Minggu, 29 Maret 2015

So Here is The (Long) Process ..



Setelah terpilih sebagai 5 terbaik mahasiswa berprestasi UNIKA Atma Jaya 2015 (still can’t believe that I’ve been chosen for this! :”)), banyak teman-teman mahasiswa yang menanyakan proses apa saja yang harus kulalui untuk sampai pada malam final. Beberapa bahkan menanyakan “rahasia” sehingga aku bisa terpilih sebagai 5 terbaik.

Berhubung jawaban chatting via line cukup terbatas karena capek mengetik panjang lebar, aku memutuskan untuk menuliskannya dalam blog. Tujuannya sederhana, supaya teman-temanku mendapatkan jawaban yang lebih jelas dan konkrit (daripada yang kubalas via chatting) sekaligus mendapatkan gambaran dari proses panjang pemilihan mahasiswa berprestasi setiap tahunnya.
Sebagai informasi, seleksi mahasiswa berprestasi terdiri dari beberapa tahap.

Pertama-tama, pastikan kalau kita tidak melewatkan informasi mengenai pembukaan pendaftaran dalam rangka pemilihan mahasiswa berprestasi di Atma Jaya. Biasanya, pihak universitas akan memasang spanduk yang cukup mencolok di dekat parkiran motor BKS. Poster-poster juga ditempel pada (hampir) semua papan informasi. Pengumuman semacam ini biasanya mulai tersebar luas di pertengahan November. So, be aware! :D

Yang tak kalah penting, perhatikan persyaratan dan jadwal kegiatan yang tercantum dalam poster. Pastikan kalau kita memang memenuhi semua persyaratan yang tercantum dalam poster tersebut (mulai dari IPK minimal yang dibuktikan dengan melampirkan KHS, nilai TOEFL minimal, jumlah SKP yang dibutuhkan, hingga surat rekomendasi dari wakil dekan III).

Surat rekomendasi ini bisa diperoleh dengan mengajukan langsung kepada wakil dekan III di masing-masing fakultas. Oh ya, karna nilai TOEFL hanya berlaku dalam jangka waktu 1 tahun, universitas juga menyelenggarakan test TOEFL bagi calon mahasiswa berprestasi yang diadakan sebanyak 2x. Perhatikan tanggal dan waktu penyelenggaraan test TOEFL tersebut. :D

Tahap seleksi pertama dilakukan dengan mendaftarkan diri dan mengumpulkan berkas ke masing-masing fakultas. Berkas tersebut berisi CV, surat rekomendasi dari wakil dekan III, dan form yang dapat diunduh melalui website atmajaya.ac.id. Form tersebut kemudian diprint dan diisi.

Pertanyaannya sekarang, memangnya apa saja sih yang harus diisi dari form yang cukup tebal tersebut? Ada beberapa hal yang harus diisi, yaitu biodata diri, 5 prestasi terbaik yang pernah diperoleh, dan pendataan berbagai kegiatan yang harus diikuti. Kegiatan tersebut dapat berupa aktif menjadi pengurus organisasi (baik di dalam maupun di luar kampus), lomba-lomba yang pernah diikuti (atau bahkan menjadi pemenang dari lomba tersebut), hingga seminar-seminar yang pernah diikuti (baik di dalam maupun di luar kampus). Semua kegiatan tersebut kemudian akan dikonversi menjadi poin-poin tertentu dimana setiap kegiatan memiliki nilai yang berbeda-beda. Oh ya, setiap kegiatan tersebut harus dibuktikan dengan melampirkan sertifikat dari kegiatan tersebut. Terakhir, masukkan semua berkas tersebut dalam amplop coklat serta tulislah nama dan asal fakultas kita di bagian depan amplop.


Tips & Trick :
A.      Pastikan kalau kita membuat CV dengan format yang benar. Walaupun tidak ada format CV yang baku, kita bisa mencontoh dari teman-teman kita yang sudah pernah membuat CV untuk melamar pekerjaan. Atau, kita juga bisa googling format CV yang benar. Kalau sudah selesai membuat CV, pastikan tidak ada typo dan minta orang lain membaca CV kita (supaya kita tahu jika ada hal-hal yang harus diperbaiki). CV dibuat dalam 1-2 halaman karena CV harus singkat dan jelas.

B.      Mintalah surat rekomendasi dari wakil dekan III jauh-jauh hari. Mengingat kesibukan beliau yang cukup tinggi, kita tentu tidak bisa seenakjidatnya meminta beliau untuk memberikan surat rekomendasi pada waktu kita mengajukannya. Ajukanlah 1-2 minggu sebelum deadline perngumpulan berkas.

C.      Karena sertifikat dibutuhkan sebagai bukti kegiatan, kita harus tekun mengumpulkan berbagai sertifikat tersebut. Sejak masuk kuliah, simpanlah sertifikat tersebut dalam satu map sehingga mudah mencarinya saat membutuhkannya. Jangan lelah menagih pihak penyelenggara seminar yang belum memberikan sertifikat sebagai peserta ataupun organisasi mahasiswa yang belum memberikan sertifikat sebagai panitia.

D.      Lalu, bagaimana jika peserta seminar atau kepanitiaan tertentu tidak memberikan sertifikat? Jika demikian, kita dapat mengajukan surat keterangan kepada wakil dekan III. Format surat tersebut dapat diminta kepada wakil dekan III. Surat keterangan tersebut dapat dilengkapi dengan foto-foto atau nametag dari kegiatan tersebut. Intinya, cantumkanlah bukti (pada surat keterangan) yang mendukung bahwa kita memang benar-benar telah mengikuti kegiatan tersebut. Oh ya, sama seperti surat rekomendasi, jangan mengajukan surat keterangan tersebut mendekati deadline.

E.       Berdasarkan pengamatan, seminar dan organisasi di luar kampus yang kita ikuti memberikan poin yang (sedikit) lebih besar dari seminar dan organisasi di dalam kampus. Karena itu, tak ada salahnya jika kita mulai mengikuti berbagai seminar dan bergabung dengan organisasi di luar kampus. Misalnya, @youngontop, @ifutureladers, @cewequat, dan masih banyak lagi. :D

Berdasarkan berkas tersebut, terpilihlah 30 finalis mahasiswa berprestasi. Tahap seleksi kedua dilakukan melalui karya tulis ilmiah. Ada waktu sekitar 30 hari dari sejak pengumuman 30 finalis terpilih hingga deadline pengumpulan karya tulis. Untuk membuat karya tulis ilmiah, kita dapat memilih satu dosen pembimbing. Dosen pembimbing inilah yang akan memberikan masukan dan saran mengenai karya tulis tersebut. Kita dapat memilih 1 dari (kurang lebih) 12 tema yang disediakan.

