Rabu, 29 Januari 2020

Happy Birthday



Jumat, 15 November 2019

Aku memandangi kalender yang membisu di meja kerjaku. Sekilas, kulirik jam dinding yang menimbulkan suara detak yang khas. Tak pelak lagi, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Pantas saja, nuansa sepi nan lenggang memenuhi lorong kantorku.

Masih ada tiga jam yang harus kulalui sebelum tanggal 15 November berganti menjadi 16 November. Sial, apa sih yang kutunggu? Memangnya apa yang akan berubah pada Sabtu besok? Bukannya besok cuman Sabtu seperti Sabtu yang lainnya? Apakah aku begitu membutuhkan alasan untuk sekadar menyapa dan menanyakan kabarnya?

Ups, apa kataku tadi? Menanyakan kabarnya? Kenapa pula aku ini. Mungkin kebanyakan lembur di kantor sendirian hingga larut malam membuatku memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak kupikirkan.


Sial. Sial. Sial.

Dua minggu lalu, berbagi cerita dengannya terasa senatural bangun di pagi hari. Hmm, maksudku, setiap manusia memang akan bangun di pagi hari bukan? Tak ada yang istimewa. Sampai suatu ketika seseorang tak dapat membuka mata di pagi hari. Di momen itulah rasa syukur baru timbul, menyadari bahwa bangun pagi bermakna lebih dari sekadar membuka mata yang dilanjutkan dengan rutinitas.  

Hhhh, siapa yang menyangka, 7 x 24 jam kemudian, momen itu lenyap begitu saja. Sosok yang selalu ada untuk mendengar cerita remeh temehku menjelma menjadi bayangan yang sulit terjangkau. Jangankan bercerita panjang lebar, sekadar mengucapkan “good morning” saja aku tak bernyali.

Tak peduli dengan keresahanku, jam dinding terus berdetak. Jarum pendek sudah menunjukkan angka 11. Setengah pasrah, aku memandangi layar monitor di hadapanku yang menampilkan sejumlah konsep training yang sudah menyita perhatianku seminggu terakhir. Huft, dua jam berlalu begitu saja tanpa perkembangan berarti.


Sebagai Trainer Executive di sebuah perusahaan retail, membuat konsep training yang selalu harus diperbarui mengikuti keinginan managerku yang tak terbatas, melakukan visit ke toko-toko untuk memastikan materi training tersebut dieksekusi dengan tepat, dan melakukan evaluasi secara berkala merupakan makananku sehari-hari.  Jadi, seharusnya, berjibaku dengan konsep training, seperti yang tengah kulakukan saat ini, bukanlah hal yang sulit.

Bukan hal yang sulit seandainya perasaanku tak sedang berseberangan dengan logikaku. Perasaanku yang mendorong jemariku untuk mengetikkan namanya di Whatsapp. Kembali membuka percakapan terakhir yang telah mengkristal menjadi memori. Selanjutnya, seperti biasa, logikaku memaksaku menghapus kalimat yang telah susah payah kurangkai. Sementara perasaanku sibuk memutar ulang semua kebersamaan yang terlanjur terukir.


Sial. Sial. Sial.

Entah sudah berapa kata umpatan mengalir dari mulutku malam ini. Kesunyian ini justru semakin memecah konsentrasiku.

Di satu sisi, aku tak ingin menit demi menit berlalu secepat ini. Aku masih membutuhkan beberapa jam lagi untuk mematangkan konsep ini sebelum menampilkannya di meeting besok pagi. Di sisi lain, sulit rasanya menampis perasaanku yang jelas-jelas ingin segera menyaksikan jarum pendek melenggang ke angka 12, momen dimana akhirnya aku punya secuil alasan untuk sekadar menyapanya.


Sabtu, 16 November 2019

Sial. Waktu sudah menunjukkan pukul 00.05.

Menyerah dengan konsentrasiku yang semakin buyar, kututup layar laptop yang masih menampilkan slide demi slide powerpoint berisi ide-ide training yang sudah kususun dengan susah payah.

Dengan gontai, aku melangkah, melewati lorong kantor yang senyap. Kesunyian yang tidak keperlukan di saat-saat seperti ini. 

Sebuah taksi biru yang ngetem di depan kantorku menjadi pilihan pertamaku setibanya di lobby.

