Kamis, 09 Juni 2016

Antara Kuah Locupan dan Kopi Hitam

Ini ekspresi muka kita berenam kalau pulang barengan sampai malam

“Bell boleh share email PJ yang kmaren aku buat?”

Sebaris pertanyaan tersebut muncul di layar smartphone-ku. Dengan malas-malasan, aku lekas menjawab sekenanya. “Lagi ga di rumah, Go. Kamu lanjutin dulu aja sisanya. Nanti malam baru aku kirimin,” demikian bunyi pesan singkat yang kukirimkan kepada Gogo, salah satu anggota Tim 6, “rumah” dimana aku menghabiskan 99% hidupku sekarang.

Perasaan bingung dan gusar memenuhi hatiku. Antara gengsi dan mau teriak “GOOOO, KOK GA NGUCAPIN SELAMAT ULANG TAHUN SIH KE GUE??”.

Iseng, aku scroll percakapan di grup Tim 6 tadi pagi. Memastikan bahwa mataku tak melewatkan satu ucapanpun sembari berharap aku memang melewatkan sesuatu.

Sial. Ternyata memang tak ada yang luput dari pandanganku.

Hanya pertanyaan singkat Aileen “Eh, Bella mau kita apain? Wakakaka *terlalu males buat grup baru*” dan tanggapan JE “Bellaa ga ush di apa2in lah. WKWKWK,” yang menandakan bahwa hari itu memang tanggal 8 Juni, waktu dimana usiaku bertambah menjadi 21 tahun. Usainya, percakapan langsung beralih mengenai tugas-tugas di Panitia Pengenalan Kampus 2016, mulai dari penempatan Petugas Kelas hingga denah briefing berikutnya.

Percakapan terus berlanjut. Mengingat tugas Tim 6 yang unlimited tak sedikit, percakapan seputar tugas tak kunjung selesai.

Diam-diam, aku sedikit kecewa. Ucapan Rama di grup tadi pagi “Bella emangnya ada apa?” ditambah Nelo yang tak sedikitpun berniat mengucapkan selamat ulang tahun melengkapi kekecewaanku. Jangankan mengucapkan ulang tahun, ia baru muncul tatkala percakapan mengenai penempatan Petugas Konsumsi dimulai. #HUH #SEBELBANGET

Malamnya, aku teringat snapchat yang dikirimkan JE tadi pagi. Snapchat tersebut belum sempat kubuka. Secercah harapan muncul lagi. Setidaknya ada satu di antara enam orang yang mau menyempatkan waktunya untuk sekadar mengucapkan “happy birthday, Bell.”

Lah, ini kok malah foto-foto JE di kelas SAP?” batinku dengan gemas.

Ini PD, Dea, dan Tika aja ngucapin. Di grup seluruh panitia pun, banyak Petugas Kelas dan Petugas Konsumsi yang ngucapin. Masa ga ada satu pun dari kodok-kodok-kesayangan Tim 6 yang ngucapin. Aaaaaa. Kok ngeselin dah.

FYI, PD, Dea, dan Tika adalah anggota dari LOKOKONS (Liaison Officer dan Koordinator Konsumsi). Jadi begini kisahnya, Tim 6 merupakan koordinator utama dalam Panitia Pengenalan Kampus 2016. Pengenalan Kampus merupakan semacam ospek yang berada di tingkat universitas. Di bawah Tim 6, terdapat LOKOKONS. Tugasnya, membantu Tim 6 untuk mengkoordinasikan Petugas Kelas dan Petugas Konsumsi. Petugas Kelas berperan sebagai pendamping mahasiswa baru. Sementara itu, Petugas Konsumsi bertanggungjawab untuk mengantarkan makanan ke kelas-kelas.

Okaaay, back to the story.

Esoknya (alias 9 Juni 2016), semua berlangsung seperti biasa. Aku bahkan terlambat bangun akibat keasikan memandangi foto Song Joong Ki di Instagram (Btw, aku naksir banget drama Descendants of the Sun gara-gara ketularan Tim 6. Padahal dulu aku nyaris tidak pernah mengikuti drama Korea. Gila ya, berada di ruangan yang sama dengan orang-orang yang sama setiap hari benar-benar mempengaruhi hidup kita).

Sesampainya di ruang Tim 6, seperti biasa, semua tampak asik mengerjakan tugasnya. Aileen dan JE sibuk menyiapkan modul untuk Petugas Kelas dan Petugas Konsumsi. Gogo mengotak-atik presentasi yang harus dibawakannya untuk Rapat II UKM/UKK. Sementara itu, duo-perijininan-dan-&-perlengkapan, Rama dan Nelo bolak-balik meminjam peralatan dan mengkonfirmasi tempat yang diperlukan.

Kedatanganku tetap disambut seperti biasa. Sapaan yang ramah, hangat, dan menyenangkan.
It feels like HOME.
Muka lecek usai berjibaku dengan tugas yang unlimited

Yaps, walaupun kami berenam selalu terpontang-panting dikejar deadline, bekerja bersama Aileen, JE, Gogo, Rama, dan Nelo selalu terasa menyenangkan. Di tengah-tengah keruwetan tugas, pasti ada saja hal-hal lucu yang sukses membuat kami tertawa. Belum lagi ucapan ceplas-ceplos ala karnivora yang refleks terlontar dari mulut kami tatkala terjadi hal-hal yang tidak sesuai dengan rencana. HEHEHE.

Bayangkan, betapa melelahkan dan menjengkelkannya jika harus bekerja bersama orang-orang yang tidak menyenangkan selama lebih dari 12 jam setiap hari.

Luckily, I have this lovely-yet-adorable team. J Atmosfer yang menyenangkan mewarnai hari-hariku di Tim 6. Aku belajar “menertawakan” hal-hal yang berjalan di luar perkiraan. Aku juga mendapatkan keluarga baru yang menggemaskan-tapi-ngangenin.


