintainya sekali lagi. J




With love,

Bells




ote : Hei, guys! Long time no see! Please enjoy my writing above. Hopefully, one new post will appear at this blog weekly. #amen *insert swear emoji here* ;)