Udara malam semakin dingin. Jalanan lenggang. Tak seorang pejalan kaki pun yang melintas. Sesekali kendaraan berlalu-lalang dengan kecepatan tinggi, seolah ada tujuan yang harus segera dicapai.

Skenario yang terhampar di hadapanku semakin menggenapkan kebingunganku. Tuhan seolah-olah tengah menguji perasaanku, memastikan apakah masih ada sedikit rasa yang tertinggal antara aku dan laki-laki yang berulangtahun di tanggal 16 November ini.


Peduli amat dengan rasa gengsi. Tujuh hari tanpanya adalah sesuatu yang asing bagiku. Tujuh hari tanpanya bukanlah tujuh hari yang biasa kulalui. Tujuh hari tanpanya adalah sesuatu yang masih perlu kupelajari sedikit demi sedikit.

Setelah berulangkali menghapus pesan yang kuketik, akhirnya berhasil juga kutekan tombol send di aplikasi Whatsapp.


“Happy birthday! Semoga di ulangtahun kali ini, kamu semakin bahagia. Semakin bijak dengan pilihan-pilihan hidup yang kamu buat. Semakin sukses di karir. Semakin jago main futsalnya! Hehehe. Gue bingung sebaiknya gue ngomong ini atau engga, but I miss you a lot. Gue kangen sama lo. Udah itu aja. Doain gue supaya cepet move on dari lo ya 😉. Semoga WA gue ini ga menghancurkan mood ulangtahun lo! Once again, happy birthday! 😊



Entah apa yang merasukiku sehingga aku bisa segamblang itu membicarakan perasaanku. Sebagai manusia yang termasuk dalam kaum serba gengsian, percayalah, aku pun tak percaya bahwa aku mampu menuliskan pesan semacam itu.

“Bu, sudah sampai,” ucapan supir taksi sontak memutus lamunanku.


Sesampainya di apartemenku, aku bergegas menuju shower. Aku cuman ingin berhenti memikirkannya. Berhenti memikirkan reaksinya ketika menerima pesanku. Berhenti membayangkan bagaimana kecewanya perasaanku jika ia memutuskan untuk tidak membalas pesanku. Berhenti membayangkan berapa banyak keresahan yang akan timbul di otakku sampai ia memutuskan untuk membalas pesanku.

Sambil mengeringkan rambut, kutatap layar ponselku yang berkedip-kedip. Pertanda bahwa ada pesan Whatsapp yang menungguku.


“Hai, thank you! Makasih masih inget utah gue ya. Makasih untuk semua wishes-nya. Gue juga kangen kok sama lo. Banget. Setiap pagi, gue refleks buka WA dan keinget untuk ngucapin good morning ke lo. Setiap hari, gue bertanya apakah keputusan ini adalah keputusan yang tepat. Kadang gue juga mikir apa lebih baik kita balik kayak dulu lagi. Tapi untuk saat ini, gue percaya ini adalah keputusan terbaik. Semoga kita segera menemukan orang yang tepat di waktu yang tepat!”


Aku menghirup udara sedalam-dalamnya. Berusaha mengusir perasaan mencekik yang muncul tanpa bisa kucegah.

Sebaris senyum terukir di bibirku. Sebuah pemahaman baru terbentuk. Perasaan lega memenuhi hatiku.

Menghabiskan waktu bersamanya adalah salah satu momen terbaik dalam hidupku. Menertawakan lelucon recehnya yang khas boleh jadi akan selalu kurindukan. Menceritakan segala keluh kesahku padanya adalah hal yang menentramkanku pada masanya. Janji bertemu dengannya menjadi semangatku untuk terus berlari dan bertahan. Ia pernah menjadi salah satu kekuatan terbesar yang kumiliki.

Namun kehadirannya tak selalu berarti bahagia. Bahagia bersamanya berarti perasaan nyaman yang diliputi kabut kebingungan tentang seberapa besar rasa sayangnya untukku. Kenyamanan bersamanya berarti ketentraman yang diliputi keresahan tentang mengapa ia tak cukup memberikan effort untuk kami. Lelah juga rasanya berlari sejauh ini bersamanya dengan pertanyaan yang selalu memenuhi benakku.

Kehadirannya memang bukan tanpa alasan. Eksistensinya dalam hidupku mengajarkan beberapa hal baru yang tak pernah kupahami sebelumnya. Rasa sayang tanpa tindakan adalah cara terbaik untuk membunuh perasaan itu sendiri. Pertanyaan yang muncul setiap kali ia menghilang tanpa kejelasan bisa jadi pertanda yang tak boleh diabaikan.