It feels so GOOD to be a part of this team

Jadi, wajar jika aku sedikit kecewa dan kesal ketika tak seorang pun mengucapkan “happy birthday”. Duh, kita berenam ketemu tiap hari gitu loh.

Sejuta “jangan-jangan” memenuhi otakku.

Jangan-jangan, hubungan kami berenam memang sebatas tugas dan deadline. Jangan-jangan, aku saja yang merasa nyaman berada di Tim 6 karena kekeluargaannya. Jangan-jangan, hanya aku yang merasa dekat dengan mereka sementara mereka tak menganggapku demikian. Duh! Jadi bingung sendiri.

Ingin rasanya aku bertanya “ini beneran pada tega ga ngucapin ya? Hiks” *sambil ngesot ke pinggiran*.

Berhubung dari awal terbentuknya Tim 6 kami sudah sepakat untuk saling ga baper, jadilah aku mati-matian berusaha stay cool plus ga baper. :”) (Rama nih yang paling sering bilang, “jangan baper ya!”. Jadinya masuk ke otak deh. Hehehe)

Hari itu berlalu dengan cepat. Sepagian, kami sibuk dengan prioritas masing-masing. Kemudian dilanjutkan dengan rapat bersama biro-biro di universitas.

Mungkin kami berenam memang terlalu sibuk sehingga tak sempat mengucapkan selamat ulang tahun, ujarku di dalam hati.

Usai rapat biro, seperti biasa, kami kembali tenggelam dengan tugas masing-masing. Tiba-tiba saja, seseorang *aku lupa siapa. Hehe* mengusulkan untuk melakukan warnasari. Sebenarnya aku heran sih, mengapa mendadak dilakukan warnasari.

Singkat cerita, pada saat warnasari, kesalahanku yang rasanya tidak pernah kulakukan dibahas habis-habisan. Salah satunya yang kuingat betul, aku dianggap kurang sopan karena tidak pernah menyapa staff di BKAK (Biasanya, aku mampir ke BKAK untuk mencetak berkas). Pertama-tama, aku meyakinkan diri bahwa ini pasti hanya bercanda.

Namun, perlahan tetapi pasti, keyakinanku mulai goyah. Aku berupaya keras mengingat-ingat. Masa sih aku ga menyapa staff BKAK? Perasaan aku selalu senyum selebar tiga jari deh.

Dari biasa saja, kekesalanku mulai menumpuk tatkala Nelo tak henti-hentinya mengomeliku. Hiks. Karena mantan ketua tim basket ini termasuk orang yang selow, ocehan-panjang-kali-lebar-nya cukup membuatku jengkel sekaligus merasa bersalah. Tak puas mengungkit kesalahanku, ia bahkan mencelaku beberapa kali. IHH. KESEL BGT SUMPAH!

Diam-diam, aku jadi berpikir “Apa iya ya aku segitunya selama ini? Aaaaa.” #panicattack.

Aku nyaris meneteskan air mata ketika melihat wajah Aileen yang super serius. -___- Koordinator Tim 6 yang biasanya super sabar dan asik ini berubah menjadi monster yang menyeramkan. Apalagi kata-katanya yang singkat dan tanpa senyum “gue sih engga denger komplainnya langsung, tapi banyak yang bilang begitu soal elo.”

Belum lagi Rama yang tiba-tiba keluar dari ruangan karena merasa malas dengan perdebatan tersebut. Ia bilang, ia merasa tidak nyaman berada di Tim 6. Arrrgghhhh. Benar-benar bikin es-mo-si deh!

Kalau durasi “drama” tersebut diperpanjang sedikit lagi, pasti aku sudah benar-benar menangis karena kesal, sedih, sekaligus kecewa. Arrrghhhhh. :”) Kesal karena dimarahin, sedih karena performaku yang buruk, dan kecewa karena kami berenam tidak seerat yang kupikirkan.

Cieeee. Akhirnya diucapin “happy birthday” juga setelah berharap sekian lama

Untunglah, tepat sebelum aku menangis, Gogo dan Rama masuk ke ruangan sambil membawakan kue ulang tahun lengkap dengan lilin yang sudah menyala. HEHEHEHE.
Kalian bener-bener ngegemesin sekaligus ngangenin ya!

Happy birthday to me. Happy birthday to me. Happy birthday, happy birthday. Happy birthday to me. Yeaaah! *saking stressnya*

Usai mengucapkan wish, aku meniup lilin dengan perasaan super legaaaaa. Kue-coklat-pilihan-JE tersebut kemudian dinikmati bersama di BKAK sambil menceritakan “drama” yang baru saja terjadi. Oh ya, selain Mbak Atink, Ibu Wid, dan Mas Vicky, ada juga Pak Ferdian yang tengah berkunjung ke BKAK.

Setelah puas makan kue di BKAK, kami berenam pun kembali ke ruangan, berencana mengerjakan tugas yang belum tersentuh. Aku berani bertaruh, wajahku pasti super lecek. Ini pasti akibat perpaduan panik-stress-dan-khawatir.

Baru sebentar aku bernapas lega. Tiba-tiba saja Nelo menyiramkan kuah locupan sisa makanan Aileen ke rambutku. Kalimat yang terlintas di pikiranku hanya “Buset deh. Ini amis banget baunya. Mana baru keramas lagi”.