Btw, menurutku, tahap seleksi kedua merupakan tahapan tersulit karena aku belum pernah membuat karya tulis ilmiah. Untungnya, universitas menginformasikan isi karya tulis (latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, rumusan masalah, dasar teori, dll) secara sistematis dan format yang digunakan secara detail. Selain itu, aku bersyukur karena aku memiliki dosen pembimbing (a.k.a Kak Andina) yang kooperatif dan banyak memberikan masukan selama proses penulisan. Aku banyak berkonsultasi mengenai permasalahan yang kuangkat beserta solusinya kepada Kak Andina. Beliau selalu (berbaik hati) menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang kuajukan via chatting di line. Tak hanya itu, Kak Andina dan Pak Satria (wakil dekan III FIABIKOM) sangat membantuku dalam menghadapi kebingungan dan keraguanku yang datang silih berganti tanpa jeda.


Tips & Trick :
A.      Klise : pilihlah topik yang kita kuasai (BISA) dan sukai (MAU). Bayangkan deh, menulis karya ilmiah saja bukan perkara mudah. Apalagi jika kita memilih topik yang tidak kita sukai. Kesulitannya akan terasa 2x lipat.
Pada kesempatan tersebut, aku memilih untuk menulis karya ilmiah dengan judul “Peran Generasi Muda dalam Mengatasi Kekurangan Stok Darah yang Dimiliki PMI sebagai Upaya Gerakan Kemanusiaan”. Topik ini kupilih karena aku menyukainya sekaligus menyadari bahwa generasi muda cenderung tidak peduli dengan kegiatan donor darah.

B.      Buatlah deadline yang jelas dan terukur. Percaya deh, tanpa deadline, akan sulit menyelesaikan karya tulis tersebut. Deadline juga dapat membantu kita untuk mengatasi penyakit malas dan menunda-nunda.
Sebagai contoh, aku membuat deadline sebagai berikut :
Minggu I              : Membuat cover, lembar pengesahan, kata pengantar, dan daftar isi
Minggu II             : Membuat BAB I (Pendahuluan) dan BAB III (Metode Penulisan)
Minggu III            : Membuat BAB II (Telaah Pustaka) dan BAB IV (Analisis & Sintesis)
Minggu IV           : Membuat BAB V (Simpulan & Rekomendasi), daftar pustaka, dan ringkasan
Aku membebaskan diri untuk menentukan waktu mengerjakan karya tulis. Hanya saja, pada akhir minggu, target dari deadline tersebut harus sudah tercapai (kok pas menulis artikel ini rasanya mudah sekali ya? Padahal rasanya berat sekali saat menulis karya ilmiah tersebut :”))

C.      Pilihlah dosen pembimbing yang kooperatif dan mau meluangkan waktunya untuk memberikan masukan serta saran. Namun, yang perlu diingat, kita adalah aktor utama yang bertanggungjawab terhadap karya ilmiah tersebut. Kitalah yang harus aktif menanyakan saran dan masukan dari dosen tersebut. Menurutku, tidak tepat rasanya jika kita mendatangi dosen dengan “pikiran kosong”. Pastikan kalau kita memiliki ide sebelum meminta saran.

D.      Jangan malu untuk meminta contoh karya ilmiah yang dibuat oleh finalis mahasiswa berprestasi tahun sebelumnya. Mintalah beberapa contoh karya ilmiah yang benar (terutama dari finalis mahasiswa berprestasi yang sampai pada tahap 20 besar atau bahkan 5 besar). Kalau kita merasa segan untuk meminta karya tulis dari finalis yang tidak kita kenal, mintalah contoh karya tulis dari finalis yang berasal dari satu fakultas yang sama.
Sebagai contoh, aku meminta beberapa sample karya tulis dari finalis mawapres tahun sebelumnya. Beruntungnya, semuanya mau memberikan karya tulisnya dengan senang hati. Tentu saja aku berterima kasih sekali kepada Ci Noni, Kak Bong, Kak Theo, dan Stella yang telah mempermudah proses penulisan karya ilmiah yang tidak mudah tersebut.

Masih termasuk dalam tahap kedua, ketiga puluh finalis diminta untuk mempresentasikan karya tulisnya di depan wakil dekan III dari berbagai fakultas. Presentasi dapat dibuat dalam bentuk powerpoint maupun prezi. Durasinya adalah 10 menit. Apabila kita melewati waktu tersebut, presentasi akan tetap dihentikan pada menit kesepuluh. Ketiga juri utama akan memberikan pertanyaan dimana masing-masing juri memiliki waktu selama 10 menit. Oh ya, wakil dekan III dari fakultas kita tidak akan menjadi juri (yang menilai kita) demi menjaga objektivitas.

Untuk teknisnya, jangan lupa membawa slide dalam USB, backup slide di email, bawa pointer untuk mempermudah dalam mengoperasikan slide, print karya ilmiah tersebut (untuk membantu kita dalam menjawab pertanyaan juri), dan datang 30 menit sebelum waktu presentasi.

Yeah! Posterku sudah jadi loh! 

Selama tahap kedua jugalah seluruh finalis diminta untuk berfoto dalam rangka pembuatan poster dan spanduk (YEAH! :D). Jangan lupa untuk mengisi data diri (yang akan ditampilkan di poster) melalui form yang disediakan oleh BKAK. Rajin-rajinlah mengecek email karena informasi tersebut biasanya dikirim melalui email.

Setelah tahapan tersulit tersebut, *drumroll* terpilihlah 20 finalis mahasiswa berprestasi yang fotonya akan dipajang dalam bentuk spanduk di dekat parkiran motor bks dan poster yang bertebaran di papan pengumuman.

Pada tahap ketiga, keduapuluh finalis mahasiswa berprestasi diwajibkan mengikuti tes kepribadian dan narkoba. Tes kepribadian dilakukan melalui psikotest dan wawancara. Psikotest berlangsung selama kurang lebih 3 jam dan dibagi dalam 2 gelombang. Wawancara dilakukan oleh psikolog dari Fakultas Psikologi Atma Jaya selama 30 menit. Yang penting, jawablah setiap pertanyaan sesuai dengan kenyataan mengenai diri kita, bukan seperti apa yang kita inginkan mengenai diri kita. Berkonsentrasilah untuk menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang seolah tak ada habisnya.