Selamat ulang tahun. Selamat bertambah tua.



With love,
Bells


Kamis, 23 Januari 2020

Ragu tapi Rindu


Menempuh jarak Bintaro-Sunter setiap hari rupanya mampu menyedot sebagian besar energiku. Segala rencana yang telah kususun sedemikian rupa langsung ambyar berubah begitu menjejakkan kaki di rumah.

Duh, males banget yak kalau mau olahraga lagi. Mendingan mandi terus bobo.

Mana bisa nulis dalam keadaan capek. Kan nulis butuh inspirasi.

Mager ahh baca buku. Mendingan scroll Twitter sambil rebahan #kaumrebahangariskeras


Meskipun aku sudah bertekad untuk lebih konsisten menulis di tahun 2020, nyatanya 23 hari berlalu tanpa satupun tulisan baru di blog ini. Hmmm. #dasarsiBella

Begitu juga kemarin malam. Daripada susah payah merangkai kata menjadi paragraf, aku memutuskan berbaring di atas tempat tidur. Toh aku sudah capek bekerja seharian. Belum lagi menempuh perjalanan yang menghabiskan 1/6 hidupku setiap harinya.

Dengan mata setengah mengantuk, jemariku lincah men-scoll Insta Story yang muncul di layar ponselku. Tanpa sengaja, aku membaca Insta Story Kak Nadya Julia (Hallo, Kak! Aku fans setiamu yang (dulu) selalu menunggu suaramu di Prambors setiap pagi loh).

 Ini dia tumblr kece Kak Nadya Julia

Rupanya, Kak Nadya baru saja mem-posting sebuah tulisan di Tumblr. Sambil tiduran, mulailah aku berpetualan di Tumblr-nya. Sebenarnya aku sudah beberapa kali sih mampir di Tumblr-nya. Namun, ini pertama kalinya aku membaca tulisannya satu persatu.

Duh, kalau sudah begini, tiba-tiba saja aku jadi kangen menulis. Kangen mencurahkan apa yang kupikirkan dalam bentuk tulisan. Kangen menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengeksplorasi ide. Kangen duduk di depan laptop sambil sibuk menyusun kata.


Benci Ragu tapi rindu
Mungkin ini kata yang paling tepat untuk mendeskripsikan relationship-ku dengan gebetanku menulis.

Ragu untuk memulai kembali kalau sudah lama ga bermain kata. Ragu karena merasa kok susah banget ya merangkai kalimat pertama. Ragu karena rasanya ... bingung dan takut ga mampu menulis dengan baik.

Tapi RINDU! Kalo kata Dilan kan ... #mulai melenceng #hehehehe #abaikan
Iya. Rindu! Rindu untuk mulai menulis kembali. Rindu masa-masa dimana menulis itu menjadi kebutuhan. Rindu untuk menulis tanpa berekspektasi apa-apa supaya ga kecewa. Duh!


Jadilah, malam ini, di hari ke-23 di tahun 2020, aku pengen bilang “welcome back to my blog”.
Menjanjikan kalau satu post di blog setiap minggu rasanya terlalu muluk untukku sama seperti gebetan yang janjinya suka muluk bgt pas PDKT.

Tapi yang aku tau, aku kangen nulis. Udah. Itu aja. Titik.

Dan karena kata “kangen” itu harus dibuktikan dengan tindakan #eaaa #jangankayakahsudahlah, pastinya jumlah postingan di tahun 2020 ini kudu wajib banget lebih banyak dari tahun 2019! Hehehehe.

Sejujurnya aku pun ragu pake banget bisa menulis secara konsisten. Tapi aneh kan kalo bilangnya sayang tapi ga ada effort sama sekali suka menulis tapi jarang menulis?! Hehehe.



Anyway, I wish you all an amazing year ahead! Hello 2020! I’m ready to rock n roll! 😊



Selasa, 09 Juli 2019

Sabtu Pagi

Note :
Sebelum membaca blog ini, coba deh sempetin dengerin lagu Walk with Me yang dinyanyiin sama Bella Thorne. Biar lebih menghayati gitu baca blog-nya.  Hehehe  #aseek #banyakmau


But I have walked alone with the stars in the moonlit night
I have walked alone, no one by my side
Now I walk with you with my head held high
In the darkest sky, I feel so alive

~~Walk with Me by Bella Thorne~~

06.00 am
Mataku spontan mengerjap tatkala lagu “Walk with Me” mengalun pelan melalui ponselku yang tergeletak asal-asalan di pinggir tempat tidur. Untuk beberapa saat, suara Bella Thorne berpadu dengan suara jarum jam yang memenuhi seisi kamar.