Ingin rasanya aku menyiram Nelo dengan segalon sup jagung Ayam Happy *loh, kok malah inget makanan di kantin ya?! Hehehe*.
Dendam kesumat untuk bales nyirem dengan segalon sup jagung Ayam Happy
Entah bagaimana, Aileen, JE, Gogo, dan Rama sudah lenyap dari pandangan. Rupanya mereka “menghilang” ke dalam ruang kerja dalam sekejap. Pintu ruangan dikunci dari dalam. Tersisalah aku, Nelo, dan dendam kesumat untuk membalasnya dengan tindakan yang lebih jahat nan kejam. *evil laugh*

Setelah mengetuk berulang kali, pintu akhirnya dibuka. Gogo dengan sigap menarikku ke parkiran motor (Btw, aku bener-bener ditarik tanpa perlawanan loh! Gogo luar binasa. HAHA). Tanpa ragu, Rama menyiramku dengan segelas kopi hitam. Arrrrghhh.

Lengkap deh perpaduan rasa asin kuah locupan dengan pahitnya kopi.

Sambil disiram kopi, aku sempat mencipratkan sisa kuah locupan ke sekelilingku. Maksudku sih ingin membalas Nelo dan Rama. Sayangnya, malah kena JE. HEHEHE. *maaaafkan saya, Mami Kokons*
Muka bloon-nan-dodol setelah disiram kuah locupan campur kopi

Saat aku meraba rambutku, cincangan daging ayam sekali-lagi-perlu-diperjelas-kalau-itu-sisa-makanan-Aileen menempel di kulit kepala. Aroma kopi tercium jelas dari sekujur tubuhku. Benar-benar menjijikkan. -___-

Dengan terpaksa, aku mencuci rambut di kamar mandi sambil berupaya keras agar air tidak mengalir ke softlense. Untuk pertama kalinya, air berwarna coklat bekas siraman kopi mengalir dari rambut hitamku. Untuk pertama kalinya pula, aku mencuci rambut TANPA sampo dan mengeringkannya TANPA handuk.
Hasil editan JE. Hehehe.

Anyway, terima kasih untuk surprise-nya, Tim-6-kesayangan. :* :3 Terima kasih udah bikin (agak) baper. HEHE. Terima kasih untuk kuah locupan dan kopi hitamnya. It really MEANS a lot to me.

I love you all to the moon and back.

Let’s do OUR VERY VERY VERY BEST for Pengenalan Kampus 2016! Bright, bright, bright! J


Kecup mesra,
Sekretaris-Tim-6-yang-cerewet




Sabtu, 28 Mei 2016

5 Hal yang Bikin Susah Move On dari Mantan yang Setia Menggunakan Commuter Line


Gambar via bumn.go.id

Peringatan :
Membaca artikel ini dapat menyebabkan gagal move dari mantan yang setia menggunakan Commuter Line serta rasa galau selama beberapa saat.

Pacaran yang awet dan langgeng pastinya merupakan impian setiap pasangan. Duh, ga kebayang deh gimana rasanya malam minggu tanpa pacar atau sehari tanpa chat dari si dia. Sayangnya, ga semua hubungan bakal berjalan mulus seperti jalan tol. Pasti ada aja “kerikil” di sepanjang perjalanan tersebut. Beberapa “kerikil” terasa mudah untuk dihadapi. Namun, tak sedikit “kerikil” yang sulit untuk dilalui bersama *tsaaah*. Akhirnya, dengan berat hati, kata putus pun terucap.

Kalau sudah putus, move on merupakan pr terberat yang wajib segera dituntaskan agar tidak menimbulkan komplikasi lebih jauh seperti galau sepanjang hari akibat kenangan manis yang tersimpan di dalam memori *tsaaah*. Percaya deh, ngomong move on itu 300% lebih gampang dibandingkan melakukannya. Apalagi kalau si mantan merupakan pengguna setia commuter line. Dijamin, proses move on akan menjadi 300% lebih sulit daripada biasanya. :P


Ini dia 5 hal yang bikin kita susah move on dari mantan yang setia menggunakan commuter line. 

Naik kendaraan umum? Siapa takut!
Transportasi umum kesayangan si dia
Via jakartabytrain.com
Punya pacar yang siap diajak bersusah payah menggunakan kendaraan umum merupakan anugerah yang istimewa. Eiiits, jangan salah, hari gini, banyak loh pacar yang ogah-ogahan kalau diajak naik Transjakarta atau angkot. Ada juga pacar yang ngomel-ngomel panjang kali lebar ketika pasangannya ga membawa kendaraan pribadi. 

Nah, kalau si dia sudah terbiasa menggunakan Commuter Line, kita bisa menarik napas lega karena dia ga akan protes ketika naik kendaraan umum merupakan satu-satunya pilihan yang  ada. Ga ada tuh namanya bad mood gara-gara capek berdesakan di kendaraan umum. Ups, jadi kangen sama si mantan yang ga ribet ini. Hehehe.


Punya kesibukan A-Z? Jangan khawatir, si dia sudah terbiasa untuk mengalah dan memahami #cieee 
Tempat duduk yang menjadi impian semua pengguna Commuter Line di waktu pergi dan pulang kantor
Via bintang.com
Berdesakan di Commuter Line merupakan hal yang sangat lumrah pada waktu pergi dan pulang kantor. Mendapatkan tempat duduk merupakan keajaiban yang sangat jarang terjadi. Sekalinya dapat tempat duduk, pasti pantat langsung menempel layaknya perangko dengan surat.

Untungnya, si dia sudah terbiasa mengalah ketika ada orang tua atau ibu hamil yang lebih membutuhkan tempat duduk tersebut. Eits, ga semua orang loh mau berbesar hati untuk mengalah dan memberikan tempat duduk (yang menjadi impian semua pengguna Commuter Line #lebay #abaikan) kepada orang lain. Pacar yang ga egois dan pengertian pasti merupakan kriteria kita.