                                                    Hore, Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Dinyatakan Selesai!

Malam Final Pemilihan Mahasiswa Berprestasi merupakan tahap terakhir sekaligus tahap yang paling mendebarkan. Sebelum malam final, diadakan gladi kotor sehingga seluruh finalis mendapatkan gambaran mengenai acara yang akan berlangsung. Selama gladi kotor tersebut, finalis akan diatur pada posisi tertentu sehingga tidak kebingungan pada malam final.

Setelah disogok makan sepiring sate, 
para finalis mahasiswa berprestasi kembali tersenyum ceria sesudah melakukan gladi kotor hingga pukul 21.00

                                         Senyum ceria para finalis mahasiswa berprestasi di belakang panggung saat gladi kotor

Tahun ini, gladi kotor dilaksanakan sehari sebelum malam final dimulai pada pukul 14.00 dan diakhiri pada pukul 20.30. Percaya atau tidak, enam jam yang panjang itulah yang mendekatkan para finalis. Karena menunggu sampai terbosan-bosan, para finalis memiliki kesempatan untuk mengenal satu sama lain sekaligus foto bersama. Karena selesai sampai larut malam, gladi kotor tersebut diakhiri dengan makan malam yang disponsori oleh abang sate dekat kampus panitia yang kece dan sangat sabar dalam membantu para finalis.


Tips & Trick :
A.      Kenakanlah kebaya/pakaian daerah yang nyaman. Artinya, tidak terlalu sempit ataupun tidak terlalu longgar. Peniti adalah benda kecil yang perlu dibawa untuk menyelamatkan diri saat salah satu kancing (dari kostum kita) terlepas.

B.      Gunakanlah alas kaki yang nyaman. Pastikan kalau kita sudah mencoba alas kaki tersebut di rumah sehingga tidak canggung saat berjalan di panggung. Kalau perlu, bawalah alas kaki cadangan sebagai pengganti ketika alas sepatu utama bermasalah.
Sebagai contoh, tali sepatu wedgesku copot 5 menit sebelum aku naik ke atas panggung. Rasanya panik setengah mati karena aku takut terjatuh di atas panggung. Untungnya, aku meminta sepupuku untuk membawa sepatu wedges cadangan. Walaupun menggunakan wedges yang rusak saat pertama kali tampil di atas panggung, aku dapat menggunakan wedges cadangan saat menjawab pertanyaan. Tanpa wedges cadangan tersebut, sulit rasanya berkonsentasi untuk menjawab pertanyaan (karena pikiranku akan terbelah antara sepatu yang rusak dan pertanyaan yang diajukan juri).

Next, pertanyaan yang paling sering diajukan oleh teman-teman adalah mengenai pertanyaan yang diajukan oleh juri pada malam final.

FYI, keduapuluh finalis tidak tahu sama sekali pertanyaan yang akan diajukan. Jangankan pertanyaannya, keduapuluh finalis bahkan tidak mengetahui juri misterius yang akan menilai pada malam final. Yang diketahui para finalis ialah bahwa juri tersebut adalah pribadi-pribadi yang expert di bidangnya dan akan mengajukan pertanyaan yang bersifat pengetahuan umum.

Pada malam final, seluruh finalis akan mengambil kertas pada sebuah kotak. Kertas tersebut berisi nama 2 juri yang masing-masing akan memberikan 1 pertanyaan. Namun, ada juga kertas “bonus” yang berisi nama  3 juri, sehingga finalis tersebut harus menjawab 3 pertanyaan. Sacara teknis, juri mengajukan pertanyaan selama 30 detik dan finalis menjawab selama 1 menit (ucapan finalis akan dipotong apabila melebihi 1 menit).

Pada malam final tersebut, aku mendapatkan kertas bonus tersebut sehingga terdapat 3 pertanyaan yang harus dijawab. Ketiga pertanyaan tersebut adalah :

1.    Sekarang ini, banyak berkembang sekolah bertaraf internasional. Apa pendapat Anda mengenai sekolah bertaraf internasional?

2.    DPR memiliki tunjangan sebesar 12.5 juta untuk menjalankan rumah aspirasi. Apakah yang harus dilakukan DPR dengan uang sebesar itu?

3.    ORMAWA dibentuk dengan tujuan untuk mengembangkan kemampuan mahasiswa. Apa yang harus dilakukan untuk memaksimalkan tujuan tersebut?

Dari ketiga pertanyaan tersebut, pertanyaan kedua merupakan pertanyaan yang paling mendebarkan. Jujur saja, aku tidak tahu sama sekali mengenai rumah aspirasi (btw, sekarang aku sudah tahu loh apa itu rumah aspirasi dan aku jamin bahwa kata tersebut akan terus menancap di otakku. Silahkan klik kata rumah aspirasi untuk mendapatkan jawabannya).

Lalu, apa yang aku lakukan? Aku berusaha menebak apa rumah aspirasi tersebut berdasarkan kata itu sendiri. Aku kemudian menjawab dengan tegas bahwa DPR harus membuat perencanaan spesifik mengenai penggunaan uang tersebut. Tak hanya itu, DPR diwajibkan untuk mengunggah perencanaan tersebut di internet sehingga masyarakat dapat mengetahui manfaat dari uang tersebut.


Tips & Trick :
A.      Walaupun gugup dan takut tidak mampu menjawab pertanyaan *curhat*, berfokuslah pada pertanyaan yang diajukan. Karena gugup, seringkali kita menjawab pertanyaan di luar konteks yang dimaksud.

B.      Jawablah pertanyaan dengan tegas dan jelas. Oh ya, jika kita merasa lebih nyaman berbicara dengan mic di tangan, lepaskanlah mic dari penyangganya.

C.      Jawablah pertanyaan sesuai dengan waktu yang tersedia. Jangan menjawab dengan terlalu singkat maupun terlalu panjang lebar. Be efficient.


Sebagai penutup, aku ingin berterima kasih semua pihak yang sudah membantuku dalam mengikuti proses pemilihan mahasiswa berprestasi 2015. Tidak mungkin rasanya mencapai apa yang sudah aku raih sekarang tanpa bantuan mereka. Karena tulisan ini sudah cukup panjang, maka ucapan terima kasih tersebut akan kulanjutkan dalam posting berikutnya (silahkan di klik kata posting berikutnya). :D



Cheers,
Bella



Jumat, 28 November 2014

For A Better Women’s Future


I am so saddened and grossed out by young women who look like creepy, old aliens because of their new Barbie noses and lips. Is that a smile or a grimace?