Sambil menggerutu pelan, kumatikan alarm yang teledor kusetel semalam. Seharusnya tak ada bunyi alarm di Sabtu pagi.

Sabtu datang terlalu cepat. Terlalu dini untuk kunikmati sekali lagi.

Tenggelam dalam pekerjaan yang menyita perhatian membuat kemampuanku menghitung waktu lenyap. Memperhatikan pergeseran harga komoditas yang dijual perusahaanku rupaya mampu membuat dunia bergerak lebih cepat dari dugaanku.


07.00 am
Sekali lagi lagu “Walk with Me” menyadarkanku dari tidur yang terlalu lelap.

Hhhh, kenapa alarmku harus terus menganggu tidur nyenyakku.

Dilema mulai memenuhi benakku. Di satu sisi, wishlist-ku untuk bangun lebih pagi di hari Sabtu ingin kutuntaskan. Di sisi lain, tawaran untuk memejamkan mata sejenak lebih menggoda iman.

Ahh, rasa-rasanya aku layak mendapatkan lelap yang sedikit lebih panjang. Bukankah semua lelahku menatap layar laptop dari Senin hingga Jumat patut diganjar dengan sesuatu yang menyenangkan? 

08.00 am
Sambil menguap pelan, kesadaranku mulai berkumpul, mengusir kantuk yang masih saja menggelayuti kelopak mataku.

Getaran halus dari smartphone-ku memaksaku untuk bergerak meraihnya.

Tanpa membukanya terlebih dahulu, sebenarnya aku sudah bisa menebak apa isinya. Apalagi kalau bukan puluhan chat yang memintaku untuk mengecek email, memastikan kesesuaian antara harga yang tertera di sistem dengan harga yang tercetak di lapangan, sekaligus melakukan revisi harga agar proses penjualanan dapat segera dieksekusi.

Sambil menahan kantuk, kuraih laptop yang telah menungguku.

Aku menghela nafas pelan. Memastikan bahwa aku telah sadar seutuhnya. Berhubungan dengan banyak angka di Sabtu pagi memerlukan konsentrasi penuh. Tak ingin menambah hiruk pikuk di akhir pekan, aku ingin memastikan bahwa semua angka yang kuhitung adalah benar adanya.


But I have walked alone with the stars in the moonlit night
I have walked alone, no one by my side 
10.00 am
Mematikan laptop bisa jadi pertanda dimulainya weekend untukku.

Semua pesan singkat melalui aplikasi chatting berlambang hijau telah selesai kubalas. Kupastikan tak ada satupun pertanyaan menggantung.

Karena aku tahu betul rasanya punya pertanyaan yang tak terjawab.

Karena aku tahu betul rasanya berjalan sendirian menuntaskan persoalan demi persoalan yang katanya akrab dengan dunia orang dewasa.

Karena aku tahu betul rasanya bertahan tanpa punya seseorang yang layak dijadikan sebagai tempat bersandar kala beban pekerjaan menggelayuti pundakku.

Karena aku tahu betul rasanya bertanya-tanya mengapa seseorang datang dan pergi tanpa penjelasan.
Karena aku tahu betul rasanya tersindir setiap alarmku berdering dan mengucapkan kalimat “But I have walked alone with the stars in the moonlit night. I have walked alone. No one by my sight”.

Ahh, sial, sepertinya PMS mengacaukan mood-ku secara berkala.

Hhh, kenapa aku jadi overthinking seperti ini.

Bukankan aku sudah terlalu terbiasa menyelesaikan semuanya sendiri? Bukankah aku selalu merasa insecure ketika harus bergantung dengan orang lain?



06.00 am di pagi yang lain
Sial, kenapa aku selalu lupa mematikan alarm di Sabtu pagi?!

Aku menarik nafas pelan. Dapat kurasakan sebagian ototku yang tegang semalam telah mengendur dengan sendirinya.

Aku benci mengakui ini. Namun, di saat menghadapi pekerjaan yang terus memburuku sekaligus menuntutku untuk tak sedikit pun berbuat kesalahan, aku merasa lelah-selelahnya. 