Karna sudah terlatih untuk mengalah, pastinya si dia ga akan keberatan ketika kita sibuk mengerjakan tugas atau belajar untuk kuis. Dijamin, kita ga perlu khawatir dia bakal ngambek ketika kita sibuk mengajar les atau ikutan ekskul di kampus. Sama orang yang ga dikenal aja dia mau ngalah, apalagi dengan kita yang sudah dikenal selama berabad-abad dan mengisi relung hatinya selama ini. #ups


Kata maaf selalu tersedia untuk kesalahan dengan kadar sewajarnya.
Padatnya stasiun akibat keterlambat Commuter Line
Via tempo.co
Jadwal Commuter Line yang selalu on time merupakan hal yang mustahil bagaikan turunnya salju di Indonesia. Ga heran, si dia sudah terbiasa dengan kalimat “mohon maaf kenyamanan Anda terganggu karena Commuter Line terlambat datang”. Tentunya keterlambatan semacam ini bukan terjadi sekali dua kali :P.

So, jangan khawatir si dia bakal ngambek seharian karna kita lupa tanggal anniversary atau terlambat menjemputnya. Kalau Commuter Line yang suka terlambat aja diberikan kata maaf, apalagi kita yang hanya sekali-kali lupa. Aduh, jadi makin galau keinget sama mantan yang satu ini. :”)


Say no to ngerebut pacar orang lain.
Yuk, dahulukan penumpang yang turun terlebih dahulu
Via twitter.com
Kalimat “Dahulukan penumpang yang turun terlebih dahulu” pasti ga asing di telinga pengguna Commuter Line. Setiap pintu Commuter Line terbuka di stasiun, seringkali penumpang yang berada di luar memaksa masuk ke dalam. Padahal, penumpang yang ingin turun dari dalam kereta belum melangkah keluar sama sekali.

Peristiwa-peristiwa semacam ini nih yang membuat si dia (a.k.a si mantan yang menggunakan commuter line) terlatih untuk bersabar. Kesabaran ini diuji banget ketika ada pengguna Commuter Line yang dorong-dorongan saat keluar pintu kereta. Selain sabar, pacar juga terbiasa untuk ga rebutan. Nah, kalo naik kereta aja ga rebutan, mana mungkin sih dia ngerebut pacar orang lain (atau selingkuh di belakang).
Sayangnya, status pacar itu sudah berubah jadi mantan sekarang. L


Datang tanpa dijemput, pulang tanpa diantar.
Si dia yang siap menempuh perjalanan bersama Commuter Line
Via skyscrapercity.com
Sebagai pacar, kita tentu pengen selalu menjemput dan mengantar si dia pulang. Sayangnya, pasti ada momen dimana kita ga bisa melakukan hal tersebut. Jangan takut si dia bakal bete seharian cuman karna hal “sepele” tersebut. Tenang aja, si dia sudah terbiasa kok menggunakan Commuter Line sebagai teman perjalanannya.

Sifat mandiri sudah pasti menjadi bagian dari kepribadiannya. Selain mandiri, si dia terbiasa menghadapi situasi yang tidak nyaman. Misalnya aja nih, padatnya lautan manusia di dalam kereta atau berdesakan di stasiun. Siapa sih yang ga bangga punya si dia (baca : orang spesial) yang mandiri dan tangguh? J


So, jangan heran kalau kita susah move on dari mantan yang setia menggunakan Commuter Line. Sikap pengertian dan serba mandiri yang melekat pada sosok mantan menjadi bagian yang sulit kita lepaskan. Belum lagi sikap dia yang asik, santai, dan fleksibel ketika diajak bersusah payah. Ups, jadi galau nih inget mantan.
Jadi, sudah siap belum untuk move on dari mantan yang menjadi Commuter Line sebagai teman perjalanannya sehari-hari? J


Note :

Heiii, viewers. Lega bgt rasanya bisa ngeluangin waktu untuk menulis lagi. Kangen juga ya menulis tanpa keharusan dan tanpa deadline. Hehe. Btw, please write your comments below. I would love to hear your opinion too. Terakhir, thank you sudah meluangkan waktu untuk membaca artikel ini. : )



With love,

Bella

Kamis, 12 November 2015

Walaupun terkenal cerewet, inilah 7 alasan mengapa anak komunikasi Atma Jaya adalah pilihan terbaik untuk menjadi pacarmu

Cewek-cewek kece anggota Majalah ALINEA bersiap melakukan reportase

Kuliah adalah salah satu masa paling menyenangkan dalam hidup. Dalam fase ini, kamu belum dipusingkan dengan urusan mencari uang. Namun, kebebasan untuk menentukan pilihan sudah berada di genggaman tangan. Salah satunya ialah kebebasan memilih pasangan hidup. ;)

Terkenal dengan tagline terpercaya kualitas lulusannya, Unika Atma Jaya merupakan gudangnya anak komunikasi yang terpercaya kualitas cintanya memiliki sejumlah skill kece. Walaupun sering disebut jago sepik doang, ternyata banyak pesona anak komunikasi Atma Jaya yang belum diketahui jomblo-jomblo di luar sana. 

Inilah 7 alasan mengapa anak komunikasi Atma Jaya adalah pilihan terbaik untuk menjadi pasangan hidupmu.

Berbagai tugas yang unik saja mampu ditaklukannya. Apalagi menakhlukkan hatimu yang rindu akan cinta?
Berdiskusi santai ala anak komunikasi Atma Jaya

Siapa bilang tugas anak komunikasi itu cuman membuat presentasi dan ngomong di depan kelas? Kalau cuman begitu sih, anak dari jurusan lain pun bisa *sombong*.

Dari mulai membuat laporan riset pemasaran yang serius sampai membuat meme yang lucu nan konyol, semua bisa dilakukan oleh mereka. Walaupun bukan expert di bidang perfilman, berbagai tugas menuntut kreativitas mereka untuk membuat video pendek yang menarik. Bisa dilihat bukan betapa tekunnya mereka mempelajari teknik mengedit video secara mandiri?