Why this campaign?
            
           Sering kita jumpai iklan – iklan yang menunjukkan perempuan cantik itu berciri – ciri bertubuh langsing semampai, berkulit putih, dan berambut panjang. Hal – hal seperti ini membuat banyak perempuan merasa tidak percaya diri terhadap bentuk tubuhnya sendiri. Perempuan berlomba – lomba untuk mendapatkan tubuh sempurna seperti yang dimiliki para model. Dengan kata lain, perempuan tidak menghargai tubuhnya sendiri. Padahal dengan stereotipe yang menganggap perempuan yang cantik adalah langsing ataupun putih, tidak membuat segalanya menjadi lebih baik.

Banyak perempuan yang rela mengubah tubuhnya sendiri melalui operasi demi kesempurnaan, ataupun mengalami anoreksia (gangguan makan yang ditandai dengan penolakan untuk mempertahankan berat badan yang sehat dan rasa takut yang berlebihan terhadap peningkatan berat badan akibat pencitraan diri yang menyimpang) yang menyebabkan kesehatan terganggu. Bukan hanya hal – hal diatas yang membuat campaign ini dibuat, tetapi kurangnya kesadaran perempuan mengenai anggapan bahwa perempuan hanya pemuas nafsu belaka, membuat kami sadar bahwa perempuan harus lebih mencintai dan menghargai dirinya sendiri.



Gambar – gambar yang terkandung didalam games online sering kali juga mengandung pornografi. Bagian penting dari perempuan yang seharusnya tak terekspos, menjadi tontonan bagi pemain games yang didominasi oleh pria. Hal – hal inilah yang membuat campaign ini dilakukan, agar perempuan dimanapun mereka berada, sadar kalau harga diri mereka harus dijaga dan cantik itu tidak harus selalu seksi, langsing, putih, berambut panjang, atau bertubuh tinggi. Perempuan harus mampu mencintai diri mereka apa adanya.

The Ugly Truth


4 dari 5 anak berusia 10 tahun mengatakan bahwa mereka takut menjadi gemuk

42% dari perempuan yang duduk di kelas 1-3 SD berharap mereka memiliki tubuh yang lebih kurus dari apa yang dimilikinya sekarang

50% dari perempuan berusia 9-10 tahun mengakui mereka merasa lebih baik ketika mereka melakukan diet

47% perempuan berusia 5-12 tahun ingin mengurangi berat badan mereka setelah melihat gambar-gambar di majalah.

69% perempuan berusia 5-12 tahun mengakui bahwa gambar-gambar di majalah mempengaruhi mereka tentang gambaran tubuh ideal.

91% perempuan yang sedang menempuh pendidikan S1 menjalankan diet untuk mengontrol berat mereka

1.000 wanita di AS meninggal setiap tahunnya karena anoreksia

Wanita berusia 15-24 tahun memiliki angka kemaktian anoreksia yang 12 kali lebih tinggi dibandingkan penyebab lain dari kematian

90% penderita bulimia adalah perempuan  
 
90% dari penderita gangguan makan adalah perempuan berusia 12-25 tahun



What’s Going On?

Mengerikan rasanya saat mengetahui fakta-fakta tersebut. Ternyata ada banyak perempuan yang masih belum menyadari betapa pentingnya mencintai tubuh sendiri dan menyiksa dirinya untuk mengubah bentuk tubuhnya menjadi sesuatu yang bukan dirinya.

Melalui kampanye ini, kami ingin membangun kesadaran sekaligus mengajak semua perempuan (terutama perempuan remaja berusia 15-24 tahun) untuk semakin mencintai dirinya sendiri. Setelah memiliki kesadaran untuk mencintai dirinya sendiri, perempuan dapat bergerak untuk berfokus pada potensinya dan mengabaikan stereotipe tentang perempuan cantik.

Mencintai diri sendiri dapat dilakukan dengan banyak cara. Cara yang paling sederhana adalah berhenti berusaha mengejar standar kecantikan yang ditampilkan media massa. Perempuan yang cantik bukanlah perempuan bertubuh langsing nan semampai atau berkulit putih. Perempuan yang cantik adalah perempuan yang mencintai dirinya sendiri dan melakukan hal-hal positif untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.

What’s Next?
Tentunya mencintai diri sendiri tidak boleh hanya diwujudkan dalam bentuk wacana semata. Harus ada sebuah tindakan nyata yang mendorong lebih banyak lagi perempuan untuk mencintai dirinya sendiri.

Yuk, kita bergerak bersama untuk menggugah perempuan-perempuan di luar sana untuk semakin mencintai dirinya sendiri.



Here are some things to DO :
Post link blog plus video (link :  https://www.youtube.com/watch?v=LbMsepib8IU&feature=youtu.be) ini di semua media sosialmu (twitter, facebook, path, instagram). Pastikan bahwa lebih banyak perempuan membaca kampanye positif ini. :D

Upload foto tiga teman perempuanmu dan sertakan tiga hal positif (yang paling menonjol) mengenai dirinya di instagram. Jangan lupa tantang dia untuk mengikuti jejakmu. :D

Sebarkan quotes dan gambar positif mengenai perempuan dan citra dirinya agar semakin banyak perempuan yang terbuka matanya dan berhenti menyiksa dirinya sendiri. :)


Big things start from small things
Kalau kamu percaya bahwa hal-hal besar dimulai dari hal-hal kecil nan sederhana (yang sering kali luput dari pandangan), ayo lakukan hal-hal sederhana di atas untuk masa depan perempuan yang lebih baik.





With love for a better women’s future,

Novilia Kharisma    2013 022 016

Bella Bernadette    2013 022 017


Related Post :

http://jaringnews.com/kbr/asia-calling/49861/di-india-ada-kampanye-bangga-berkulit-gelap

http://www.kumpulancerita.net/dari-mencukur-bulu-ketiak-hingga-kampanye-kembali-natural.html

http://female.kompas.com/read/2012/02/02/21542587/Anda.Bisa.Mencegah.dan.Stop.Kekerasan

http://wolipop.detik.com/read/2012/03/01/143424/1855528/234/riset-44-wanita-tidak-bahagia-tanpa-make-up

Rabu, 12 November 2014

Ketika Tuhan Berbeda Makna

“Manusia tidak hidup sendirian di dunia ini tapi di jalan setapaknya masing – masing. Semua jalan setapak itu berbeda – beda namun menuju ke arah yang sama, mencari satu hal yang sama, dengan satu tujuan yang sama yaitu Tuhan.”
-Rika-
Munculnya sekumpulan tanda tanya di benak penikmat film mungkin adalah benang merah paling esensial yang berkaitan dengan judul film. Pertanyaan klise seperti “Masih pentingkah kita berbeda?” dan “Masih pentingkah kita mempermasalahkan perbedaan tersebut?” merupakan tanda tanya yang terus digali sepanjang film berdurasi 100 menit ini.