Saking lelahnya, aku bahkan tertidur dengan posisi menelungkup, menghadap layar laptop yang gelap karena kehabisan baterai. Lembaran kertas kerja berserakan membentuk pola tak beraturan di atas tempat tidurku.

Sebaiknya aku mulai darimana ya?

07.00 am (masih) di pagi yang lain
Getaran halus dari smartphone membangkitkan kesadaranku.

Entah perasaanku saja atau memang kenyataan, rasanya kok semakin pagi saja kolegaku menghubungiku untuk menunaikan tugas rutin di Sabtu pagi.

Kembali kunyalakan laptop yang baru beristirahat beberapa jam lalu. Sebentar saja, jemariku sibuk menarik di atas keyboard.

Aku terlalu fokus memperhatikan deretan angka demi angka yang muncul di layar laptop sampai sebaris pesan singkat di layar smartphone menarik perhatianku.

Are u ok? Klo gw bikin bete sori y, tp klo something happened, crita2 y. Jgn sedih sendiri.

Sebuah senyum simpul terukir di bibirku. Senyum yang sama, yang selalu hadir di wajahku setiap kali mendapatkan pesan singkat darinya, yang selalu muncul tatkala aku memandang jauh ke dalam matanya, yang selalu terukir setiap kali kusadari bahwa ia nyata di hidupku.

Cukup sebaris kalimat sederhana darinya mampu memberi makna lebih pada Sabtu pagiku.

Now I walk with you with my head held high
In the darkest sky, I feel so alive

08.00 am (masih) di pagi yang lain
Usai menyelesaikan pekerjaanku, aku kembali menekuri sebaris pesan singkat itu.

Rupanya kemarin aku terlelap di depan laptop sebelum sempat mengetikkan pesan balasan untuknya. Pantas saja ia bertanya “are u ok?”.

Ahh, ini memang terdengar menjijikkan. Percayalah, kadang aku pun merasa geli dengan tingkah lakuku akhir-akhir ini. Namun, sulit rasanya untuk tidak merasa senang setiap kali membaca sebaris pesan singkat darinya.

Aku bahkan terlalu senang membaca kalimat “jangan sedih sendiri” darinya. Rasanya sudah cukup lama semenjak seseorang memintaku untuk membagi ceritaku dengannya. Rasanya sudah cukup lama semenjak seseorang memintaku untuk tidak bersedih sendiri.




Sekali lagi kupandangi pesan singkat dari sosok yang baru kukenal dalam waktu singkat.

Pesan singkat yang mampu membuatku tak merasa sendiri lagi.

Pesan singkat yang membuat lirik “Now I walk with you with my head held high. In the darkest sky, I feel so alive” dari dering alarmku mempunya makna lebih. 



Note :
Habis baca blog ini, pasti ada aja yang nanya “ini pengalaman pribadi ya?”. Hehehe. Ga kok. Ini bukan pengalaman pribadi. Ini cuman fiksi semata.


Anyway, thank you for reading this blog. Jangan lupa komen di bawah ya (percayalah, rasanya garing banget nulis lagi setelah 3 bulan absen :( Huhu)





Another note : Thank you for being here. Life wouldn’t be this fun without you and your so-called-receh-jokes.  :)



With love,
Bells



Sabtu, 16 Maret 2019

5 kelakuan teman kantor yang bikin kamu ingin segera menyandang status “IN-A-RELATIONSHIP”


Kenapa jomblo selalu jadi bahan hinaan weh

Mendengar curhatan temanmu yang sedang menyandang status “in a relationship” seringkali membuatmu merasa bersyukur atas status jomblo “single”-mu. 

Waktu weekend menjadi hak prerogatifmu seorang karena kamu ga perlu menyesuaikan dengan doi *gimana coba kalo doi hobinya lari keliling GBK sementara kamu sukanya cuman lari dari kenyataan :P*. Tak ada pula drama kata “terserah kamu deh” yang mengharuskanmu berpikir keras untuk menebak kemauan si doi.

Intinya, kamu merasa hidupmu tuh fine-fine-aja alias no problemo sama sekali. Sejujurnya, kamu juga ga merasa jiwamu cuman ada sebelah karena kamu belum menemukan belahan jiwa. #apaansih

Hiks, ga semua jomblo gini juga keles

Lalu, entah siapa yang memulainya, mendadak kamu menjadi bahan ledekan di kantor karena belum ada yang menjemputmu pas kamu lembur. Tanpa kamu sadari, pertanyaan seperti “kapan punya pacar?” mulai mengisi lembar kehidupanmu.