Nah, kalau berbagai tugas unik itu saja mampu dikerjakannya dengan penuh kesungguhan, bisa dibayangkan dong kesungguhan rasa yang ditawarkannya untuk kamu yang beruntung mendapatkan cintanya?


Setuju dong kalau kepedulian untuk meluangkan waktu demi kegiatan sosial adalah salah satu kriteria unyu yang harus dimiliki pacarmu?

Pasukan kampanye Stop Smoking tersenyum ceria di Car Free Day

Walaupun sering disebut sebagai anak yang gemar nongkrong, anak komunikasi Atma Jaya memiliki kepekaan yang tinggi terhadap lingkungan sekitar. Sadar akan bahaya yang ditimbulkan rokok, sejumlah anak komunikasi yang keren ini rela bangun pagi di hari Minggu untuk melakukan kampanye Stop Smoking. Sambil mengalahkan kantuk, mereka pun asik berkampanye supaya anak muda tak lagi bersahabat dengan tembakau.

Tentunya, masih banyak kegiatan sosial seru lainnya yang dilakukan anak komunikasi Atma Jaya. Mulai dari kampanye Stop Smoking hingga menghibur adik-adik yang kurang beruntung di panti asuhan. Nah, kalau mereka saja mau peduli dengan orang yang tak dikenalnya, apalagi dengan kamu yang memiliki tempat spesial di hatinya?


Kalau kamu adalah tipe orang yang mudah bosan, mereka adalah pasangan yang pasti membuatmu hari-harimu jauh dari kata jenuh. 
Berkreasi bersama di acara pengenalan mahasiswa baru komunikasi

Namanya juga pacaran. Pasti ada kalanya kamu merasa bosan dengan pasanganmu. Apalagi kalau hubungan kalian suda berusia lebih dari satu tahun. Namun, jangan khawatir soal rasa bosan jika kamu berpacaran dengan anak komunikasi Atma Jaya.

Bagaimana tidak, mereka dituntut untuk berpikir kreatif setiap saat. Untuk mereka yang mengambil jurusan corporate communication, mereka wajib menjaga citra perusahaan dengan cara-cara baru yang unik dan segar ala public relation. Sementara itu, mereka yang mengambil peminatan marketing communication selalu diminta untuk menemukan ide pemasaran cemerlang yang menarik perhatian konsumen. Kebayang dong betapa serunya melalui hari-harimu bersamanya?


Soal pergaulan, tak perlu dipertanyakan betapa eksisnya mereka.
Mahasiswa eksis nan unyu yang siap membantu kepanitiaan di program studi Komunikasi

Kalau kamu resmi berpacaran dengan anak komunikasi Atma Jaya, dijamin, pergaulanmu akan semakin luas. Bagaimana tidak, anak komunikasi memang terkenal pandai bergaul dan mudah memikat hati siapa pun. Sikap mereka yang ramah dan supel  membuat mahasiswa lain betah menjadi temannya. Pastinya, mereka tak akan segan memperkenalkanmu kepada teman-temannya. Siapa sih yang tidak mau punya banyak teman? ;)


Hari gini masih nunggu uang jajan dari orangtua untuk ngajak pacar malam mingguan? Tenang, hal itu tak akan terjadi jika kamu menjadi pacar anak komunikasi Atma Jaya.

Terlibat di berbagai kegiatan kampus? Siapa takut!

Selain pulang pergi kuliah, mereka aktif mengisi waktu luang dengan berbagai kegiatan kece nan produktif. Tak sedikit yang mati-matian membangun bisnis sendiri. Mulai dari online shop yang menjual buku bacaan impor hingga bisnis clothing yang sedang digemari kalangan anak muda. Tak melulu berkutat dengan diktat kuliah, mereka juga terjun aktif di bidang entertainment. Dari mulai menjadi MC ala sweet seventeen hingga bergabung dengan girl band yang eksis di sana-sini.

Hasilnya, mereka menjadi mandiri secara finansial. Walaupun belum bisa membayar kuliah sendiri, setidaknya mereka tidak bergantung dengan uang jajan demi mengajakmu bermalam mingguan.


Bercanda memang bumbu yang menyenangkan dalam suatu hubungan. Namun, ada kalanya kamu memerlukan orang yang bisa mendengarkanmu secara serius.
Warna almamater khas Unika Atma Jaya

Di sinilah kelebihan anak komunikasi Atma Jaya. Mereka bisa diajak bersenang-senang sekaligus merupakan pilihan yang tepat jika kamu membutuhkan seseorang yang bisa mendengarkanmu dengan sungguh-sungguh.

Tak heran, mereka memang sudah dilatih untuk bersikap fleksibel. Ada kalanya mereka berseru-seru ria membuat kampanye pemasaran yang asik nan gokil. Namun, ada kalanya mereka harus tampil formal dan serius untuk mempresentasikan ide di hadapan dosen. Nah, kebayang kan betapa asiknya memiliki pasangan yang bisa diajak seru-seruan sekaligus menatap masa depan bersama? ;D


Berpacaran dengan anak komunikasi Atma Jaya memberimu kesempatan untuk semakin mantap melangkah ke masa depan.
Senyum bahagia sekaligus lega panitia Kunjungan Media 2015

Tidak ada dalam kamus anak komunikasi untuk menjadi kupu-kupu (kuliah-pulang-kuliah-pulang). Daripada menjadi kunang-kunang (kuliah-nangkring-kuliah-nangkring), mereka memilih untuk mejadi kura-kura (kuliah-rapat-kuliah-rapat). Bisa dibayangkan betapa aktifnya mereka dalam berbagai organisasi di dalam maupun luar kampus.