Alunan cerita dimulai dengan lagu merdu khas gereja berjudul Gita Sorga Bergema. Masjid, gereja, dan vihara ditampilkan secara bergantian sementara musik yang sama masih terus mengalun. Permulaan film yang menceritakan tiga kisah berbeda ini dimulai dengan peristiwa penusukan Pastur Albertus oleh orang yang tak dikenal di depan gereja. Seperti fakta yang kerap kali muncul ke permukaan, pemerintah (melalui wali kota Semarang) mengklarifikasi kejadian tersebut sebagai murni kriminalitas walaupun muncul spekulasi bahwa peristiwa tersebut terjadi atas nama perbedaan.


Selanjutnya, barulah Hanung Bramantyo dengan gamblang mengantarkan penonton ke alur cerita yang sesungguhnya. Ada Tan Kat Sun (Hengky Solaiman), pemilik restoran Chinese Food dan Hendra (Rio Dewanto), anak pemilik restoran yang mengutamakan egonya. Ada pula Menuk, pegawai restorann chinese food yang selalu berhijab dan menjalani hidupnya dengan benar. Ditampilkan pula kedekatan antara Rika (Endhita), yang baru saja bercerai dan berubah haluan menjadi kristiani, yang terlibat hubungan akrab dengan Surya (Agus Kuncoro), aktor figuran yang belum juga meniti tangga karirnya menjadi pemeran utama.

Penonton boleh jadi kagum dengan kecermatan Hanung Bramantyo dalam mengangkat fakta-fakta yang lebih baik dihindari oleh sebagian besar orang. Keterkejutan awam dimulai saat Hendra yang bertengkar mulut dengan sekelompok pria berpeci yang tengah berjalan menuju masjid. Stereotipe yang mengkaitkan terorisme dengan agama tertentu muncul dalam caci maki yang saling dilontarkan. Belum lagi kata “sipit” yang memekakkan telinga etnis Tinghoa, yang dihadirkan untuk menggambar realitas sosial yang sesungguhnya.

Perbedaan menjadi semakin nyata (jika belum layak disebut runcing) tatkala seorang ibu berhijab yang membatalkan niatnya untuk makan di restoran chinese food yang menjual makanan yang kerap disingkat menjadi B2. Walaupun pemilik restoran sudah memisahkan semua peralatan masak (dari panci hingga sendok garpu), tergambar jelas adanya ketidakpercayaan antara ibu berhijab dengan pemilik restoran yang bermata sipit.

Kabar burung yang seringkali menyebar di kalangan masyarakat ternyata juga menganggu pikiran Abi, bocah kecil yang merupakan buah hati Rika. Abi merasa segan karena banyak tetangganya yang mengatakan bahwa ibunya kini tak akan mengijinkannya lagi untuk menginjakkan kaki ke masjid. Secara sederhana, Rika (dibantu oleh Menuk) menjelaskan bahwa Abi tidak perlu khawatir karena Rika akan selalu siap untuk mengantar Abi ke masjid.

Tak hanya dianggap sebagai kafir karena berpindah agama, Rika juga harus menghadapi gosip miring yang kerap menerpa wanita yang baru saja bercerai. Berbagai spekulasi dari orang yang sebenarnya tak berkepentingan dalam hidup Rika memunculkan konflik yang semakin panas antara Rika dengan Abi. Hal ini jelas menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi di kalangan masyarakat yang masih menganggap perceraian sebagai hal yang tabu dan menghakimi orang yang bercerai (apalagi pindah agama) sebagai orang yang paling bersalah di dunia, seolah dirinya sendiri adalah malaikat yang tak punya dosa.

Selain masalah perbedaan agama, perbedaan kedudukan antara laki-laki dan perempuan juga ditampilkan dengan lugas (namun tetap indah) melalui pasangan suami istri Menuk  dan Soleh. Stereotipe bahwa perempuan tidak berhak memiliki pekerjaan yang lebih mapan ditunjukkan saat Soleh meminta Menuk untuk menceraikannya.
Alasannya sederhana, Soleh merasa tak percaya diri tatkala Menuk memiliki penghasilan yang tetap sekaligus tampil sebagai istri yang soleha, ibu yang penuh cinta kasih, dan pekerja yang tekun. Sementara itu, Soleh tak kunjung memperoleh pekerjaan yang dapat menghasilan lembaran uang.

Walaupun perbedaan tersebut kerap memancing konflik, Hanung tetap berupaya memberikan gambaran ideal mengenai relasi yang seharusnya terbentuk antara pihak yang berbeda agama dan ras. Hal ini ditunjukkan dengan rutinitas istri Tan Kat Sun sembahyang menggunakan hio sementara Menuk bersujud di atas sajadah, tepat di samping tempat istri Tan Kat Sun menancapkan hio pada wadah abu.

Film menjadi semakin nyata karena Hanung menampilkan perayaan besar beberapa agama di Indonesia. Waktu yang terus bergulir menjadi indah dengan adanya berbagai perayaan tersebut.

Tentunya film ini masih meninggalkan sejumlah tanda tanya besar. Apakah mungkin seorang pemeluk kristiani yang masuk kategori kelas menengah “rela” menghabiskan sisa hidupnya bersama aktor figuran beragama Islam yang tak jelas masa depannya? Masih adakah Ustad sebijaksana Ustad Wahyu, yang tak melarang pemeluknya untuk menginjakkan kaki di tempat ibadah lain? Apakah mungkin seorang yang tak mempercayai Yesus sebagai juru selamatnya diperbolehkan memerankan karakter Yesus yang merupakan pusat perayaan keagamaan?

Biarlah tanda tanya tersebut tersimpan dalam masing-masing benak karena toh Hanung tak berusaha menggurui dengan memberikan solusi yang terbaik. Pertanyaan yang penting untuk direnungi sekarang mungkin adalah

Masih pentingkah kita berbeda?

Masih pentingkah kita mempermasalahkan perbedaan tersebut?