Bodo amat. Bodo amat. Bodo amat.

Pasti ada aja nih netijen yang komen “Ya udah sih, ga usah dipikirin. Susah amat.” Asal tahu aja, ada 8 jam sehari yang kamu habiskan di kantor bersama dengan mulut usil teman-teman kantormu. Ya gimana ga kepikiran coba. :”) #garukgaruktembok

Jadi apa aja sih tindak-tanduk teman kantor yang bikin kamu kepikiran untuk memiliki seseorang yang mengucapkan good morning setiap hari?

Ini dia 5 kelakuan teman kantor yang bikin kamu ingin segera menyandang status “in-a-relationship”.


Eh, ada anak baru loh di divisi X. Lo ga mau sama dia aja?

Melihat bentukan makhluk yang dinamakan “anak-baru-divisi-X” saja belum pernah, tapi kamu sudah menjadi sasaran empuk untuk dijodohkan dengannya. Bahkan sebenarnya kamu ga tahu sama sekali dan ga mau tahu juga sih mengenai eksistensi si-anak-baru jika mulut usil temanmu tak mulai menganggumu.

Ga hanya keberadaan si-anak-baru, pertanyaan “lo ga mau sama dia aja?” juga berlaku ketika salah satu teman sekantormu putus dengan pacarnya. Putusnya juga baru seminggu, tapi kamu sudah mendengar pertanyaan tersebut semenjak gonjang-ganjing akan berakhirnya hubungan mereka.  
Berlari melewati teman-temanmu yang hobinya menjodohkanmu dengan sembarang orang

Selanjutnya, yang bisa kamu lakukan cuman bisa menarik napas dan godek-godek kepala menyaksikan kelakuan teman kantormu. Sambil diam-diam berdoa supaya mereka tak semakin liar-nan-agresif dalam menjodohkanmu yang sebenarnya juga ga butuh dijodohin.
           

Kok lo perhatian banget sih sama dia? Buktinya, lo kasih kado pas dia ulangtahun.

Mendengar pertanyaan tersebut pasti sukses membuat keningmu berkerut bingung. Bukannya wajar ya memberikan kado dan kartu ucapan ketika seseorang berulangtahun? Malah aneh ga sih jika kamu memberikan surprise ketika tak ada satu pun momen spesial?

Yang semakin membuatmu tak habis pikir, kado yang diberikan kepada empunya-yang-berulangtahun pun merupakan hasil patungan satu divisi. Plus kartu ucapan itu dibuat atas inisiatif teman-temanmu yang kemudian memaksamu untuk berkreasi sekreatif mungkin. *sudah berkorban, dituduh modus pula*

Jurus kamekameha untuk teman yang hobinya menjatuhkan tuduhan imajinatif

Kamekameha versi imut

Diam-diam, ingin rasanya kamu mengeluarkan jurus kame-kameha ala dragonball supaya teman-temanmu segera insyaf dan kembali ke jalan yang benar. Huhuhu.


Cie, cie, kasih kode ke siapa nih?

Untuk mengusir rasa jenuh ketika mengerjakan tugas kantor yang tak mengenal kata selesai, mendengarkan lagu via Spotify menjadi andalanmu. Tanpa sadar, bibirmu mulai bersenandung mengikuti lirik lagu Untitled ala Maliq & D’Essentials. *yang fans-nya Maliq juga mana suaranya? #aseeek

Masalah timbul ketika teman sedivisimu mendengarnya dan bertanya “cie, itu lagu buat siapa sih?” #autosebal. Apalagi jika desibel suara temanmu cukup untuk didengarkan oleh satu ruangan berkapasitas puluhan orang. Belum lagi jika temanmu hobi mengkaitkan lirik lagu tersebut dengan orang yang udah dicie-cie-in denganmu sejak fosil dinosaurus mulai ditemukan. #lebay

Ingin rasanya kamu berteriak “sumpah, gue ga kasih kode ke siapa-siapa”

Ingin rasanya kamu menyumpal mulutnya dengan risol sambil berteriak “Suara lo bisa pelanan dikit ga sih? Jarak kita kan ga nyampe 1 meter, geblek! Terus nanti semua orang mikir gue lagi kodein doi woy!”. Duh!