Percaya atau tidak, mahasiswa yang aktif berorganisasi biasanya memiliki peluang kerja yang lebih baik dibandingkan mahasiswa yang sekadar duduk-diam-mendengarkan-dosen di kelas. Nah, bisa diramalkan dong betapa cerahnya masa depanmu bersama mereka?


Anak komunikasi Atma Jaya memang bukan manusia sempuna. Namun, kalau ditanya soal pacar idaman, jelas mereka adalah pilihan terbaik yang bisa kamu dapatkan sepanjang hidupmu. :D

Senin, 03 Agustus 2015

Missed Call



Kita mungkin sudah lupa rasanya berbagi cinta, begitu juga dengan rasa sakit yang tertinggal.

Layar ponsel yang berkedap-kedip memaksaku mengalihkan perhatian dari tumpukan artikel yang menyita segenap pikiran. Sebuah missed call mampir di layar ponselku, yang sudah delapan bulan lamanya diam membisu.

Sebuah nama yang tak asing, walaupun kini sudah menjelma menjadi sosok asing untukku, terpampang jelas di sana. Spontan, mataku mengerjap cepat. Jantungku berdetak dengan irama maraton. Sesuatu yang sudah lama tak kurasakan, kecuali ketika aku jumpalitan mengikuti pertandingan bulutangkis.

Tak salah lagi, beberapa huruf bertuliskan namanya masih terukir di tempat yang sama. Seolah memastikan bahwa aku tak sedang berkhayal di tengah deadline yang menumpuk.  

Tiba-tiba, aku teringat beberapa akun galau di timeline salah satu aplikasi chatting berwarna hijau muda. “Setahun yang lalu, kita bisa bercerita tanpa henti. Sekarang, jangankan bercerita, bilang ‘Hai’ saja aku berpikir seribu kali.”

Biasanya, aku tak peduli dengan foto-foto berisi kalimat galau khas anak muda itu. Namun, hari ini, khusus hari ini saja, kuakui, akun-akun yang selama ini kupikir tak ada gunanya itu ada benarnya juga.

Missed call itu memaksa otakku mengingat hal-hal yang rasanya tak ingin kuingat. Tanpa sadar, jemariku membuka beberapa percakapan kita, yang sudah lama berkarat di ponselku.  

Perasaanku campur aduk. Rindu itu menyergap begitu saja.

Sudah lama rasanya tak mendengar ucapan maaf dari bibirmu tatkala kamu selalu tertidur di tengah-tengah percakapan panjang nan seru. Sudah lama rasanya tak mendengar lelucon garing yang selalu mampu membuat aku tersipu malu. Sudah lama rasanya tak melirik jam dinding dan menunggu jarum panjang menunjuk angka tujuh, waktu dimana pemilik missed call tadi tak lagi disibukkan dengan rengekan anak kecil ataupun tugas yang sukses membuat kantung matanya semakin tebal. 

Ahh, rupanya memori itu masih tersimpan di benakku. Hanya menunggu waktu yang tepat untuk meronta dan keluar dari jeratan kata lupa.

Jemariku masih terus membuka sisa-sisa percakapan yang belum sempat kuhapus karena alasan kesibukan. Padahal, mungkin, aku sendiri yang tak ingin kehilangan jejaknya. Aku yang terlalu takut kehilangan bayang terakhir yang ia tinggalkan atas nama cinta.

Air mataku menetes tatkala mengingat masa-masa sulit yang telah berlalu. Ketika cinta tak lagi menjadi topik favorit kita. Digantikan dengan perdebatan yang sebenarnya tak perlu diucapkan. Sampai akhirnya, kita memutuskan untuk berselisih jalan dan mengambil rute yang berbeda.

Tak lama setelah berpisah, kita masih saling bicara, mencoba menanggalkan rindu yang masih bergelung. Aku masih ingat betul perasaan sedih yang harus kuhirup tatkala ia mulai memanggilku dengan nama panggilan yang sering digunakan teman-temanku. Tak ada lagi panggilan lucu nan unyu ala orang yang sedang jatuh cinta. Tak ada lagi tawamu yang terpingkal-pingkal kala menyaksikan film kartun ala Disney kesukaanmu.

Rasanya begitu gelap dan asing. Ketika itu, kita masih saling bicara walaupun hati meronta karena perubahan yang begitu drastis. Perubahan yang memaksaku untuk berhenti meletakkanmu di tempat yang spesial.

Setelah ribuan detik berlalu, aku belajar hidup tanpa warnamu. Perlahan, puluhan memori indah mulai membingkai perjalanan hidupku. Kesibukan yang menyita waktu setidaknya mampu memaksaku untuk berhenti menangis dan memulai hal-hal baru.

Kini, ketika missed call itu terpampang nyata di layarku, aku hanya dapat termenung dan menunggu. Terlalu takut untuk bertindak. Terlalu takut bahwa aku akan jatuh cinta lagi pada sosok yang sama. Terlalu takut bahwa rasa yang terpendam itu kembali muncul ke permukaan. Terlalu takut bahwa semua tak lagi sama.

Biarlah waktu yang menjawab semuanya. Antara aku dan missed call yang tak tentu maknanya itu.



Notes :
Hai semua :D Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali aku menulis karena aku memang ingin menulis (bukan karena deadline majalah atau tugas kuliah). Daaaaan .. .. .. *drumroll* rasa senang sekali bisa kembali menulis karena keinginan sendiri.

Oh ya, biasanya, setelah aku posting, pasti ada beberapa orang yang bertanya apakah ini berdasarkan pengalaman pribadi?. Sebelum ditanya, aku ingin menjelaskan kalau ini hanyalah fiksi semata. Yeah. :D

Btw, please your comment bellow. Its my pleasure to know your opinion about this. :D



With Love,
Bella 


Minggu, 29 Maret 2015

The Award Goes To ..