Cheers,
Bella (2013 022 017)




Selasa, 23 September 2014

Are you afraid of being incontestably?

No one has ever become poor by giving 
                                                          – Anne Frank

               
Nowadays, small and middle businesses (which famous as UKM) has become popular among people. Most of youngster don’t imagine themselves as someone who will go to the office from 8 am to 5 pm after they finish college. Youngster start to think how to create and expand their own business.

Unfortunately, this positive trend doesn’t followed by continous training or good seminar which help people to start their own business. And here is Puguh Priyo Sudibyo. He is an ordinary man with big passion of small and middle business (UKM). Fod god sake, he never thought that he will go this far in giving training and seminar for other people.

It started when the man who became a master of biology in Airlangga University led a talkshow about UKM in Probolinggo at 2006. He didn’t only asking a questions to the speakers, but he also tried hard to understand the dialogue. After the talkshow finished, he concluded that UKM has a big chance to be developed. Unfortunately, there was no feasible medium to learn and expand. He looked around and found that most of training was given only at the beginning of UKM establishment. There was no mechanism that could help the UKM so that they would survive and expand. The man who was born at December 10th 1965 was puzzled because the government only trying to make the new UKM without a sufficient training to explain how the UKM should be going on.

At that time, Puguh was working as a musical instrument seller in Probolinggo. He also had 13 branch of water filter service in East Java. At the same year (2006), he started to collect people who attend UKM talkshow because he believe that they had the same insterest with him. They gathered as a small business group name Le Ollena. Le Ollena means souvenir (oleh-oleh) in Madura language. Le Ollena then created many products that comes from fish. He chose fish as a staple of his product because Probolinggo is placed near to the north coast of East Java. Together with this group, Le Ollena has many products started from kerupuk ikan, abon, and ikan krispi. Then the products develop into manggo syrup and oyster chips. Finally, their revenue reach a fantastic number which is one hundred millions every month.

Unfortunately, Puguh was not 100% satisfied with his UKM achievement. Why? Because he could see that there are still many UKM who don’t know how to maintain a sustainable business. He started to give a seminar and training for other people. Not only that, Probolinggo City Government also invited him to give a training for many UKM. In his training, he doesn’t only tell people what to do at the early stages, but he also gives a clue how to maintain and develop the business. He doesn’t want to tell people what kinds on product to be imitated whereas he give people a knowledge to create and modified the product. He also attend many UKM training given by successful business owner in order to develop himself more. He always update his training material after he follow a good seminar. He has a big heart to share a knowledge with other people.

He saw that many UKM don’t pay enough attention for product packaging. Usually UKM only focus on product development such as the taste and the quality. Unfortunately, in this modern world, people pay so much attention to the packaging. The price of product has a big corellation with the packaging. Because of this problem, Puguh give a training about the product packaging so that the price of the product will be increase.


Besides the formal training, he accepted many people who want to start their own business. Even some people stay some nights in his house to learn the way he run his UKM. Those people not only come from Probolinggo, they also come from other cities. They come “only” to meet him and listen to Puguh’s words.  For those services, Puguh never take any payment. He do that things only to help other people.

Puguh has an interesting principle. He believe that if we facilitate other’s need, we will find an easier way to finish our problems. He is not afraid that his “student” will expand their business better than him. For him, everyone has their own path. He stated that many small success stories will give a significant impact to Indonesia’s economic growth.


As personal, I really impressed with Puguh’s believe and action. Not to say, many people are afraid to share their “secret” in creating a good business. They are worried that other people will do better than themselve. Puguh is an exception for that case. He share his knowledge to other people for free. He has a big heart to contribute something positive for this nation. He doesn’t wait other people to do something instead he pushes himself to create a better business environment for everyone else.



Big things start from small things.
And it all starts from us.


With love,
Bella Bernadette
2013 022 017




Selasa, 09 September 2014

Ketika Florence Mengguncang ISIS


Apa sih yang terpikirkan di benak kita tatkala mendengar kata media sosial? Sebagian besar dari kita mungkin mulai mebayangkan ikon dari twitter, facebook, path, instagram, dan masih banyak lagi. Namun, jika ditanya mengenai kasus terkini yang berkaitan dengan media sosial, ingatan kita pun melayang pada sosok Florence Sihombing. Namanya yang tak pernah terdengar sebelumnya, kini diperbincangkan oleh khalayak luas. Sosoknya yang tak pernah menarik perhatian, kini ramai disorot media massa. Identitasnya yang tak pernah mencuat, kini diserbu oleh keingintahuan masyarakat mengenai dirinya.

Florence Sihombing tentu tak pernah bermimpi (bahkan membayangkan pun tidak) bahwa sosoknya akan menjadi trending topic di media sosial berlambang burung berkicau. Tepatnya pada Kamis, 28 Agustus 2014, hashtag #usirflorencedarijogja menempati urutan teratas trending topic dunia. Peristiwa ini tentu menjadi saksi bisu bahwa kasus mahasiswa S2 fakultas hukum UGM ini tak hanya menjadi magnet bagi masyarakat Yogyakarta, melainkan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Kisah di balik kasus Florence

Kasus ini bermula saat mahasiswi UGM tersebut tengah mengantri BBM di salah satu SPBU di Yogyakarta. Melihat panjangnya antrean motor,Florence mengarahkan motornya ke antrean mobil untuk membeli Pertamax. Sayangnya, Florence tak dilayani oleh petugas SPBU. Tak hanya itu, ia juga mendapatkan teguran dari aparat keamanan yang sedang berjaga di SPBU. Untuk meluapkan kekesalan yang menumpuk, Florence pun melontarkan sejumlah makian terhadap kota Yogyakarta melalui akun pathnya.

Efek bola salju ternyata berlaku pula untuk makian yang dilontarkannya. Entah bagaimana, makian tersebut menyebar dari satu akun ke akun lainnya. Padahal, media sosial path memiliki tingkat privasi yang lebih baik dibandingkan media sosial lainnya. Akibat efek bola salju tersebut, Florence pun harus menjalani proses hukum dan menghadapi sidang komite etik fakultas hukum UGM. Tragisnya, ia juga sempat ditahan dan diancam hukuman 6 tahun penjara.

Apa pendapatmu?