Karyamu = Pengalaman Pribadimu = Curhatanmu

Usai berkutat dengan urusan kantor selama (minimal) 5x8 jam seminggu, meluangkan waktu untuk hobimu menjadi kesenangan tersendiri. Ga heran, kamu semakin tekun nan konsisten dalam melakukan hobimu. Ya hitung-hitung kan jadi punya karya lain di luar dunia kerja.

Yang bikin kamu gigit jari adalah ketika semua karyamu selalu dikaitkan dengan doi. Buat yang suka motret dan posting hasilnya di Instagram, bersiaplah ditodong dengan komentar “cie, biar doi tau lo jago moto ya?”. Buat yang suka nulis blog, bersiaplah dengan hujatan “ini pasti isi hati lo yang terdalam ya.” #halah #apaanseh. Buat yang suka ngegambar, bersiaplah dengan pertanyaan “sosok di gambar lo tuh doi ya?”

Ekspresimu ketika semua karyamu dibilang curhat

Ingin rasanya kamu menjedotkan diri ke tembok lalu menyanyikan sepotong lirik “Tentang Kamu karya BCL sambil memutari tiang. Lagian, sedikit-dikit dikaitkan dengan doi, sedikit-dikit dituduh curhat. Duh, kan ga semua bagian hidupmu berkait dengan doi!


Lah, kok lo bisa melulu sih pas diajak? Pasti jomblo ya?  

Sebagai manusia normal nan waras, kamu pasti merasa senang nan bersyukur ketika temanmu bersedia memenuhi ajakanmu *ya mau ajakan nonton kek, makan kek, jalan kek, apa kek*. Uniknya, pertanyaan “Kok lo bisa melulu sih kalo diajak? Pasti lo jomblo ya?” malah keluar dari bibir temanmu ketika kamu ga keberatan menemaninya pas weekend.

Diam-diam kamu ingin memberikan jurus tendangan ala Captain Tsubasa kepada temanmu. Lah, orang kok bukannya bersyukur yak punya teman yang berbaik hati meluangkan waktu untuknya, eh malah ngedekkin status temannya yang masih single #dikasihhatimintajantung.

Nemenin salah. Ga nemenin juga salah

Yang bikin tambah jengkel, pertanyaan “lo ngambek ya karena sering gue ledekkin?” timbul ketika kamu tak bisa menemaninya. Duh, ditemenin salah, ga ditemenin dituduh ngambek. Ingin rasanya kamu berteriak “Salahin aja gue terus weeeh. Salahin aja!”.




Jadi gimana dong, ga salah kan kalau kamu jadi pengen mengubah status “single”-mu menjadi “in a relationship”? Eits, tunggu dulu, yakin mau buru-buru jadian ama gebetan cuman karena kelakuan usil teman kantormu?

Quotes yang bikin kamu berpikir ratusan kali sebelum mengatakan “ya” sama gebetan

Ga sengaja menemukan quotes di atas pas membuang-buang waktu scrolling Instagram, awalnya kamu cuman berpikir “Ah elah, parenting partner apaan dah. Ngurus diri sendiri aja masih belum becus. Mandi aja cuman 1x pas weekend”. #hehehe

Tapi pas kamu baca kalimatnya berulangkali #kurangkerjaan, kok rasanya kamu justru ga mau terburu-buru menganggukkan kepala ketika doi menyatakan perasaannya.  

Ekspresimu sesudah membaca quotes tersebut berulangkali

Mikirin soal “parenting partner” dan “someone who will deeply influence your children” mungkin masih terasa jauh. Namun rasanya tak sulit membayangkan bagian “your eating companion for about 20.000 meals” atau “someone whose day you’ll hear about 18.000 times”.

Finding someone who look at you like this is not an easy job to be done 

Being in a relationship means giving some parts of your life to other person.
Meluangkan waktu, memberikan energi, dan menyesuaikan satu sama lain.

Jadi, sayang bangetlah (rasanya) kalau kamu jadi pengen buru-buru jadian cuman karena keisengan temanmu semata. Santai aja kalau lagi diledekkin. Masuk kuping kiri, keluar kuping kanan, dan jangan sampai mampir ke hati. Plus anggap saja ini cobaan hidup level satu sebelum kamu memasuki cobaan hidup lainnya. #wkwwk



Selamat menemukan dan ditemukan di tempat dan waktu yang tepat





With love,
Bells