Without others, it is quite impossible to arrive at this incredible moment
Unknown

           Berdiri di atas panggung bersama 19 finalis lainnya merupakan salah satu momen terbaik seumur hidupku

Tidak mungkin rasanya menjadi 5 terbaik mahasiswa berprestasi UNIKA Atma Jaya 2015 tanpa bantuan yang (luar biasa) besar dari orang-orang di sekelilingku. Berkat dukungan mereka, aku dapat berdiri di panggung malam final mahasiswa berprestasi 2015.

Berikut ini adalah ucapan terima kasih (dari lubuk hatiku yang paling dalam *tsaaah*) kepada mereka yang telah mendorongku untuk terus maju dan berkarya. *peluk dan cium satu-satu*

Terima kasih kepada Pak Satria (wakil dekan III FIABIKOM) yang telah mendorongku untuk mengikuti pemilihan tersebut. Aku masih ingat betul bagaimana aku nyaris mengundurkan diri sehari sebelum deadline pengumpulan karena salah seorang temanku menunda keikutsertaannya dalam pemilihan mahasiswa berprestasi menjadi tahun depan. Tak hanya itu, beliau banyak berbagi cerita mengenai tema-tema karya ilmiah yang telah diangkat oleh mahasiswa berprestasi tahun 2013 dan 2014. Beliau jugalah yang tekun mengingatkanku untuk mengumpulkan berkas pendaftaran tepat waktu.

Terima kasih kepada Kak Andina yang telah memberikan banyak masukan dan saran selama proses pemilihan. Karya ilmiah merupakan sesuatu yang benar-benar baru bagiku. Aku belum pernah secara serius menggarap sebuah karya ilmiah. Pada kesempatan inilah aku ditantang untuk mencoba suatu hal yang baru. Aku bersyukur karena Kak Andina bukan sekadar dosen pembimbing karya ilmiah. Beliau juga banyak mengajarkan nilai-nilai baru dalam hidupku. Ketika aku berhasil masuk sebagai 5 terbaik, ia berucap seperti ini “saya senang kamu masuk 5 besar, tapi saya lebih seneng lagi kamu udah berhasil menaklukkan ketakutan bikin artikel ilmiah, ngomong di depan umum, jawab pertanyaa dewan juri, ngatasin grogi, dll. Karena pertarungan terbesar sepanjang hidup adalah melawan diri sendiri,”.

Terima kasih kepada Novi dan Piscok yang dengan senang hati mendukungku pada malam final (padahal seharusnya mereka mengikuti kelas Metode Penelitian Khusus pada pukul 16.00 sementara acara dimulai pada pukul 16.00). Kupikir, mereka akan pulang sekitar pukul 19.00 (acara selesai pukul 21.00) karena mereka harus naik angkot untuk sampai ke rumahnya masing-masing. Di luar ekspektasiku, mereka ada di ruangan tersebut sampai acara selesai. Tak hanya itu, mereka memberikan tepukan meriah saat aku tampil di panggung sambil bergulat dengan perasaan grogi. Bahkan, (menurut cerita Piscok), Novi sampai menangis tatkala namaku disebut sebagai 5 terbaik (semoga ini bukan tangisan karena bingung temannya yang hobi tidur di kelas ini terpilih menjadi 5 terbaik. :P).  Novi, Piscok, dan Claudia juga menyemangatiku dengan optimisme tingkat dewa setiap kali kukatakan bahwa aku hanya akan sampai pada babak 20 besar. Oh ya, terima kasih kepada Claudia karena berita mengejutkannya bahwa ia tidak bisa hadir di malam final  karena kekonyolan yang dilontarkannya via chatting bbm (setidaknya) mampu mengurangi rasa grogiku. Memiliki 3 orang sahabat seperti mereka merupakan keberuntungan yang langka seumur hidupku.

Terima kasih kepada Nico, adikku yang paling kece sedunia sekaligus lawan berantem paling seru karena ia dengan senang hati pulang sekolah lebih awal, menjemput semua sepupuku untuk hadir di malam final, dan (bahkan) menemaniku mencari kebaya. Walaupun cowok cuek ini sibuk bermain smartphone sepanjang menungguiku, ia benar-benar membantuku dalam memilih kebaya yang cocok untukku (mengingat aku adalah orang paling plin-plan di rumahku). Nico jugalah yang mengembalikan kebaya putih nan cantik tersebut ke tempat peminjaman, yang membutuhkan waktu perjalanan sekitar 40 menit untuk mencapai tempat tersebut.

Terima kasih kepada Koko Didi, Koko Ricky, Tommy, Cristal, dan Cita yang telah meluangkan waktunya untuk menyaksikan malam final mahasiswa berprestasi 2015. Berkat mereka, malam final yang tak terlupakan tersebut dapat didokumentasikan dengan baik. Khusus untuk Cita, terima kasih karena telah membawa sepatu wedges cadangan untukku. Tanpa sepatu tersebut, rasanya tidak mungkin aku dapat tampil dengan elegan di atas panggung karena tali sepatuku putus lima menit sebelum aku menaiki panggung. Anyway, terima kasih karena kita telah tumbuh besar bersama dan saling mendukung satu sama lain.

Terima kasih kepada Ci Noni, Kak Theo, Kak Bong, dan Stella (finalis mahasiswa berprestasi 2014) karena mereka dengan senang hati mengirimkan karya ilmiah mereka, yang kemudian kugunakan sebagai panduan dan contoh. Sebagai teman, Ci Noni begitu sabar menjawab berbagai pertanyaanku (dari yang penting sampai tidak penting) mengenai proses seleksi mahasiswa berprestasi. Begitu pula Kak Theo dan Kak Bong yang tidak hanya mengirimkan karya tulisnya, melainkan juga contoh karya ilmiah dari finalis 2014 lainnya.