Peristiwa ini tentu saja memancing beragam reaksi dari berbagai lapisan masyarakat. Ada yang mendukung hukuman penjara bagi Florence. Namun ada juga yang mengutuk keputusan tersebut. Kubu yang mendukung hukuman penjara bagi Florence umumnya menyatakan bahwa ucapan Florence di media sosial adalah hinaan pahit bagi kota yang dikenal sebagai tempat berkumpulnya pelajar dari seluruh Indonesia. Lebih jauh lagi, ucapan Florence dianggap mampu memecah rasa persaudaraan dan menimbulkan kecemasan di kalangan masyarakat Yogyakarta.

Semua orang tentu berhak menyatakan opininya mengenai sebuah kasus. Lebih jauh lagi, semua orang juga berhak (dan bertanggungjawab) untuk menggunakan akal sehatnya dalam menilai suatu permasalahan sosial.

Tentu tak ada yang bisa mengelak bahwa Florence terbukti secara sah melontarkan ucapan bernada hinaan kepada Kota Yogyakarta. Namun, hinaan yang dilontarkan oleh masyarakat terhadap sebuah kota tentu bukanlah hal baru. Coba saja tengok timeline twitter di hari Senin. Pasti kita akan menemui tweet yang mengeluhkan segudang permasalahan di Jakarta. Mulai dari kemacetan di jalan raya, rendahnya mutu pelayanan transportasi hingga betapa tidak layaknya kota ini disebut sebagai Ibu Kota Indonesia (apakah hal ini bukan merupakan hinaan sekaligus tamparan untuk Kota Jakarta?)
Selanjutnya, Florence dianggap memecah rasa persaudaraan dan menimbulkan kecemasan di kalangan masyarakat Yogyakarta. Di sinilah mungkin letak “kehebatan” seorang Florence Sihombing. Kasusnya yang tak dapat dikategorikan sebagai tindakan kriminal mampu mengusir permasalahan lain (yang lebih penting) dari tangga popularitas. Rasanya, ISIS pun patut melakukan “protes” kepada masyarakat luas karena masyarakat tampaknya lebih mengkhawatirkan ucapan Florence (yang sebenarnya tidak memprovokasi siapa pun untuk menentang kedaulatan NKRI) dibandingkan ISIS yang jelas-jelas merangkul masyarakat untuk membuat Negara Islam sendiri.

Aneh rasanya jika sejumlah orang rela berdiri di jalan untuk mendukung penangkapan Florence Sihombing, sementara hanya segelintir orang yang menaruh perhatian pada bahayanya pergerakan ISIS di bumi pertiwi. Aneh rasanya jika polisi lebih rela mengeluarkan keringatnya untuk menangkap Florence (yang tidak menunjukkan tanda perlawanan sama sekali) dibandingkan mengejar keberadaan ISIS yang menggeliat lincah tanpa disadari. Aneh rasanya jika kita (sebagai mahasiswa) mengetahui setiap detail kasus Florence Sihombing, tetapi tidak menaruh minat terhadap pergerakan ISIS yang diam-diam merajalela.

Tentu tidak seorang pun mengatakan bahwa perbuatan yang dilakukan mahasiswi UGM tersebut adalah tindakan yang tepat dan bijaksana. Namun, semua tentu menyadari bahwa masih ada begitu banyak permasalahan sosial lain (yang tentunya lebih penting karena menyangkut denyut nadi kehidupan masyarakat) yang harus diselesaikan. Sayang rasanya jika kita, pemerintah, dan masyarakat hanya membuang-buang energi untuk sebuah kasus “sepele” namun membiarkan kasus kelas kakap menggantung tanpa ada penyelesaian.

Gambar diambil dari


With love, 
Bella Bernadette
2013 022 017










Minggu, 20 Oktober 2013

It Hurts But …

Notes : Heii, people! Long time no see! Duh, maafkan sikapku yang tidak konsisten dalam menghasilkan tulisan. *sujud mohon maaf*. Btw, tulisan ini terinspirasi dari novel Refrain dan Remember When karya Winna Efendi. The novel is definitely perfect ! Maka, jadilah tulisan ini sebagai bentuk kekagumanku kepada untaian kata ala Winna Efendi *walaupun kadar kesempurnaan tulisan ini masih jauh dari karya Winna Efendi*.. Pssst, tulisan ini dibuat BUKAN berdasarkan pengalaman pribadi penulis yah. *mengkonfirmasi sebelum ada yang bertanya. hehehe*



“You know you're in love when you can't fall asleep because reality is finally better than your dreams.” –Dr. Seuss
Siapa sih yang ga pernah falling in love with someone? Semua orang pasti pernah jatuh cinta. Entah itu dengan seseorang yang baru saja dikenal, teman yang tidak pernah kita duga sebelumnya, kakak kelas yang kita kagumi semenjak dulu, atau *ups!* sahabat yang selalu ada buat kita. Memang sih, jatuh cinta adalah perasaan yang sangat istimewa karena terjadi melalui mekanisme yang sulit dijelaskan secara logika. Namun, jangan salah, jatuh cinta juga bisa membuat perasaan kita terjun bebas layaknya roller coaster. Apalagi kalau kita jatuh cinta pada seseorang yang sudah menganggap kita sebagai sahabat atau (lebih parahnya lagi) kakak-adik-tak-sedarah. *ouch*

Tak heran, perasaan serba salah menghantui hari-hari kita. Perasaan kita pun terbang layaknya balon udara tak bertuan *hehehe. Agak lebay yah bahasanya*. Saat mentari masih malu-malu menampakkan sinarnya, senyum kita sanggup mengalahkan cerahnya mentari. Apalagi kalau bukan hanya karena ucapan “good morning” (plus emoticon smile) super standar yang diucapkan oleh sahabat yang kita taksir. Sementara  guru masih sibuk mengoceh tentang rumus trigonometri, otak kita sudah sibuk menyusun rencana akhir pekan bersama dia. Saat bel istirahat berbunyi, langkah kita langsung bergegas. Kemana lagi kalau bukan ke tempat favorit kita dan dia.

Jangankan orang lain, kadang aja kita merasa heran. Kok bisa sih kita naksir dengan sahabat kita sendiri? Padahal, kita hafal betul semua sifat “malaikat” dan “iblis”nya. Namun, kalau dipikir-pikir, ga aneh juga sih kalau kita jatuh cinta sama sahabat yang satu ini. Bagaimana ga jatuh cinta kalau sahabat adalah orang yang rajin “absen” melalui ucapan good morning dan good night? Apalagi, karena sudah mengenal satu sama lain, kita bisa bebas menceritakan apa pun padanya, mulai dari hal yang super ga penting hingga hal-hal yang menguras pikiran kita. Belum lagi, sms darinya yang sanggup membuat kita tersipu-sipu malu. Pokoknya, dia selalu menciptakan hujan perhatian yang sukses menumbuhkan bibit-bibit cinta di hati kita *hehehe. Kalimatnya cieee bgt*.