 Before (kiri) & After (kanan)

Terima kasih kepada Ci Ketket yang telah mendadaniku dengan cantik sehingga aku bisa tampil kece di poster dan spanduk finalis mahasiswa berprestasi 2015. Memoles bedak, menggunakan eyeliner, menyapukan eye shadow (terlihat) menjadi hal yang amat mudah di tangan luwesnya. Berbanding terbalik denganku yang buat soal make up, Ci Ketket amat terampil menggunakan peralatan merias tanpa harus membuat wajahku terlihat menor.

Jeng jeng jeng ... Hasil karya Adit. 

Terima kasih kepada Adit yang telah mengambil fotoku untuk poster dan spanduk serta membuatkan video profil yang ditampilkan di malam final. Dengan gayanya yang kocak, aku bisa bergaya dengan begitu rileks di depan kamera. Ia juga tak segan mengulangi proses perekaman saat aku (dan finalis lainnya) merasa hasil rekaman tersebut belum sempurna. Tak hanya itu, Adit juga dengan senang hati berbagi softcopy file dari hasil pemotretan.

Terima kasih kepada Pak Daniel (karyawan di BKAK) yang telah memanduku untuk mengikuti tahap demi tahap yang harus dilalui. Tak hanya membantu, beliau adalah pribadi yang amat sederhana, ramah, dan sabar. Beliau amat telaten mengumpulkan dan mendata berbagai formulis yang harus diisi. Beliau juga banyak menjawab kebingunganku mengenai berbagai persoalan teknis yang harus kuhadapi.

Terima kasih kepada Ci Febby, Ko Arif, Edy, Lim, Willy, dan Wening yang turut mendukungku di hari H. Tak kalah romantis dengan hari Valentine, Ci Febby dan Edi menghadiahkan sekuntum bunga mawar untukku padahal aku tak mendapatkan setangkai bungapun pada hari valentine tahun ini *di situ kadang saya merasa sedih*. Terima kasih untuk Wening yang telah berbaik hati mendokumentasikan acara melalui kamera SLR-nya yang super canggih. Mengenal Keluarga Maha Buddhis Viriya Dharma adalah salah satu hal terindah di tahun 2015.

Terima kasih kepada teman-teman himpunan mahasiswa komunikasi yang telah meluangkan waktunya. Walaupun tidak hadir sampai acara selesai, Livi, Marvin, Hana, Monic, Friska, Vincent, dan Ferdinand menyuntikkan semangat agar aku terus maju dan menyelesaikan proses ini. Untuk Livi, terima kasih karena telah menemaniku via chatting selama proses make up dan mengajariku untuk selalui bersemangat dan terus mempelajari hal baru. Untuk Hana, terima kasih karena telah memberikan teladan bagiku untuk lebih bersabar dalam menghadapi masalah dan menjadi pribadi yang tulus. Untuk Marvin ketua himakom yang tidak pernah mendukungku selayaknya ketua himabi mendukung anggotanya yang menjadi finalis mahasiswa berprestasi, terima kasih karena mengajariku untuk menjadi pribadi yang tidak mudah menemukan alasan untuk tidak menyukai bahkan membenci orang lain. Untuk Vincent, terima kasih untuk segelas kopi yang tidak kuduga sebelum malam final.

Terima kasih kepada Erizka yang meluangkan waktunya untuk hadir di malam final. Melihat kerja kerasmu selama ini, aku berdoa semoga ia bisa menjadi Young On Top Campus Ambassador batch VI. Terima kasih kepada Saras dan Sesil yang sudah meluangkan waktu untuk datang ke malam final.

Terima kasih kepada Laura yang sudah mendukungku dengan kata-kata positif melalui chatting via line. Juga teman-teman lainnya yang sudah menyemangatiku melalui berbagai media yang ada. 

Terima kasih kepada Arvin, sesama finalis mahasiswa berprestasi, yang turut merasakan kebingungan dan ketakutan yang kuhadapi. Chatting via line dengannya mengenai karya ilmiah yang tak kunjung selesai ampuh mengurangi rasa stress. Karena mengenalnya, aku merasa memiliki teman senasib dan sepenganggungan. Sungguh suatu keisimewaan dapat mengenalnya dalam proses ini.

Terakhir, terima kasih kepada Mama, Papa, dan Popo yang selalu mencintaiku dengan tulus dan apa adanya. Walaupun tidak bisa hadir karena sedang pergi ke luar negeri, Mama dan Papa adalah dua sosok terpenting dalam hidupku. Aku ingat betul bagaimana mama terus menanyakan proses make up di hari H, memastikan kebaya yang cocok untukku, memberitakan kepada seluruh keluarga besar tatkala aku dipilih sebagai 20 finalis mahasiswa berprestasi, meminta adikku untuk mengantarjemputku di hari H, dan bahkan terus menanyakan perkembangan yang ada. Papa adalah sosok yang lebih pendiam dari Mama. Beliau tak pernah menanyakan secara detail persiapan yang harus kulalui. Kebangaannya padaku ditunjukkan melalui profile picture BBM yang memajang posterku sebagai finalis mahasiswa berprestasi.

Karena keterbatasan daya ingat, aku sungguh meminta maaf apabila ada pihak-pihak yang terlewatkan. Aku percaya, masih ada banyak orang lain di luar sana yang membantuku sehingga aku bisa menjadi 5 terbaik mahasiswa berprestasi. Tanpa mereka semua, mustahil rasanya berada di panggung yang istimewa di malam yang tak terlupakan tersebut. :”)


To be with them is the greatest pleasure in my precious life
Unknown


With Love,

Bella