Pertanyaannya sekarang, apakah sahabat juga merasakan perasaan yang sama dengan kita?

Awalnya sih kita benar-benar clueless untuk menjawab pertanyaan tersebut. Ada kalanya, sikap protektif sahabat yang selalu ingin melindungi kita membuat kita berpikir bahwa ia pun memiliki perasaan yang sama. Namun, tak jarang, ejek-ejekan seperti “mana mungkin sih gue naksir sama lo?!” atau pertanyaan seperti “kita akan selalu jadi sahabat untuk selamanya kan?” membuat jawabannya menjadi ambigu. Situasi seperti ini tentu membuat perasaan kita jadi ikut tak menentu. Senang sih rasanya kalau dia selalu meluangkan waktunya untuk kita, tapi kita tentu bertanya-tanya. Apakah ia selalu meluangkan waktunya karena punya perasaan lebih atau memang karena dia menghargai kita sebagai sahabat? *ups*

Kalau sudah begini, tak ada cara lain selain membiarkan waktu yang menjawabnya. *tsaah*

Anehnya, akhir-akhir ini, sahabat sering menghilang bagaikan ditelan bumi. Sosoknya lenyap dari peredaran tanpa alasan yang jelas. Tanda tanya pun memenuhi sel-sel otak kita. Kemunculan sahabat setelah sekian lama menghilang tak lantas mengentaskan pertanyaan yang memenuhi benak kita. Alasan seperti padatnya kegiatan di luar sekolah, banyaknya tugas yang harus dikerjakan, ulangan yang menumpuk, hingga kesibukannya berlatih basket tak memuaskan keingintahuan kita. Sebenarnya, tak ada yang salah dengan alasan tersebut, tapi … Alasan itu tak pernah menjadi “alasan” sebelumnya. Maksudnya, kalaupun dulu ia punya banyak janji hang out dengan teman segengnya, ia selalu punya waktu untuk mengabari kita. Kalaupun dulu ia sibuk mengerjakan soal-soal stoikiometri, ia masih bisa mengirimkan pesan singkat, sekadar untuk mengatakan “aku belajar dulu yah.”

Perasaan kita pun menjadi bercampur aduk. Sedih karena perubahan terjadi ke arah yang tidak kita inginkan. Kecewa karna waktunya berubah menjadi komoditas yang mahal dan langka. Marah karena tidak tahu harus berbuat apa. Sebagai sahabat, seolah ada peraturan tertulis bahwa ia tak punya kewajiban untuk selalu mengabari kita *benar juga sih! Hehehe*. Yaps, kita adalah orang yang selalu ada untuknya, orang yang selalu siap mendengarkan ceritanya, orang yang mau memahami kesulitannya, tetapi tidak punya “hak” untuk mengerti isi hatinya. *jleb banget yah. Hehehe*


Sampai suatu hari, sahabat meminta pendapat kita mengenai … *jreng jreng jreng* *suasana misterius* ORANG YANG DITAKSIRNYA. *dibaca sekali lagi, ORANG YANG DITAKSIRNYA* Duh, rasanya kita ingin (gantian) menghilang ditelan bumi. Apalagi saat sahabat meminta kita untuk menemaninya mencari kado spesial untuk orang yang mengisi relung hatinya. Ingin rasanya kita marah *tapi marah sama siapa?!* dan mengacuhkan pertanyaan sahabat, tapi … Kalau kita bersikap begitu, sahabat pasti akan heran dan bertanya-tanya tentang sikap kita yang berubah 180 derajat.

Akibatnya, kita pun terpaksa mendengarkan cerita sahabat mengenai cewek yang sedang ditaksirnya. Perasaan kesal pun berlipat ganda karena sahabat menceritakan semua perasaannya secara blak-blakan tanpa sensor. Semua detail dari mulai pandangan pertamanya hingga akhirnya ia ingin menyatakan perasaan pada cewek itu diceritakan non stop. Keki sih, tapi kita sendiri tak tahu apa yang bisa (dan harus) dilakukan.

Penyesalan pun memenuhi benak kita. Kenapa sih kita harus berkenalan dengannya dan ditempatkan pada posisi sahabat? Masalahnya, kalau kita ga pernah menjadi sahabat dia, mungkin kita juga ga akan pernah jatuh cinta sama dia. Kenapa sih hubungan kita dan dia stuck pada tingkat sahabat? Kenapa sih kita (seolah) tidak bisa mengungkapkan perasaan karena takut ia menjauh dari kehidupan kita? Pokoknya, ada banyak sekali pertanyaan “kenapa” yang rasanya tidak cukup dituliskan dalam selembar kertas folio *hehehe*.

So, the question is what’s next? Kita punya seribu alasan atas kekecewaan yang melingkupi hati kita, tapi kita juga seharusnya bersyukur. Mengapa? Karena kita diberi kesempatan untuk mendapatkan jawaban yang selama ini kita cari. Mungkin jawabannya bukan jawaban yang kita inginkan, tetapi jawaban itu mendorong kita untuk membuka mata. Kita tak perlu lagi menghabiskan waktu untuk menunggunya membalas sms kita. Tak ada lagi momen yang terbuang untuk sekadar menunggu ucapan good morning yang super standar darinya. Enaknya lagi, perasaan kita tak akan meluncur bebas layaknya roller coaster hanya karena sikapnya yang “hot and cold” seperti lirik lagu Katy Perry.

Bohong jika kita mengatakan bahwa kita baik-baik saja saat mendengar berita “bahagia” untuk sahabat kita. It hurts, but … Seperti yang sudah diungkapkan di atas, kita punya kesempatan untuk menyelamatkan waktu kita dari perasaan galau, ambigu, dan tak menentu. Tak ada lagi detik yang terbuang sia-sia untuk memikirkan orang yang bisa lenyap ditelan bumi tanpa kabar yang jelas. Tak ada lagi menit yang terpakai sia-sia untuk menduga-duga apa yang sedang mengisi pikiran orang itu. Tak ada lagi jam yang berlalu sia-sia untuk menunggu kabar darinya. Tak ada lagi hari-hari yang dilewati dengan penuh kebingungan mengenai perasaan kita.

So, what are we waiting for? Let’s get up and open your eyes widely ! :D


With love,

Bella